Minggu, 21 Desember 2014

Ketika Aku Menjadi Kambing Congek

Mungkin sudah nasibku selalu menjadi orang ketiga, tapi bukan orang ketiga perusak hubungan orang loh ya…tapi orang ketiga perekat hubungan (emang lem, perekat). Dan selalu saja aku menjadi kambing congek atau obat nyamuk ketika aku menjadi orang ketiga (jelek bener perumpamaannya, hahaha), kasian kasian kasian.
Sebut saja namaku Thalita. Nama yang indah untuk ukuran cewek yang parasnya biasa banget kayak aku. Tapi aku bersyukur juga sih, namaku banyak menipu orang. Hampir setiap orang berpikir bahwa aku adalah cewek yang cantik, tapi kenyataannya, kagak…haha.
Ada beberapa alasan kenapa aku menggunakan istilah kambing congek. Pertama, kambing biasanya sangat bodoh dan mau saja mengikuti kemauan orang. Kedua, congek (maaf) merupakan kotoran kuping. Ketika kambingnya congek maka dia tidak akan mendengar omongan orang tentangnya. Ketiga, aku pikir kata-kata ini sudah umum digunakan untuk julukan orang ketiga di antara orang yang sedang pacaran.
***
Kasus pertama
Kelas 2 SMA merupakan masa puber bagi para remaja. Mereka baru terkena virus merah jambu tuh. Puncak-puncak masa puber nih ceritanya. Tapi bagiku, kelas 2 SMA itu masa-masa sibuk memikirkan organisasi dan pelajaran. Pokoknya aku harus menghasilkan prestasi, pikirku. Kapan lagi coba, kesibukan seabrek kayak gitu. Jadi, bagiku mana sempet mikirin sesuatu yang bernama “Cinta”.
Sebagai cewek yang agak tomboy, wajar saja kalau teman-temanku kebanyakan cowok. Tapi yang membuatku gregetan nih, ada beberapa temen cowok yang deketin aku karena hanya pengen menjadikanku kambing congek alias mak comblang jadi-jadian. Mereka tuh kayaknya gak tulus berteman denganku. Dibalik kebaikan mereka, selalu ada udang dibalik batu. Huft.
“Hai, Tha…gimana? Mau bantuin gak? Tolong ya….pliiiisss…..”begitulah cara mereka merayuku. Sebagai cewek yang menggunakan perasaan, aku mau aja dijadiin kambing congek. Aku selalu menjadi orang ketiga yang mempersatukan dua insan yang saling mencintai.
Saat kelas 2 SMA, aku deket dengan seorang cowok. Teman sekelasku sih. Kemana-mana bareng terus. Itu juga karena dia anggota OSIS yang divisinya sama denganku. Jadi, wajar saja aku selalu bareng terus dengannya. Aku juga punya teman deket cewek. Orangnya bukan orang yang aktif di organisasi OSIS. Tapi, anaknya sangat pinter melukis. Panggil saja namanya Tika. Anaknya sedikit pendiam dan tidak mudah bergaul dengan orang lain.
“Tau gak sih, si Thalita itu kayaknya jadian sama Deny.”begitu gosip yang beredar tentangku dan Deny. Teman seperjuanganku di OSIS.
“Iya, tuh, kemana-mana bareng terus. Kayak perangko aja.”kata salah seorang temanku yang kutahu namanya Rena.
Tapi kenyataannya adalah aku sama sekali gak jadian sama Deny. Dia hanya sebatas teman bagiku. Dan faktanya adalah dia ngedeketin aku karena ingin deket sama Tika, sahabatku. Aku sama sekali tidak peduli gossip tentangku.
“Tha, kapan aku bisa ketemu sama Tika? Kamu udah ngasih tau dia kan kalau aku pengen ketemu?”tanya Deny suatu hari.
“Udah. Hari Sabtu ini di rumahku. Okey…”jawabku.
“Okey lah… makasih ya Thalita sayang…”kata Deny. Kelihatannya dia sangat gembira saat itu.
  Beberapa hari kemudian, akhirnya Deny dan Tika bertemu di rumahku. Rumahku yang menyerupai gubuk kecil ini(ceileeeeh….merendah) menjadi saksi bisu drama penembakan yang diungkapkan oleh Deny kepada sang pujaan hati. Yah, semoga menjadi keluarga bahagia, sakinah, mawaddah wa rahmah. Hahaha… Ucapan yang tulus dari hati. Aku bahagia melihat kebahagiaan mereka.
Setelah drama penembakan itu, berhembuslah kabar bahwa aku dicampakkan oleh Deny karena aku bukan tipe cewek feminin seperti yang disukai oleh Deny. Deny lebih memilih Tika yang kalem dan feminin. Hampir sebagian besar teman-temanku membicarakanku. Apalagi Deny adalah orang yang cukup memiliki pengaruh dalam organisasi OSIS dan banyak dikenal oleh junior kami ataupun para senior. Dan begitu juga aku. Intinya, aku adalah korban yang dicampakkan saat drama penembakan itu. Padahal, sebenarnya nggak seperti itu. Aku hanyalah kambing congek yang baik hati. Hehe…
***
Kasus kedua
Setelah meninggalkan masa-masa remaja di SMU, tiba saatnya memasuki dunia kuliah. Semuanya berubah. Ketika masa SMU, kita terikat oleh peraturan sekolah dan keharusan untuk taat kepada guru, pada masa kuliah, kita diharuskan untuk kritis terhadap keadaan sekitar.
Masa-masa tersulit saat memasuki dunia kuliah adalah masa-masa ospek. Huft, sungguh sangat menyebalkan menyaksikan tingkah para senior yang sok banget, yang ternyata itu hanyalah akting belaka. Sebenernya konsep ospek itu simple banget. Kita hanya harus kritis terhadap apa yang ada di sekitar kita.
Saat ospek, orang yang pertama kali kukenal adalah seniorku yang setahun lebih tua dariku. Orangnya sangat baik dan murah senyum. Bahkan setelah ospek pun, aku menjalin hubungan akrab dengannya. Tapi hanya sebatas hubungan antara senior dan junior saja, tak lebih. Kami memiliki kesamaan yaitu sama-sama suka membaca buku bergenre detektif. Itulah yang membuat hubungan kami terlihat dekat.
Panggil saja seniorku itu Faiz. Yah, kalau dilihat dari namanya sih, orangnya itu alim banget. Tapi sebenernya kalau udah kenal orangnya biasa aja. Sekali lagi, gossip di kampusku pun beredar antara hubunganku dengan kak Faiz. Apalagi, aku sering bertanya padanya perihal mata kuliah, baik bertanya langsung maupun melalui SMS atau telpon. Semua teman-temanku mengira aku jadian dengan kak Faiz.
“Tha, tuh kak Faiz-mu lewat. Di samperin gih.”kata Desty, teman akrabku.
“Hahaha…iya, ntar ku samperin. Mau nitip salam gak?”kataku bercanda. Aku hanya bisa tersenyum saja dengan berbagai gossip yang beredar mengenai aku dan kak Faiz.
“He’em…ada yang lagi fall in love nih.”goda Fina, yang juga merupakan teman akrabku.
“Yee…kagak ya. Biasa aja kali.”elakku.
Tiga bulan berlalu setelah aku menjadi seorang mahasiswa. Hubunganku dengan kak Faiz biasa saja. Tak ada yang spesial. Aku pun hanya menganggapnya sebagai seniorku saja. Lagi pula, feeling ku mengatakan bahwa kak Faiz berusaha dekat denganku karena dia mengincar salah satu kawan akrabku, antara Desty atau Fina. Yah, mengulang kasus-kasus yang pernah terjadi padaku sebelumnya, aku menjadi kambing congek.
Dan ternyata benar dugaanku. Ternyata memang benar kalau kak Faiz ingin mendekati Fina. Dia terus menerus menanyakan tentang Fina kepadaku. Sebagai calon kambing congek (sadis bener kata-katanye, hehe), aku selalu mempersiapkan jawaban terbaik untuk melanggengkan hubungan calon pasangan baru itu.
“Fina itu orangnya baik, kak. Di kelas paling pinter.”kataku ketika kak Faiz bertanya tentang Fina. Nampak-nampaknya, insting mak comblangku bener nih. Dan ketika Fina bertanya tentang kak Faiz padaku, maka aku pun menjawab hal yang baik tentang kak Faiz.
“Kak Faiz orangnya ramah. Suka nolongin orang.”kataku.
“Kamu beneran gak ada hubungan apa-apa dengan kak Faiz?”tanya Fina lagi untuk yang kesekian kalinya.
“Beneran, Fin. Aku kan udah ngomong berkali-kali.”jawabku.
“Baguslah kalau gitu.”
Sebenarnya aku sudah tau hubungan mereka sejak awal. Apalagi ketika Fina meledekku dengan kak Faiz. Dari raut wajahnya terlihat kalau dia itu memiliki perasaan yang sama dengan kak Faiz. Dan seperti biasa, akulah kambing congek kesepian yang menyatukan hubungan mereka berdua. Ketika kak Faiz ingin mengatakan sesuatu kepada Fina, akulah orang yang menyampaikannya. Dan begitu pula sebaliknya. Akulah kambing congek yang juga berperan sebagai burung merpati penyampai pesan.
Bagi orang yang tidak mengenal Thalita, mereka akan mengasihaniku. Mereka akan beranggapan bahwa aku adalah orang yang dicampakkan.
“Sungguh malang nasibmu, Thalita. Selalu saja kamu menjadi kambing congek.”ledek Desty.
“Hahaha…iya neh. Kasian bener aku…”kataku datar. Sebenarnya ada perasaan jengkel juga aku diledek seperti itu, seakan-akan aku selalu berada di posisi orang ketiga. Cowok yang deketin aku hanya ingin menggunakan jasaku sebagai mak comblang. Emang dasar nasib…hehe.
Dengan bantuanku (sombong bener), akhirnya Fina dan kak Faiz jadian. Hampir seluruh orang di kampus tau. Jadilah aku bahan pembicaraan. Seperti biasa aku selalu dijadikan objek yang dicampakkan. Untung saja aku terbiasa dengan keadaan yang seperti itu. Jadi, aku bisa menghadapinya dengan santai. Rumor tentang putusnya hubunganku dengan kak Faiz beredar dengan cepat di kampus, apalagi kampusku tidak terlalu besar. Gossip beredar secepat kilat menyambar (lebay). Namun, gossip itu pun menghilang seiring dengan berjalannya waktu. Yang penting cuek aja. Cuek is the best…haha….
***
Kasus ketiga
Sudah setahun aku menjalani kehidupanku sebagai seorang mahasiswa. Sungguh menyenangkan dengan kesibukan yang seabrek, sibuk kuliah dan organisasi baik dalam maupun luar kampus. Waktu terasa berlalu dengan begitu cepat. Aku tetap pada tujuanku untuk mencari ilmu. Bodoh amat dengan anggapan orang tentangku, tentang sifat cuekku, baik dalam hal penampilan maupun dalam hal lain. Cuek is the best, itulah yang selalu kupegang selama ini.
Di tahun keduaku menjalani masa kuliah, gossip pun beredar lagi tentangku. Susah ya menjadi orang yang jadi pusat perhatian, tak bisa jauh dari gossip. Biasa…artis kampus, haha. Aku memang dekat sama seorang cowok, teman sekelasku. Hmm…wajahnya sih lumayan menurut orang-orang, tapi menurutku biasa aja. Mungkin gara-gara sering bareng, jadi ngeliatnya biasa. Katanya sih, wajahnya mirip salah satu artis Indonesia gitu, hmmm lupa euy namanya siapa. Hee…
Hengky, itulah nama cowok itu. Kalau orang-orang tidak mengenal dia, pasti orang akan mengira kalau dia anaknya cool dan pendiam. Dia memang membatasi diri untuk berbicara kepada orang, apalagi kepada cewek. Entah mengapa. Tapi nggak tau juga kalau sama aku orangnya jadi cerewet. Sebagai teman yang baik, tentu aku menanggapi saja tingkahnya itu.
“Gila ya…ternyata kamu tuh cowok yang cerewet juga. Gak seperti perkiraan orang-orang.”kataku suatu hari.
“Hahaha… pikiran mereka aja yang terlalu picik. Melihat orang dari cover nya aja. Mereka gak tau aja dalemnya kayak gini ni…”
“Ya, ya,ya…paham-paham…”
“Kamu paham apa ?”
“Paham semuanya. Hehe…”kataku cekikikan.
Berteman dengan Hengky pun menurutku menyenangkan. Bisa diajak diskusi mengenai beberapa hal. Apalagi background nya juga mendukung. Anaknya sebenarnya supel dan mudah berteman, namun dia lebih banyak diam terhadap orang yang belum dia kenal ataupun dengan orang yang belum akrab dengannya. Ketika orang lain berusaha akrab dengannya, maka dia akan membuka diri.
Ketika di dalam kelas, saat semua orang sibuk dengan pembicaraan mereka masing-masing, aku dan Hengky pun sibuk dengan obrolan kami. Dia akan tertawa lepas di hadapanku dan membuat semua orang dalam kelas terperangah dengan tingkahnya itu. Jadi, wajar saja jika orang-orang mengira kami ada hubungan khusus, padahal sebenarnya aku tak lebih dari temannya.
Ingat dengan Desty, kawan akrabku? Ya, sebenarnya Desty lah yang menjadikan hubunganku dengan Hengky lebih dekat. Disamping Desty adalah kawan akrabku, sebenarnya Hengky diam-diam juga menjalin hubungan dengan Desty. Dan kasus lama pun terjadi lagi padaku. Sudah merupakan nasib bagiku, yang selalu menjadi kambing congek. Ketika Desty dan Hengky sedang mengalami masalah dalam hubungan mereka, jadilah aku kambing congek yang senantiasa menjadi penengah antara mereka berdua. Akulah yang menyelesaikan masalah antara mereka berdua. Ketika keadaan kembali normal, seperti biasa akulah orang yang dituduh memiliki hubungan khusus dengan Hengky.
Aku cuma tersenyum ketika ledekan orang bertubi-tubi menyerangku. “Cie…Thalita, beruntung banget bisa ngedapetin cowok cakep kayak Hengky. Selamat ya…”ledek Tya yang kutahu kalau dia sebenarnya juga menyukai Hengky. Aku hanya bisa tertawa garing mendengar semua ledekan-ledekan itu. Kayak anak SMA aja, masih ada aja tuh yang namanya ledek-ledekan.
Di mata orang, Hengky adalah cowok idola di kampus. Cowok cakep yang bawaannya motor ninja berwarna hijau. Cukup lumayan penampilannya, selalu rapi dengan kemeja kotak-kotaknya. Tak ada yang menyangka cewek model sepertiku yang urakan dan tomboy bisa deket dengan orang seperti Hengky. Ya iyalah, mereka ngiranya aku jadian sama Hengky, padahal aku hanyalah kambing congek super baik yang menjadi mak comblang antara Hengky dan Desty. Bukan cuma Hengky aja yang menurut orang lain berparas lumayan. Desty pun memiliki paras yang cantik. Jadi, pasangan yang serasilah. Jadilah aku kambing congek buruk rupa nan baik hati yang menyatukan mereka berdua.
Tak ada yang menyangka ketika orang-orang mengetahui kebenaran yang sebenarnya bahwa Desty lah yang memiliki hubungan khusus dengan Hengky, bukan aku. Seperti biasa, aku menjadi orang yang tercampakkan. Dan otomatis, pusat pembicaraan seluruh kampus beralih ke Desty dan Hengky. Desty yang cantik dan Hengky yang cakep.
“Ya iyalah…Hengky pasti lebih memilih Desty daripada Thalita. Desty kan cantik, sedangkan Thalita biasa aja. Tomboy banget lagi. Mana mau Hengky dengan orang kayak dia.”
Begitulah obrolan tentangku yang tak sengaja kudengar di dalam toilet. Sungguh sangat menyakitkan sih. Tapi sekali lagi aku memegang prinsipku, Cuek is the best. Toh kesuksesanku juga tidak ditentukan oleh mereka. Beginilah nasib ketika aku menjadi kambing congek selama bertahun-tahun. Hanya satu penyebab kenapa aku selalu menjadi kambing congek. Tomboy. Itu aja.
***
 Tahun berikutnya, usai liburan aku memutuskan untuk merubah sesuatu dariku. Sesuatu yang dikenal dengan istilah “Tomboy”. Semua warga kampus terperangah dengan penampilan baruku. Untuk pertama kalinya aku mengenakan rok ke kampus. Kesan tomboy yang melekat pada diriku pun tiba-tiba menghilang. Gilaaaa…..ribet banget pakai rok. Gak biasa euy. Kesan miring tentangku masih terus terdengar, tapi tetap saja cuek is the best.
Sejak saat itu, aku mulai memperbaiki diri. Aku mulai menghargai diriku dan aku pun mulai menerima kodratku di hadapan Allah sebagai seorang cewek. Keadaan keluargaku lah yang membuatku menjadi cewek tomboy yang kehidupannya gak karuan. Tapi aku tidak pernah menyesalinya karena justru itulah yang membuatku menjadi cewek mandiri yang berusaha tegar dengan berbagai cobaan (he’em, sambil mengepalkan tangan dengan bersemangat).
Gelar kambing congek yang kusandang pun lambat laun memudar. Tak ada lagi Thalita, si kambing congek baik hati yang siap mempersatukan kedua insan. Aku memang tak terlalu memikirkan hal itu. Aku harus menjadi diriku yang baru, seorang Thalita yang mandiri dan low profile. Sifat cuek belum hilang pada diriku. Tapi justru sifat itulah yang menjadikanku bertahan hingga semua orang lelah membicarakanku.
Aku bersyukur dengan semua gossip miring tentangku. Tanpa gossip yang seperti itu, hati kecilku tidak akan tergerak untuk merubah pendirianku dan menjadikanku menerima kodrat sebagai seorang cewek. Ternyata semua yang ada di dunia ini, kejadian, nasib dan takdir, semua ada hikmah di balik itu. Bagus juga nih, judulnya di ganti menjadi “Hikmah menjadi kambing congek”, hahaha…
Itulah akhir kisahku ketika aku menjadi kambing congek. Ya, datar aja sih, tapi cukuplah buat dijadikan pengalaman hidup. ^_^

By Fakhriyah

Selamat Hari Ibu


Semuanya heboh hari ini, tanggal 22 desember 2014. Semua heboh mengucapkan "Selamat hari ibu" kepada ibu mereka masing-masing. Tapi, apakah kasih sayang kita kepada Ibu hanya diucapkan dan dilakukan pada hari ini saja? Tentu saja, jawabannya tidak. Jadi, menurutku, tidak ada yang namanya selamat hari ibu, karena setiap hari kita seharusnya memberi kasih sayang yang melimpah kepada sang Ibunda kita tercinta. :)

Pangeran Tikus dan Cinderella Sendal Jepit (eps terakhir)

“Eh, tadi loe mimpi ketemu pangeran ya?”kata Vira saat mereka sedang menikmati makan siang di kantin, siang itu.
“Pangeran apaan? Yang ada gue ketemu sama tikus got.”
“Hah? Pangeran loe berubah jadi tikus got? Hahaha…cocok banget.”Vira tak dapat lagi menahan tawanya. “Biar gue tebak, loe jadi Cinderella sendal jepit kan? Hahahaha…..”
Kok Vira tau sih? Sebel gue…
“Berhenti nggak loe, ngetawain gue.”teriak Anis.
“Cocok banget dah… hahaha”kata Vira masih tertawa keras.
“Cocok apanya?”
“Pangeran Tikus dan Cinderella Sendal Jepit. Sempurna….”
“Huh…bukannya nolongin gue nyari tuh sendal keramat loe malah ngetawain gue.”kata Anis jengkel.
“Iya, iya…gue bantuin abis pulang kuliah. Puas?”
“Banget…haha…”
***
“Bu…sendal Anis udah ketemu belum?”kata Anis setibanya di rumah. Dia memasuki rumah diikuti oleh Vira.
“Belum tuh. Udahlah Nis, beli yang baru aja. Tadi udah dicari kemana-mana tapi nggak ketemu.”kata Ibunya.
“Miko sama Rio mana, Bu?”tanya Vira kemudian.
“Eh, Nak Vira. Mereka lagi di kamar tuh.”jawab ibu Anis.
Rio keluar dari kamarnya saat mendengar Vira menanyakan mereka. Miko dan Rio memang lebih senang bermain dengan Vira dibandingkan dengan kakak mereka sendiri, Anis.
“Kak Viraaaa….”kata si kecil Rio langsung memeluk kaki Vira. “Kakak kesini mau maen sama Rio ya?”tanya Rio polos.
“Hmm…maafin kakak ya Rio. Hari ini kak Vira nggak bisa maen sama Rio. Kak Vira harus bantuin kak Anis nyari sendalnya yang katanya ilang.”kata Vira lembut. Raut wajah Rio langsung berubah, muram. Vira menjadi tidak enak. “Bentar ya. Kakak bantuin kak Anis dulu. Kalau sendalnya cepat ketemu, kak Vira janji bakal nemenin Rio maen.”kata Vira sebelum melangkahkan kaki menuju tempat Anis. Namun, Rio langsung mencegat Vira.
“Kak, tunggu.”
“Ada apa Rio?”
“Sini, kak. Rio pengen ngomong sesuatu.”kata Rio seraya menyuruh Vira mendekatkan telinganya ke mulut Rio. Vira pun membungkuk. “Sebenernya Rio yang menyembunyikan sendal bulukan kak Anis.”bisik Rio.
“Hah?”kata Vira.
“Sstt…”kata Rio sambil menempelkan telunjuknya di bibir Vira.
“Kenapa?”Vira balik berbisik.
“Kak Anis nggak mau lagi jogging bareng. Rio kesel.”
“Terus Rio menyembunyikannya dimana?”tanya Vira masih berbisik.
“Disana kak.”tunjuk Rio ke arah pohon mahoni rindang yang ada di depan rumah Anis.
“Hahaha…..”tanpa sadar Vira tertawa keras.
“Tapi kak, sendalnya kak Anis itu kayaknya udah nggak bisa dipakai. Mungkin digigit tikus.”kata Rio kemudian.
“Oke, makasih ya Rio.”kata Vira sambil tersenyum kepada Rio. “Aniiiiisssss….”teriak Vira kemudian. Namun, Anis belum juga kunjung datang. “Heh….Cinderella sendal jepit….kesini loe….cepet….”
Anis segera berlari kecil ke arah Vira. “Ada apa sih?”
“Kayaknya si pangeran tikus loe udah ngembaliin sendal jepit bulukan loe.”
“Mana? Mana?”tanya Anis tidak sabar. Vira pun menunjuk ke arah pohon mahoni tempat sandal itu digantung oleh Rio.
“Gue tau…pasti ini ulah cecunguk Rio. Huh, kesel gue sama tuh anak.”
“Udahlah, Nis. Yang penting, sendal keramat loe udah ketemu. Tapi….”
“Tapi apa?”
“Hahahaha…..”Vira tertawa. Itu membuat Anis menjadi bingung.
“Apa sih Vir?”
“Kayaknya sendal bulukan loe itu emang udah nggak bisa loe pake. Kata Rio sebelum dia gantungin tuh sendal di pohon, sendalnya udah putus. Digigit sama pangeran tikus loe kali…hahaha”
“Yaaaaaah…..”kata Anis sedih.
“Udah…ntar gue beliin yang baru. Gratis buat loe.”
Mendengar kata gratis, Anis langsung sumringah. “Bener? Hehehe…Sendal jepit yang nyaman ya…jangan yang bikin kaki gue sakit. Pokoknya loe harus nemenin gue nyari sendal yang cocok sama kaki gue. Sampe dapet.”
“Iya, banyak bacot…eh, tapi kenalin gue dong sama pangeran tikus loe. Siapa namanya?”
“Edric.”spontan nama itu keluar dari mulut Anis. “Eh…bukan…nggak…”cepat-cepat dia meralatnya. Namun, Vira malah semakin tertarik.
“Hah? Pangeran tikus loe beneran ada ya?”
“Nggak…ihh…gue jijik deh.”
“Jadi namanya Edric. Kayaknya cakep deh. Buat gue boleh nggak?”goda Vira.
“Ambil sono…jijik gue.”kata Anis.
“Makasih…loe baek deh Nis….hahaha….”
***
Akhirnya pangeran Edric tetap menjadi pangeran tikus selamanya dan dia tidak pernah menemukan Cinderella “sendal jepit”-nya yang tiba-tiba menghilang. Dan berakhirlah kisah Pangeran Tikus dan Cinderella Sendal Jepit (bulukan),…. The End….Tamaaaat….:D

By Fakhriyah

Pangeran Tikus dan Cinderella Sendal Jepit (eps 1)

Hari minggu yang cerah, langit biru terlihat sangat indah dengan goresan awan putih yang melintang, serta matahari yang bersinar tidak terlalu terik. Semua penghuni rumah terlihat masih mendengkur di tempat tidur. Mereka hanya terbangun saat adzan shubuh, kemudian sholat dan jatuh tertidur lagi.
Anis, cewek dengan kulit hitam manis, cewek satu-satunya yang ada dalam keluarga Hartanto. Anak sulung dari tiga bersaudara itu kini kuliah jurusan desain grafis semester tiga. Shubuh-shubuh sekali, Anis terbangun untuk sholat shubuh. Dia melangkahkan kaki ke kamar mandi untuk berwudhu, kemudian sholat shubuh. Masih dengan wajah yang basah karena air wudhu, Anis melaksanakan sholat shubuh. Setelah itu, dia tertidur pulas di atas sajadahnya tanpa melepaskan mukena yang digunakannya.
Alarm ponselnya berbunyi setengah jam kemudian. Pukul enam tepat. Dengan bermalas-malasan Anis mematikan alarm itu dan kembali mendengkur di atas sajadahnya. Namun, sepuluh menit kemudian alarm ponselnya pun berbunyi lagi.
“Berisik banget sih. Perasaan tadi alarmnya udah gue matikan deh”gumamnya. Ternyata tadi dia tidak menekan tombol mati di alarm ponselnya, tapi menekan tombol tunda. Sehingga sepuluh menit kemudian alarm itu akan berbunyi lagi. Anis bangun dan memperbaiki sajadah serta mukenanya. Lalu berbaring di tempat tidurnya lagi. “Hari minggu gini, jadi males ngapa-ngapain. Huh.”
Terdengar suara ketukan pintu dari luar kamarnya. Suara adiknya yang paling bungsu, Rio.
“Kak Anis….bangun….udah pagi….”teriak Rio.
“Hmm…bentar lagi.”kata Anis dari dalam kamar.
“Haduh, kak. Udah pagi nih. Jogging yuk kak.”
“Ajak Miko aja. Kakak masih ngantuk.”
“Kak Miko udah pergi dari tadi sama temen-temennya kak.”
“Ya udah, jogging sendiri aja sana.”kata Anis masih dengan bermalas-malasan.
“Kakak nggak asik.”teriak Rio sambil berlari meninggalkan kamar Anis.
Setengah jam kemudian, Anis baru bangkit dari tempat tidurnya, memperbaiki selimut dan kasurnya, kemudian mencuci mukanya. Dia masih belum berniat untuk mandi pagi, apalagi hari itu hari libur.
“Nis, tolong ibu…”teriak ibunya dari dapur. Anis bergegas ke dapur.
“Iya Bu. Ada apa?”
“Ada tikus got yang masuk ke dapur tadi.”kata ibunya.
Anis memang paling jijik dengan tikus got. Tikus yang berwarna cokelat dan ukurannya agak besar. Ihh…menjijikkan. Apalagi sejak kecil dia suka membaca buku petualangan Goosebumps yang menceritakan tentang cerita misteri yang harus dipecahkan sendiri  oleh pembaca. Terkadang, dalam memecahkan masalah itu Anis harus bertemu dengan sosok tikus yang sangat besar dan menakutkan, dan tentu saja Anis harus bersembunyi dari tikus itu. Dalam imajinasinya, tikus itu berwarna cokelat dan kotor dan sangat besar, dengan ekor panjang yang menjuntai, dengan dua gigi runcing yang tampak menonjol, serta mata hitam yang menakutkan, yang siap menyergap Anis. Untung saja itu hanya dalam imajinasi Anis saat dia berusaha memecahkan misteri Goosebumps.
“Nis, cepet…tikusnya lari ke halaman. Jangan biarkan tikus itu masuk kembali ke dalam rumah.”kata-kata ibunya membuyarkan lamunan Anis.
“Iya Bu.”kata Anis sambil berlari keluar rumah. Saat Anis akan mengenakan sendal kesayangannya, sebelah sendalnya hilang. Dia mencari-carinya di dekat keran air di halaman rumah, kemudian mencarinya di tempat sepatu, tapi tidak juga menemukannya.
“Bu, ibu liat sendal jepit Anis nggak?”
“Di rak sepatu nggak ada?”
“Nggak ada, Bu.”
Gimana nih, sendal kesayangan gue ilang… huaaahhh…..
***
“Vir, sendal kesayangan gue ilang nih. Cuma sebelah, sebelahnya lagi masih ada.”kata Anis kepada Vira di tengah-tengah jam istirahat. Vira adalah teman sekampus Anis yang juga sahabatnya.
“Udah loe cari?”ujar Vira.
“Udah, tapi nggak ketemu. Tapi gue heran, kenapa yang ilang cuma sebelah. Kalau dipake sama orang kan harusnya ilang dua-duanya.”
“Emangnya loe udah nanya seisi rumah? Siapa tahu mereka ada yang tahu.”
“Udah, si Miko sama Rio udah gue interogasi. Tapi mereka nggak ada yang ngaku. Gue sih cuma curiga sama dua cecunguk itu. Loe tau kan mereka jahil bin rese…”
“Hahaha…adek loe tuh Nis. Nggak boleh kayak gitu atuh.”
“Trus gimana lagi dong Vir. Gue yakin salah satu diantara mereka yang ngerjain gue. Awas aja kalo mereka ketahuan sama gue, gue libas dah kayak kecoak. Nggak ada ampun.”
“Wuidiiih…sampe segitunya. Sama adek ndiri juga.”
“Abisnya itu kan sendal kesayangan gue, Vir. Kaki gue tuh udah nyaman banget pake tuh sendal. Kalau beli yang baru sih, takutnya gue nggak nyaman pakenya, lecet lah ntar kaki gue. Susah nyari sendal yang pas sama gue.”
“Di ikhlasin aja, Nis. Sendal udah bulukan kayak begitu juga.”
“Enak aja. Loe tau kan ukuran kaki gue segede gajah gini. Susah nyari yang pas.”
“Jangan-jangan sendal jepit loe ketinggalan.”kata Vira kemudian.
“Ketinggalan dimana?”
“Hmm…di istana Pangeran kaliii….hahaha”ledek Vira.
“Wah…loe ada-ada aja, Vir. Bukannya loe bantuin mikirin cara nemuin tuh sendal keramat malah ngeledek.”kata Anis manyun.
“Iya, iya…gue bantuin. Tapi gue penasaran, kayaknya emang bener sendal jepit kesayangan loe tertinggal di istana pangeran. Haha…”
“Viraaaaaa…..”kata Anis sambil menjitak kepala Vira.
***

By Fakhriyah

Sabtu, 20 Desember 2014

Pangeran Tikus dan Cinderella Sendal Jepit (eps 2)




“Kembalilah sebelum lonceng tengah malam berbunyi, Nak.”kata peri gemuk itu. “Dan Bunda akan mengubah labu itu menjadi kereta kencana dan dua kelinci itu menjadi kuda.”
“Terima kasih, Bunda peri…”
Si peri gemuk kemudian mengubah labu menjadi kereta kencana dan dua ekor kelinci menjadi kuda. Sedangkan Cinderella dengan gaun pesta yang sangat indah dan sepasang sendal jepit –hei, harusnya Cinderella mengenakan sepatu kaca-  menaiki kereta kencana itu. Dapat dipastikan, Bunda peri yang sudah mulai pikun itu salah membaca mantera. Harusnya sepatu kaca, kenapa jadi sendal jepit >,<. Tapi Cinderella sama sekali tidak menyadari apa yang dikenakannya. Kereta itu pun melaju kencang mengantarkan Cinderella “sendal jepit” ke istana kerajaan EvanesMice yang sangat megah.
Istana itu dikelilingi oleh taman bunga yang indah, dengan patung mannequin piss berwarna putih tulang (patung anak kecil lelaki telanjang dengan sayapnya yang seperti malaikat) di tengah-tengah taman, yang sedang menyemburkan air mancur. Kereta kencana itu akhirnya tiba tepat di depan istana.
Semua orang yang hadir di pesta itu tengah berkumpul di tengah istana untuk mengikuti pesta dansa. Dengan gaun yang sangat indah dan sepatu high heels yang cantik, para gadis berusaha membujuk tokoh utama dalam pesta dansa itu, Pangeran Edric, putera mahkota kerajaan EvanesMice untuk berdansa bersama mereka. Namun, sang pangeran belum juga mau ikut berdansa bersama beberapa orang yang sudah asyik melenggak lenggokkan badan sambil mengikuti alunan musik klasik yang indah.
“Ayo, pangeran. Pilihlah gadis yang ada disini dan berdansalah bersama mereka.”kata Ratu Miriam kepada putranya.
“Hamba belum menemukan gadis yang tepat untuk hamba ajak berdansa, Ibunda. Selain itu, hamba juga akan berdansa dengan gadis yang akan menjadi pendamping hidup hamba.”kata Pangeran Edric, pangeran tampan dengan rambut perak keemasan, mata abu-abu yang menyejukkan, dan hidung mancung dan runcing, alis tebal berwarna sama dengann rambutnya. Kulitnya kuning susu, seperti susu putih kental manis sebelum dicampur dengan air panas (nyam..nyam…maknyuuusss :p).
Tiba-tiba saja pintu istana terbuka. Cinderella “sendal jepit” memasuki istana. Bagaikan video yang di pause, semua kegiatan terhenti, semua mata tertuju padanya, Cinderella yang cantik jelita dengan kulit hitam manis dengan gaun pesta yang sangat mencolok, dan….sendal jepit??? Semua orang melongo melihat sendal jepit bulukan itu. Namun, sang pangeran tidak peduli. Saat melihat Cinderella, pangeran langsung jatuh hati padanya. Pangeran Edric kemudian mengajak Cinderella untuk berdansa.
“Putri yang cantik, maukah kau berdansa denganku?”tanya pangeran Edric dengan halus.
“Tentu saja, pangeranku.”kata Cinderella sambil tersenyum.
Semua hadirin yang hadir di pesta itu terlihat sangat senang dan bahagia melihat sang pangeran telah menemukan tambatan hatinya. Mereka berdansa di lantai dansa dengan sangat indah, dan tanpa mereka sadari waktu telah menunjukkan tengah malam. Lonceng mulai berbunyi. Kembalilah sebelum lonceng tengah malam berbunyi, Nak, kata-kata Bunda peri terngiang di telinga Cinderella “sendal jepit”.
Mendengar lonceng pertama itu, Cinderella berhenti berdansa, kemudian berlari keluar menuju istana. Otomatis, pangeran terkejut dan langsung berlari mengejar Cinderella.
“Putri…mau kemana kah kamu?”tanya pangeran sambil terengah-engah mengejar Cinderella. Namun, Cinderella tetap tidak menoleh ke arah sang pangeran dan tetap berlari meninggalkan istana. “Hei, kamu belum memberitahu namamu, putri.”kata pangeran Edric kemudian. Tapi teriakan itu tetap tidak dihiraukan Cinderella.
Lonceng kedua mulai berdentang. Cinderella berlari melewati beberapa ruangan istana yang sangat luas dan menuruni tangga istana yang sangat panjang. Cinderella terjatuh di tangga itu, dan kemudian berusaha bangkit kemudian berlari lagi, namun sebelah sendal jepitnya tertinggal di tangga istana. Cinderella sama sekali tidak menyadari hal itu. Pangeran Edric berhasil mengejarnya sampai tangga istana, dan kemudian menemukan sendal jepit bulukan milik Cinderella.
“Ini pasti milik putri.”guman pangeran. “Aku harus segera menemukannya sebelum terlambat.”
Tidak seperti kisah Cinderella aslinya, kisah ini agak berbeda. Pangeran Edric kemudian berhasil mengejar dan menangkap Cinderella “sendal jepit” tepat di depan patung mannequin piss yang berdiri kokoh di depan istana. Pangeran tampan itu memegang lengan Cinderella, kemudian berkata, “Mau kemana kamu, putri? Jangan tinggalkan aku.” Setelah itu sang pangeran memeluk Cinderella sangat erat seakan tak mau melepaskannya lagi. Lho, kok pangeran malah bisa ngejar gue? Pasti ada yang merubah skenarionya neh. Harusnya kan pangeran cuma nemuin sepatu kaca –maksudnya sendal jepit bulukan, pemirsa- gue. Tapi nggak apa-apa deh, lumayan bisa dipeluk pangeran tampan, hehehehe :p.
“Tapi pangeran, aku harus pergi sebelum lonceng tengah malam berbunyi.”kata Cinderella saat Pangeran Edric melepaskan pelukannya.
“Kenapa? Kamu tidak suka padaku? Apakah aku kurang tampan untuk menjadi kekasih putri yang cantik jelita sepertimu?”tanya pangeran Edric dengan tatapan sedih.
“Bukan begitu, pangeran. Aku suka pada Pangeran Edric-ku yang tampan, tapi aku harus pergi, pangeran. Aku tidak bisa menjelaskannya padamu. Kumohon, biarkan aku pergi.”kata Cinderella kemudian.
Sekali lagi, pangeran Edric memeluk Cinderella erat. “Aku nggak akan melepaskanmu kali ini, putri.”gumamnya sampai kalimat itu tidak dapat didengar oleh Cinderella.
“Apa?”tanya Cinderella sambil berusaha melepaskan pelukan pangeran Edric yang semakin kuat. Dan, setelah meronta, akhirnya Cinderella pun terlepas dari pelukan itu. Kayak meluk boneka aja, nggak mau dilepasin, emang gue boneka? Huh…sesek juga neh gue dipeluk kayak gitu, gumam Cinderella.
Lonceng ketiga berbunyi, Cinderella harus segera meninggalkan istana itu sebelum Cinderella berubah seperti semula, di hadapan pangeran yang disukainya lagi. Tengsin abis… Tapi apa yang terjadi kemudian, pemirsa???
Setelah lonceng ketiga berbunyi, Cinderella sama sekali tidak berubah seperti semula. Dia tetap menjadi Cinderella yang cantik dengan gaun yang indah dan “sendal jepit”, tentunya –ah, kenapa harus sendal jepit sih? Merusak cerita aja neh.
“Wah, gue kok nggak berubah sih? Harusnya gue kembali jadi gadis miskin. Apa Bunda peri salah mantera lagi ya? Kayak tadi, Bunda lupa ngerubah sendal gue jadi sepatu kaca. Ah, baguslah kalo gitu. Gue akan jadi putri selamanya, dan pangeran Edric bakal tetep jadi pangeran gue.”katanya riang.
Tetapi, sesuatu yang aneh telah terjadi. Pangeran Edric dengan wajahnya yang sangat tampan, tiba-tiba saja mengerang kesakitan. Matanya yang teduh mulai membesar, hidungnya yang mancung semakin mancung, dan tumbuh bulu-bulu tebal hitam di wajahnya. Pantatnya mengeluarkan ekor yang tergulung. Badannya kemudian dipenuhi bulu. Rambutnya tidak lagi berwarna perak keemasan tetapi berwarna hitam legam. Cinderella sangat terkejut dengan peristiwa yang menimpa pangeran Edric-nya di depan matanya. Pangeran tampan-nya berubah menjadi…. hei, tunggu….menjadi….tikus got besar sama seperti dalam buku cerita  Goosebumps. Hiiiii…….menjijikkan.
Cinderella ingin berlari meninggalkan pangeran tikus itu. Dia paling tidak suka dengan tikus got. Namun terlambat. Pangeran itu menangkap Cinderella dengan tangannya yang basah dan berbulu. Cinderella merasa merinding. Pangeran itu kemudian menangkupkan tangannya ke wajah Cinderella. Cinderella merasa takut. Sosok bermata hitam besar itu, dan berbulu, hiii….kini berada sangat dekat dengannya.
“Bagaimana rupaku, putri? Apakah aku tetap tampan?”
“Nggak…nggak….nggak….”teriak Cinderella.
“Apakah karena wajahku begini, kamu mau meninggalkanku, putri?”tanya pangeran itu lagi dengan nada yang lebih tinggi.
“Nggak…nggak….nggak….”hanya itulah yang bisa dikatakan Cinderella di tengah ketakutannya. Dia sangat membenci tikus got, dan sekarang dihadapannya berdiri tikus got yang sangat besar. Pangeran-nya telah menjadi tikus got. Nggak mungkin, gue pasti lagi terhanyut dalam cerita Goosebumps, dan bentar lagi gue bakalan nemuin jalan keluarnya, dan kehidupan gue bakalan seperti semula. Atau akan ada alternatif lain yang buku itu tawarkan untuk mengembalikan masalah ini seperti semula, batinnya. Tapi ternyata dia sedang tidak membaca buku Goosebumps.
“Putri, maukah kamu menikah denganku?”tanya pangeran tikus itu kemudian.
“Nggak…nggak mungkin….kamu apakan pangeran Edric?”akhirnya Cinderella biasa bersuara lagi setelah kata “nggak” yang dari tadi keluar dari mulutnya.
“Aku pangeran Edric, aku pangeran-mu, putri…”kata pangeran tikus itu.”
“Nggak….”
***
“Nggaaaaaakkk…..nggaaakk mungkiiin……”teriak Anis ditengah-tengah mata kuliah Praktek Desain.
“Anis Calista Hartanto…”teriak dosen Praktek Desain-nya dari depan kelas.
Anis yang sedari tadi terbang bersama lamunannya akhirnya tersadar. Vira menyikutnya dan terkekeh pelan disampingya.
“Apanya yang nggak?”tanya dosennya lagi.
“Nggak ada apa-apa, Pak. Hehehe….”Anis nyengir.
“Lain kali, jika kamu menginterupsi di kelas saya, kamu akan saya hukum membuat grafik sebanyak dua ratus lembar portofolio.”
“Tapi pak…dua ratus lembar? Banyak banget.”
“Ya, dan dalam waktu sehari.”lanjut dosennya.
“Apa?”
“Jangan melakukan interupsi lagi, Anis, kalau kamu tidak mau menerima hukuman itu.”kata dosennya kemudian.
“I…iya pak.”
Sementara itu, Vira tetap terkekeh pelan disampingnya.
***

By Fakhriyah

Jumat, 19 Desember 2014

THE LAST STAR




Every place has a story and in this place, I have one that I want to tell. In this place, I was standing up, puffing up my chest, holding on the iron-wire fence in front of me, looking at the vast expanse of sea, and I saw toward the big city across the sea. The city was my home. The Light City, I named it.
In that city, I felt happy and sad at the same time. But, the light of city made me strong to face all of problems that came into my life. I have found many people in that city. They have been the stars in my heart. But, they shone just a moment, until I realized that what I need was not a star, but I need a sun which can enlighten my life.
Now, I will tell you about the stars. The first star, his name is Ul. For me, he was a friendly star and cared about me. He helped me to solve my problems. Unfortunately, I misinterpreted his care to me. I thought that he cared about me because he liked me. How silly am I. And when I realized it, the light of this star in my heart had been extinguished.
The second star, his name is Ad. He comes from my city. If you ask me about the coolest star that I have known, he is Ad. One thing which I like the most from this star, he always speaks straight to the point. Sometimes, I was embittered by his harsh words. But, I still miss him with that attitude, because it looked like he cared about me. But, one mores again, this star shone in my heart just a moment. At the end, his light would go away. I realized that his light was not for me, and it would never be mine.
The third star, his name is Red. This star has different life with mine. I lived at east and he lived at west. However, the differences between us made me interested to him. He gave me many surprises every day and tried to introduce me to his west life. Because we were very different, so, his light in my heart stopped to shine. Actually, there was one thing that we could not be tolerated in our differences, yeah, we had different faith.
The last star which have ever been in my heart, his name is An. He hurt me so much until now. According to my opinion, his light looks beauty if it is seen from the distance. But, if you get close to him, you will find that there is no light again. This star hurt me by his pretence. Yeah, he pretended to like me but actually he did not. For me, it was so painful. Until now, I am hurt so much. My heart is broken. His light has been extinguished by the time.
I want to show to the last star that I will find my sun immediately. I want he feel sorry because he hurt me so much and let his light in my heart disappear. So, I decided to be sturdy and strong, pretending if there is nothing happened. I don’t want to be a weak person in front of him, because I am okay without him. All I need is just my sun.
And here, I come back again to this place, I am standing up with my pride, looking at the Light City in front of me, trying to shout to the last star which have been there for long time. I want to tell him that if he look at me now, I am really really fine. Here, I am standing up, far away from the Light City, but everything is fine, because I always feel that my sun stays by my side for lightening my entire life. My beloved sun, his name is Al.

by Fakhriyah