Sabtu, 20 Desember 2014

Pangeran Tikus dan Cinderella Sendal Jepit (eps 2)




“Kembalilah sebelum lonceng tengah malam berbunyi, Nak.”kata peri gemuk itu. “Dan Bunda akan mengubah labu itu menjadi kereta kencana dan dua kelinci itu menjadi kuda.”
“Terima kasih, Bunda peri…”
Si peri gemuk kemudian mengubah labu menjadi kereta kencana dan dua ekor kelinci menjadi kuda. Sedangkan Cinderella dengan gaun pesta yang sangat indah dan sepasang sendal jepit –hei, harusnya Cinderella mengenakan sepatu kaca-  menaiki kereta kencana itu. Dapat dipastikan, Bunda peri yang sudah mulai pikun itu salah membaca mantera. Harusnya sepatu kaca, kenapa jadi sendal jepit >,<. Tapi Cinderella sama sekali tidak menyadari apa yang dikenakannya. Kereta itu pun melaju kencang mengantarkan Cinderella “sendal jepit” ke istana kerajaan EvanesMice yang sangat megah.
Istana itu dikelilingi oleh taman bunga yang indah, dengan patung mannequin piss berwarna putih tulang (patung anak kecil lelaki telanjang dengan sayapnya yang seperti malaikat) di tengah-tengah taman, yang sedang menyemburkan air mancur. Kereta kencana itu akhirnya tiba tepat di depan istana.
Semua orang yang hadir di pesta itu tengah berkumpul di tengah istana untuk mengikuti pesta dansa. Dengan gaun yang sangat indah dan sepatu high heels yang cantik, para gadis berusaha membujuk tokoh utama dalam pesta dansa itu, Pangeran Edric, putera mahkota kerajaan EvanesMice untuk berdansa bersama mereka. Namun, sang pangeran belum juga mau ikut berdansa bersama beberapa orang yang sudah asyik melenggak lenggokkan badan sambil mengikuti alunan musik klasik yang indah.
“Ayo, pangeran. Pilihlah gadis yang ada disini dan berdansalah bersama mereka.”kata Ratu Miriam kepada putranya.
“Hamba belum menemukan gadis yang tepat untuk hamba ajak berdansa, Ibunda. Selain itu, hamba juga akan berdansa dengan gadis yang akan menjadi pendamping hidup hamba.”kata Pangeran Edric, pangeran tampan dengan rambut perak keemasan, mata abu-abu yang menyejukkan, dan hidung mancung dan runcing, alis tebal berwarna sama dengann rambutnya. Kulitnya kuning susu, seperti susu putih kental manis sebelum dicampur dengan air panas (nyam..nyam…maknyuuusss :p).
Tiba-tiba saja pintu istana terbuka. Cinderella “sendal jepit” memasuki istana. Bagaikan video yang di pause, semua kegiatan terhenti, semua mata tertuju padanya, Cinderella yang cantik jelita dengan kulit hitam manis dengan gaun pesta yang sangat mencolok, dan….sendal jepit??? Semua orang melongo melihat sendal jepit bulukan itu. Namun, sang pangeran tidak peduli. Saat melihat Cinderella, pangeran langsung jatuh hati padanya. Pangeran Edric kemudian mengajak Cinderella untuk berdansa.
“Putri yang cantik, maukah kau berdansa denganku?”tanya pangeran Edric dengan halus.
“Tentu saja, pangeranku.”kata Cinderella sambil tersenyum.
Semua hadirin yang hadir di pesta itu terlihat sangat senang dan bahagia melihat sang pangeran telah menemukan tambatan hatinya. Mereka berdansa di lantai dansa dengan sangat indah, dan tanpa mereka sadari waktu telah menunjukkan tengah malam. Lonceng mulai berbunyi. Kembalilah sebelum lonceng tengah malam berbunyi, Nak, kata-kata Bunda peri terngiang di telinga Cinderella “sendal jepit”.
Mendengar lonceng pertama itu, Cinderella berhenti berdansa, kemudian berlari keluar menuju istana. Otomatis, pangeran terkejut dan langsung berlari mengejar Cinderella.
“Putri…mau kemana kah kamu?”tanya pangeran sambil terengah-engah mengejar Cinderella. Namun, Cinderella tetap tidak menoleh ke arah sang pangeran dan tetap berlari meninggalkan istana. “Hei, kamu belum memberitahu namamu, putri.”kata pangeran Edric kemudian. Tapi teriakan itu tetap tidak dihiraukan Cinderella.
Lonceng kedua mulai berdentang. Cinderella berlari melewati beberapa ruangan istana yang sangat luas dan menuruni tangga istana yang sangat panjang. Cinderella terjatuh di tangga itu, dan kemudian berusaha bangkit kemudian berlari lagi, namun sebelah sendal jepitnya tertinggal di tangga istana. Cinderella sama sekali tidak menyadari hal itu. Pangeran Edric berhasil mengejarnya sampai tangga istana, dan kemudian menemukan sendal jepit bulukan milik Cinderella.
“Ini pasti milik putri.”guman pangeran. “Aku harus segera menemukannya sebelum terlambat.”
Tidak seperti kisah Cinderella aslinya, kisah ini agak berbeda. Pangeran Edric kemudian berhasil mengejar dan menangkap Cinderella “sendal jepit” tepat di depan patung mannequin piss yang berdiri kokoh di depan istana. Pangeran tampan itu memegang lengan Cinderella, kemudian berkata, “Mau kemana kamu, putri? Jangan tinggalkan aku.” Setelah itu sang pangeran memeluk Cinderella sangat erat seakan tak mau melepaskannya lagi. Lho, kok pangeran malah bisa ngejar gue? Pasti ada yang merubah skenarionya neh. Harusnya kan pangeran cuma nemuin sepatu kaca –maksudnya sendal jepit bulukan, pemirsa- gue. Tapi nggak apa-apa deh, lumayan bisa dipeluk pangeran tampan, hehehehe :p.
“Tapi pangeran, aku harus pergi sebelum lonceng tengah malam berbunyi.”kata Cinderella saat Pangeran Edric melepaskan pelukannya.
“Kenapa? Kamu tidak suka padaku? Apakah aku kurang tampan untuk menjadi kekasih putri yang cantik jelita sepertimu?”tanya pangeran Edric dengan tatapan sedih.
“Bukan begitu, pangeran. Aku suka pada Pangeran Edric-ku yang tampan, tapi aku harus pergi, pangeran. Aku tidak bisa menjelaskannya padamu. Kumohon, biarkan aku pergi.”kata Cinderella kemudian.
Sekali lagi, pangeran Edric memeluk Cinderella erat. “Aku nggak akan melepaskanmu kali ini, putri.”gumamnya sampai kalimat itu tidak dapat didengar oleh Cinderella.
“Apa?”tanya Cinderella sambil berusaha melepaskan pelukan pangeran Edric yang semakin kuat. Dan, setelah meronta, akhirnya Cinderella pun terlepas dari pelukan itu. Kayak meluk boneka aja, nggak mau dilepasin, emang gue boneka? Huh…sesek juga neh gue dipeluk kayak gitu, gumam Cinderella.
Lonceng ketiga berbunyi, Cinderella harus segera meninggalkan istana itu sebelum Cinderella berubah seperti semula, di hadapan pangeran yang disukainya lagi. Tengsin abis… Tapi apa yang terjadi kemudian, pemirsa???
Setelah lonceng ketiga berbunyi, Cinderella sama sekali tidak berubah seperti semula. Dia tetap menjadi Cinderella yang cantik dengan gaun yang indah dan “sendal jepit”, tentunya –ah, kenapa harus sendal jepit sih? Merusak cerita aja neh.
“Wah, gue kok nggak berubah sih? Harusnya gue kembali jadi gadis miskin. Apa Bunda peri salah mantera lagi ya? Kayak tadi, Bunda lupa ngerubah sendal gue jadi sepatu kaca. Ah, baguslah kalo gitu. Gue akan jadi putri selamanya, dan pangeran Edric bakal tetep jadi pangeran gue.”katanya riang.
Tetapi, sesuatu yang aneh telah terjadi. Pangeran Edric dengan wajahnya yang sangat tampan, tiba-tiba saja mengerang kesakitan. Matanya yang teduh mulai membesar, hidungnya yang mancung semakin mancung, dan tumbuh bulu-bulu tebal hitam di wajahnya. Pantatnya mengeluarkan ekor yang tergulung. Badannya kemudian dipenuhi bulu. Rambutnya tidak lagi berwarna perak keemasan tetapi berwarna hitam legam. Cinderella sangat terkejut dengan peristiwa yang menimpa pangeran Edric-nya di depan matanya. Pangeran tampan-nya berubah menjadi…. hei, tunggu….menjadi….tikus got besar sama seperti dalam buku cerita  Goosebumps. Hiiiii…….menjijikkan.
Cinderella ingin berlari meninggalkan pangeran tikus itu. Dia paling tidak suka dengan tikus got. Namun terlambat. Pangeran itu menangkap Cinderella dengan tangannya yang basah dan berbulu. Cinderella merasa merinding. Pangeran itu kemudian menangkupkan tangannya ke wajah Cinderella. Cinderella merasa takut. Sosok bermata hitam besar itu, dan berbulu, hiii….kini berada sangat dekat dengannya.
“Bagaimana rupaku, putri? Apakah aku tetap tampan?”
“Nggak…nggak….nggak….”teriak Cinderella.
“Apakah karena wajahku begini, kamu mau meninggalkanku, putri?”tanya pangeran itu lagi dengan nada yang lebih tinggi.
“Nggak…nggak….nggak….”hanya itulah yang bisa dikatakan Cinderella di tengah ketakutannya. Dia sangat membenci tikus got, dan sekarang dihadapannya berdiri tikus got yang sangat besar. Pangeran-nya telah menjadi tikus got. Nggak mungkin, gue pasti lagi terhanyut dalam cerita Goosebumps, dan bentar lagi gue bakalan nemuin jalan keluarnya, dan kehidupan gue bakalan seperti semula. Atau akan ada alternatif lain yang buku itu tawarkan untuk mengembalikan masalah ini seperti semula, batinnya. Tapi ternyata dia sedang tidak membaca buku Goosebumps.
“Putri, maukah kamu menikah denganku?”tanya pangeran tikus itu kemudian.
“Nggak…nggak mungkin….kamu apakan pangeran Edric?”akhirnya Cinderella biasa bersuara lagi setelah kata “nggak” yang dari tadi keluar dari mulutnya.
“Aku pangeran Edric, aku pangeran-mu, putri…”kata pangeran tikus itu.”
“Nggak….”
***
“Nggaaaaaakkk…..nggaaakk mungkiiin……”teriak Anis ditengah-tengah mata kuliah Praktek Desain.
“Anis Calista Hartanto…”teriak dosen Praktek Desain-nya dari depan kelas.
Anis yang sedari tadi terbang bersama lamunannya akhirnya tersadar. Vira menyikutnya dan terkekeh pelan disampingya.
“Apanya yang nggak?”tanya dosennya lagi.
“Nggak ada apa-apa, Pak. Hehehe….”Anis nyengir.
“Lain kali, jika kamu menginterupsi di kelas saya, kamu akan saya hukum membuat grafik sebanyak dua ratus lembar portofolio.”
“Tapi pak…dua ratus lembar? Banyak banget.”
“Ya, dan dalam waktu sehari.”lanjut dosennya.
“Apa?”
“Jangan melakukan interupsi lagi, Anis, kalau kamu tidak mau menerima hukuman itu.”kata dosennya kemudian.
“I…iya pak.”
Sementara itu, Vira tetap terkekeh pelan disampingnya.
***

By Fakhriyah

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda