Jumat, 24 Juli 2015

Keterbatasanku adalah Kesempurnaan Chapter 1 Part 3


Masa Orientasi Sekolah
S
eperti anak-anak baru pada umumnya, pertama kali kami memasuki sekolah kami harus menjalani masa orientasi sekolah agar kami dapat melakukan perkenalan terhadap teman-teman baru dan lingkungan sekolah baru kami.
Hari pertama kami masuk sekolah, kami melakukan sharing hal-hal kecil, misalnya perkenalan nama, tempat tinggal, asal sekolah, dan sebagainya. Keesokan harinya, diadakan kegiatan Pra MOS (Masa Orientasi Sekolah) selama sehari. Pada waktu itu, kami mendapat intruksi dari senior yang merupakan panitia MOS untuk mempersiapkan hal-hal yang akan digunakan pada saat MOS selama tiga hari setelahnya.
Aku termasuk orang yang bertanggungjawab terhadap tugas yang diberikan. Aku dan teman-temanku yang lain berusaha untuk mempersiapkan segala sesuatu yang akan digunakan saat MOS, misalnya membeli bahan-bahan untuk membuat atribut dan co-card MOS. Hingga pukul 02.00 malam, aku dan teman-teman mengerjakan tugas-tugas yang diberikan saat Technical Meeting Pra MOS.
Selama tiga hari berturut-turut kegiatan MOS pun berlangsung. Hari pertama MOS, kami diberikan latihan mental. Kami dibentak-bentak dan di maki. Bahkan kami disuruh untuk melakukan perbuatan yang memalukan, seperti berteriak di tengah lapangan dan sebagainya. Jika kami melakukan kesalahan, maka kami akan diberi hukuman oleh para panitia MOS yang tak lain adalah senior kami. Semua itu tak lain untuk melatih mental kami agar kami menjadi siswa yang tangguh dan militan.
Hari kedua MOS, tak beda dari hari pertama. Kami masih diberi latihan mental, namun latihan mental yang kami dapatkan lebih sedikit dari hari pertama. Di hari kedua, materi tentang peraturan dan hal-hal yang berhubungan dengan sekolah lebih banyak disampaikan.
Hari ketiga MOS, kami harus mengikuti outbond yang diadakan di luar sekolah. Dari sekitar 70 orang siswa baru yang mengikuti MOS, kami dibagi menjadi sepuluh kelompok. Jadi satu kelompok sekitar tujuh orang. Dari kegiatan outbond tersebut, kami ditugaskan untuk mencapai pos-pos. Pada pos-pos tersebut, kami mendapatkan materi yang berhubungan dengan nama pos. Sesi terakhir dari kegiatan outbond yaitu kami ditugaskan untuk menyeberang sungai yang tinggi airnya sampai leher kami, sehingga untuk menyeberang sungai itu kami harus tahan dengan arus air sungai dan kami harus berusaha tetap mengatur nafas kami. Sungguh berat, tapi kami sangat menikmatinya.

MOS Asrama
S
ekolahku sangat unik. Karena lumayan banyak siswa yang berasal dari daerah yang letaknya jauh dari sekolah, termasuk aku dan sahabatku, maka terdapat dua ruang kelas yang dijadikan sebagai asrama untuk para siswa tersebut.
Sekolahku terletak sekitar satu kilometer dari jalan besar. Jadi, untuk sampai di sekolahku yang terletak ditengah hutan, kami harus berjalan sekitar satu kilometer dari jalan besar. Tak ada kendaraan yang melewati jalan setapak menuju sekolahku. Jalan tersebut hanya berupa tanah liat, yang ketika musim hujan akan menjadi sangat becek.
Karena kami tinggal di asrama, maka kami harus mengikuti Masa Orientasi Sekolah (MOS) khusus asrama kami. Kegiatan MOS asrama lebih singkat dari MOS, yakni hanya satu malam. Seperti halnya MOS, MOS asrama diadakan untuk menumbuhkan mental yang kuat dalam diri para siswa. Dalam kegiatan ini, kami diberi tes mental yaitu dengan cara menyuruh kami memasuki hutan yang berada di sekitar sekolah kami seorang diri pada waktu malam hari.
Saat tiba giliranku, aku tidak merasakan ketakutan sedikit pun. Aku merasa sangat berani mengahadapi apapun yang ada di hadapanku. Tapi satu hal yang membuatku khawatir, yaitu kegelisahanku dengan adanya isu tentang binatang buas yang berkeliaran di hutan tersebut. Entahlah, hal itu benar atau tidak. Ataukah isu itu beredar hanya untuk menguji mental kami.
Aku memasuki hutan itu seorang diri. Gelap. Dengan hanya berbekal sebuah senter kecil, ku beranikan diriku melangkah memasuki hutan yang dipenuhi dengan pepohonan tinggi. Sekilas pepohonan itu bergerak diterpa angin, seakan melambai-lambai kepadaku. Aku berusaha menyingkirkan rasa takutku. Sesuatu bergerak di balik pohon, dan suara itu kembali menggoyahkanku, namun ternyata setelah ku cari asal suara, itu hanyalah seekor jangkrik kecil yang menggoyangkan rumput-rumputan di balik pohon.
Setelah beberapa saat, dan sepertinya sudah larut malam, mungkin sekitar pukul 01.00 malam, aku memutuskan kembali. Sudah cukup tes mental ini. Aku sudah agak terbiasa dengan keadaan seperti ini, gelap dan sepi, kadang-kadang ada suara binatang kecil. Lama-kelamaan aku semakin terbiasa, dan itu sama sekali tak membuatku takut. Mungkin tes mental ini sangat berguna buatku, mentalku semakin kuat, walau fisikku tidak sempurna, namun mentalku sangat sempurna.

Urutan ke 3, Lomba Volley Antardesa
S
etelah event MOS dan MOS asrama selesai, proses belajar mengajar di kelas mulai aktif kembali. Kami belajar di kelas seperti biasanya. Tak ada lagi aksi senior menghukum para junior. Lapangan mulai sepi dari kegiatan MOS dan pelatihan mental. Semua kembali seperti semula.
 Aku mulai mempelajari ilmu pengetahuan baru, yang belum pernah kupelajari di SMP, seperti Sosiologi, Kimia, Ekonomi Akuntansi, dan lain-lain. Aku merasa pelajaran itu cukup menyenangkan karena aku baru mendapatkannya. Namun aku belum bisa menguasai semua mata pelajaran itu sepenuhnya. Itulah yang menyebabkan nilai-nilaiku di kelas satu SMA masih tergolong biasa-biasa saja.
Di sisi lain, aku juga baru menjalani kehidupan di asrama. Ternyata cukup menyenangkan berkumpul dengan teman-teman baru di dalam satu asrama. Aku pun harus menaati peraturan asrama. Salah satunya adalah mengumpulkan handphone kami kepada pembina asrama kami, kami tidak diperbolehkan memakai handphone selama enam hari dari hari senin sampai sabtu.
Peraturan lainnya yang harus kami patuhi adalah mengikuti program belajar malam dari setelah shalat isya sampai pukul sepuluh malam. Sebelum diadakannya belajar kelompok, terlebih dahulu diadakan pembagian kelas. Setelah kami dibagi beberapa kelompok dan ditempatkan di kelas yang ditentukan.
Di waktu malam seperti itulah aku dapat belajar dengan serius,  suasana belajar yang sangat mendukung membuatku lebih mudah menerima pelajaran. Namun tetap saja nilai-nilaiku saat kelas satu kurang memuaskan. Aku harus puas dengan nilaiku yang serba pas-pasan. Maklum, banyak mata pelajaran yang baru aku pelajari yang belum kupelajari saat SMP. 
Di lain pihak, aku dan teman-temanku mewakili sekolah untuk mengikuti perlombaan bola volley antardesa. Dalam perlombaan itu kami cukup beruntung dengan mendapatkan juara ketiga. Walaupun sebenarnya kami kurang persiapan dalam lomba itu, namun dengan bermodalkan semangat dan kekompakan akhirnya keberuntungan berpihak pada kami. Puji syukur pada Tuhan karena tak ada yang bisa terjadi tanpa seizinNya.

By Fakhriyah HS

Keterbatasanku adalah Kesempurnaan Chapter 1 Part 2


Walau Matematika Tak Mampu Tapi Pernah Menyukai Fisika
S
etelah lulus di bangku Sekolah Dasar, aku meneruskan pendidikanku di Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang berada dekat tempat tinggalku. Aku sebenarnya tidak terlalu senang dengan sekolah formal, namun aku mengikuti anjuran orang tuaku untuk tetap melanjutkan pendidikanku ke jenjang yang lebih tinggi. Aku lebih senang berada di sawah membantu orang tuaku bertani.
Suatu waktu ketika aku masih duduk di kelas satu SMP, wakil kepala sekolahku menggantikan guru Fisikaku untuk sementara waktu berhubung guru Fisikaku berhalangan. Sejak itu aku agak menyukai mata pelajaran itu. Padahal sebelumnya aku sama sekali tidak menyukai mata pelajaran yang berhubungan dengan angka dan perhitungan, apalagi yang dipenuhi seabrek rumus seperti Fisika. Namun, karena wakil kepala sekolahku yang mengajar dan beliau membuat semua rumus yang terlihat sulit itu menjadi simpel, maka aku lebih cepat mengerti.
Aku sempat tertarik dan sangat menyukai mata pelajaran Fisika. Sepulang sekolah, aku sangat bersemangat mengulang-ulang pelajaran yang kuterima dari wakil kepala sekolahku. Aku mengerjakan tugas-tugas Fisikaku dengan penuh antusias. Bagiku rumus-rumus yang kelihatannya njlimet terasa lebih mudah dengan cara-cara yang diajarkan oleh wakil kepala sekolahku. Aku pun tak pernah menyangka kalau aku bakalan suka dengan mata pelajaran itu. Karena Fisika aku sempat menjadi anak rumahan yang tidak keluyuran saat pulang sekolah. Aku terus menekuri bukuku dan megerjakan soal-soal Fisika. Bahkan orang tuaku pun heran denganku. Anak yang biasanya hobby di ladang dan di sawah tiba-tiba saja menjadi anak yang rajin belajar. Nilai Fisikaku pun meningkat drastis. Dan di rapor pun nilaiku termasuk nilai yang sangat tinggi. Aku puas dengan nilaiku, dan aku puas dengan apa yang kucapai. Walaupun sebelumnya aku sempat tinggal kelas karena mata pelajaran Matematika, namun tak kusangka nilai Fisikaku lebih tinggi. Padahal bagiku pelajaran Fisika lebih sulit lagi dari Matematika.
Akan tetapi, pada akhirnya wakil kepala sekolahku berhenti mengajar kami dan diangkat menjadi kepala sekolah. Dan yang mengajar kami selanjutnya adalah guru Fisika tetap. Setelah itu, aku tidak tertarik lagi dengan mata pelajaran Fisika, pasalnya teknik pengajaran guru tetap kami sangat berbeda dengan teknik pengajaran yang dilakukan oleh wakil kepala sekolahku. Hingga pada akhirnya, aku kembali terbelakang dalam bidang yang pernah kusukai, bidang Fisika.

Pernah Berurusan Dengan Guru BP
S
etelah duduk di kelas dua SMP, aku mulai merasa jenuh dengan kehidupan di sekolah. Aku selalu berniat untuk bolos, namun aku masih mengingat pesan orang tuaku untuk belajar sungguh-sungguh agar aku bisa memiliki ilmu yang tinggi. Oleh karena itu aku masih berusaha untuk tidak bolos dan mengikuti semua mata pelajaran di saat jam belajar.
Tapi rasa jenuhku didalam kelas masih sangat menggangguku. Oleh sebab itu jika ada jam kosong atau ada guru yang berhalangan hadir, aku sangat senang. Aku dan teman-temanku yang lain berkeluyuran di luar kelas saat jam itu. Tak jarang kami sampai keluar dari sekolah untuk mencari sesuatu yang menarik yang bisa menghilangkan rasa jenuh kami. Padahal ada peraturan sekolah yang melarang kami untuk keluar dari sekolah selama jam belajar berlangsung. Namun kami tidak peduli dan tidak mengindahkan aturan itu.
Di mata sebagian guru, kami termasuk anak-anak yang bandel dan nakal karena terlalu sering melanggar peraturan. Kami selalu ditegur dan diperingatkan. Namun kami tetap tak peduli. Tak jarang pula kami keluar masuk ruang BP dan berurusan dengan guru BP. Kami harus menjalani berbagai hukuman karena sering melanggar peraturan sekolah. Hukuman yang harus kami jalani seperti membersihkan WC sekolah, dan itu kami lakukan setiap pulang sekolah sehingga kami harus terlambat pulang ke rumah. Setelah itu kami akan melepaskan penat kami dengan bermain bola di lapangan.
Walaupun demikian aku tak pernah merasa ketakutan dengan hukuman-hukuman yang kujalani karena melanggar peraturan sekolah. Aku jalani hukumanku dengan santai dan tanpa beban. Dan aku juga merasa senang karena guru-guruku memperlakukanku sama seperti anak-anak yang lain dan tidak mengistimewakanku, ya walaupun aku berbeda dari mereka.
Aku sadar hukuman-hukuman itu diberikan pada kami agar kami disiplin dan tidak bolos serta bisa mengikuti semua mata pelajaran agar nantinya kami bisa lulus dengan nilai yang baik.

Ujian Nasional SMP, Matematika Tertinggi
S
eperti murid-murid SMP pada umumnya, untuk menghadapi ujian nasional aku juga mengikuti les atau bimbingan belajar. Les itu diadakan setiap hari setelah pulang sekolah. Namun, aku jarang mengikuti les itu.
Aku lebih senang bermain di sawah pada siang hari daripada mengikuti les. Dan pada malam harinya, teman-temanku akan mengajakku keluyuran sampai tengah malam. Tak ada waktu belajar bagiku. Hingga orang tuaku merasa muak dengan tingkahku. Tak jarang mereka memarahiku, namun aku tetap tidak peduli dengan nasehat mereka. Walaupun aku tahu itu demi kebaikanku.
Suatu malam, aku beserta teman-temanku keluyuran sampai jam dua malam. Dan saat aku pulang, orang tuaku malah tak mempedulikanku, tidak memarahiku seperti biasanya. Mereka malah berkata “Kenapa nggak pulang aja sekalian”. Aku sempat merasa sedih saat mereka berkata seperti itu. Tapi aku tahu mereka mengatakan hal itu agar aku tidak terus-terusan terjerumus kedalam kebiasaan burukku itu. Sejak saat itu, aku sudah menghentikan kebiasaanku keluyuran tengah malam.
Beberapa bulan setelah itu, ujian nasional pun berlangsung. Hari pertama yaitu ujian Bahasa Indonesia. Aku agak lumayan bisa mengerjakan ujianku, walaupun aku masih merasa sulit dengan pilihan-pilihan jawaban yang membingungkan.  Hari kedua adalah ujian Bahasa Inggris, aku malah tidak belajar. Aku hanya mengerjakan apa yang bisa kukerjakan. Hari ketiga adalah ujian Matematika, pelajaran yang sama sekali tidak kumengerti. Aku mengerjakan ujianku apa adanya, sesuai dengan kemampuanku. Dan aku hanya berharap hasil yang terbaik untukku.
Dua bulan kemudian, pengumuman hasil ujian nasional se-Indonesia. Aku merasa sangat gugup, takut aku tidak lulus. Aku hanya pasrah dengan hasil yang akan kuterima. Saat aku melihat papan pengumuman, rasanya jantungku tak pernah berhenti berdebar kencang. Aku melihat nomor ujianku dan mencocokkannya dengan nomor yang tercantum di papan pengumuman. Aku merasa lega sekali melihat nomor ujianku tercantum dan dinyatakan lulus. Dan hal yang tak pernah kuduga, nilai ujian Matematikaku menempati posisi tertinggi diantara nilai ujianku yang lain. Nilai ujian Matematikaku termasuk nilai terbaik diantara teman-temanku. Tak pernah kuduga bahwa aku bisa lulus SMP dengan nilai yang baik. Itu semua karena anugerah dari Tuhan.

Tak Berniat Melanjutkan Pendidikan
S
etelah lulus SMP aku tidak berniat melanjutkan pendidikanku ke jenjang pendidikan selanjutnya yaitu Sekolah Menengah Atas (SMA). Namun sahabatku, Rahmat mengajakku melanjutkan pendidikan di sekolah SMA yang berada sekitar berpuluh kilometer dari tempat tinggalku.
Awalnya aku hanya ingin membantu orang tuaku bekerja di sawah dan di ladang. Bagiku, menghabiskan waktu sepanjang hari di sawah dan ladang lebih menyenangkan dibandingkan belajar di kelas. Tapi setelah aku berpikir dan setelah kuberitahu orang tuaku, ternyata mereka mendukungku untuk melanjutkan pendidikanku ke jenjang SMA.
Akhirnya aku memutuskan untuk melanjutkan pendidikanku bersama sahabatku di sebuah SMA yang terletak di daerah jauh dari tempat tinggalku. Untuk sampai ke sekolah itu kami harus menyeberangi sungai dan sawah-sawah. Jarak dari tempat tinggalku dengan sekolahku sekitar sejam jika ditempuh dengan menggunakan perahu angkutan.
Karena jarak sekolahku sangat jauh dari tempat tinggalku, maka aku harus tinggal di asrama yang disediakan untuk para siswa yang rumahnya berada jauh dari sekolah. Sekolahku memang unik. Dua ruang kelas dijadikan sebagai asrama, dan ruang kelas lainnya digunakan sebagaimana mestinya.
Saat akan melakukan registrasi pendaftaran di sekolahku, aku beserta sahabatku harus menggunakan sebuah taksi untuk sampai disana. Dengan ditemani oleh ayah dari sahabatku, kami melakukan perjalanan menuju ke sekolahku. Sesampainya di sana kami lalu melakukan registrasi pendaftaran. Karena hari telah menjelang sore, maka tak ada lagi taksi yang bisa mengangkut kami kembali ke daerah kami.
Maka kami memutuskan untuk menggunakan perahu angkutan untuk menyeberangi sungai. Perahu yang kami tumpangi sudah tua dan onderdilnya sudah banyak yang rusak sehingga waktu yang dibutuhkan untuk mencapai pinggiran sungai semakin lama.
Sekitar sepuluh kilometer dari sekolah, dan kami telah berada di tengah-tengah sungai yang sangat luas, tiba-tiba saja perahu yang kami tumpangi macet. Air masuk kedalam perahu dan kami harus menimba air itu dan mengembalikannya kembali ke sungai.
Kami terus saja berusaha mengeluarkan air yang telah masuk ke dalam perahu hingga akhirnya air itu habis. Waktu telah menunjukkan pukul sebelas malam. Kami belum tiba di rumah. Kami masih berada di atas perahu yang hampir saja tenggelam kemasukan air.
Mendekati pinggiran sungai, ternyata air sungai semakin surut hingga perahu yang kami tumpangi sulit mencapai pinggiran sungai karena tak ada arus sungai. Hal ini menyebabkan kami harus mendorong perahu kami hingga sampai di pinggiran. Saat tiba di pinggiran kami bergegas ke darat untuk mengeringka baju kami yang basah karena perahu yang kemasukan air. 
Setelah berada di darat, kami harus berjalan beberapa kilometer lagi untuk sampai ke jalan raya yang menuju rumah kami. Hingga pukul 02.00 malam, kami baru tiba di rumah. Kami langsung mengganti baju kami yang basah kuyup agar kami tidak tambah kedinginan. Sungguh pengalaman yang sangat berharga dan tak pernah kulupakan seumur hidupku.

By Fakhriyah HS

Keterbatasanku adalah Kesempurnaan Chapter 1 Part 1


CHAPTER 1
ANUGERAH DARI TUHAN

Aku Terlahir Sebagai Anugerah
D
ua puluh tahun yang lalu, tepatnya di awal bulan Juli, seorang bunda yang berhati mulia, dengan penuh kesabaran dan ketabahan melahirkan seorang bayi mungil yang lucu. Namun, bayi itu lahir dalam keadaan tidak normal. Bayi itu tidak memiliki kedua tangan yang utuh, hanya jempol tangan kanannya saja yang masih ada. Awalnya sang bunda tidak percaya dengan keadaan anak ketiganya tersebut, pasalnya kedua anak yang  beliau lahirkan sebelumnya lahir dalam keadaan normal. Walaupun begitu, pada akhirnya sang bunda bisa menerima keadaan anak bungsunya itu dengan keikhlasan. Beliau menyadari bahwa semua itu sudah menjadi takdir Yang Maha Kuasa, dan selalu ada hikmah dibalik itu.
Panggil saja namaku Tono (samaran). Akulah anak yang dilahirkan dalam keadaan tidak normal itu. Diantara saudara-saudaraku, aku yang paling berbeda. Tuhan memberikan kasih sayangnya padaku dengan cara membuatku tampil beda dan tidak normal seperti anak-anak lainnya. Walaupun demikian, aku tak pernah merasa cacat, aku selalu merasa kalau aku normal sebagaimana saudara-saudaraku. Ibuku sering berkata “Kalau temanmu yang lain bisa, kenapa kamu nggak?”. Itulah dukungan dan motivasi yang selalu diberikan oleh Ibuku sejak aku kecil. Aku merasa bisa melakukan pekerjaan yang orang normal kerjakan. Dan aku belajar menerima kekuranganku, bahkan kekuranganku ini aku anggap sebagai kelebihan kasih sayang Tuhan padaku. Saking sayangnya Tuhan padaku hingga dia memberikan sesuatu yang tidak diberikan kepada kebanyakan orang. Dia ingin aku selalu mengingatNya.
Ya, aku begitu yakin kalau aku terlahir di dunia dengan keadaan yang seperti ini karena kehendak Tuhan, dan aku juga sangat yakin kalau aku terlahir sebagai anugerah terindah dalam kehidupan kedua orang tuaku, keluargaku, teman-temanku dan orang-orang yang ada di sekitarku. Mereka akan selalu mengingatku karena aku berbeda dari mereka, dan karena aku begitu berarti bagi mereka.
Begitulah kisah ini kuawali dengan kesyukuranku karena terlahir sebagai anugerah, karena kasih sayang Tuhan padaku begitu berlimpah, karena aku selalu merasa dekat dengan Tuhanku.

Sangat Hiperaktif
W
alau keadaan fisikku yang tidak mendukung, aku tumbuh menjadi anak yang sangat hiperaktif. Selalu ingin mengerjakan apa yang bisa dikerjakan oleh orang-orang normal. Bahkan saat aku masih kecil aku termasuk anak yang nakal dan jahil.
Sejak kecil aku senang bermain di sawah yang digarap oleh orang tuaku. Kerjaanku bermain lumpur sawah sambil menangkap belalang yang hinggap di padi yang sudah menguning. Maklum, aku tinggal di desa yang sangat subur di sebuah daerah di Kalimantan. Orang tuaku adalah transmigran dari Jawa Timur. Mereka sudah bertransmigrasi ke Kalimantan jauh sebelum aku lahir.
Kakak pertamaku menikah saat aku duduk di bangku Sekolah Dasar. Kakak pertamaku itulah yang membantu orang tuaku untuk mengasuhku. Setelah dia menikah, dia tinggal agak jauh dari orang tua kami. Sejak duduk di bangku Sekolah Dasar, kakak pertamaku itulah yang lebih banyak mengasuhku daripada orang tuaku. Kedua orang tuaku lebih banyak menghabiskan waktu mereka untuk bertani dan beternak demi menghidupi kehidupan keluarga kami. Itu sebabnya tanggung jawab untuk mengasuhku dilimpahkan kepada kakakku yang pertama.
Aku tidak pernah merasakan bersekolah di Taman Kanak-kanak (TK) ataupun Play Group. Taman kanak-kanak atau Play Group baru didirikan di daerahku sekitar tahun 2000, oleh sebab itu orang tuaku memutuskan untuk segera memasukkan aku ke Sekolah Dasar yang terdekat dengan daerahku.
Karena aku termasuk anak yang hiperaktif, maka aku selalu ingin mengerjakan apa yang dikerjakan oleh teman-temanku. Suatu waktu ketika aku baru masuk Sekolah Dasar, karena kekesalanku pada seorang teman, aku malah bertengkar dan sampai berantem dengannya. Walaupun aku memiliki fisik yang tidak sempurna, tetap saja aku yang menang melawan temanku itu. Karena kelincahanku, aku bisa melindungi diriku dari serangan-serangan temanku itu. Akibat pertengkaran itu, orang tuaku harus memenuhi panggilan kepala sekolah. Orang tuaku yang diwakili oleh kakakku saat itu hanya bisa memohon maaf kepada pihak sekolah dan kepada orang tua temanku itu.
Teman-temanku yang lain hanya bisa berdecak heran melihat tingkahku yang hiperaktif dan merasa paling bisa. Ya, begitulah aku, selalu percaya diri walau segala rintangan harus kuhadapi.


Kurang Cerdas Intelektual Sih...
H
ari-hariku kulalui di Sekolah Dasar dengan penuh antusias. Aku selalu bersemangat belajar, apalagi pelajaran olahraga. Aku selalu bersemangat ketika guru olahraga menyuruh kami berlomba lari, dan seringkali aku keluar sebagai  pemenangnya. Aku semakin percaya diri dengan kemampuan yang kumiliki. Akan kubuktikan kepada siapa saja kalau aku pun bisa seperti mereka.
Walaupun aku sangat menyenangi pelajaran olahraga dan nilaiku dalam mata pelajaran olahraga selalu memuaskan dan tertinggi diantara teman-temanku, ada satu mata pelajaran yang aku belum mampu menaklukkannya yaitu Matematika. Kecerdasan intelektualku sangat kurang di bidang itu. Aku selalu tertinggal dan selalu terbelakang. Bahkan aku pernah tidak naik kelas hanya karena aku tidak mampu menghafalkan perkalian. Dan yang parahnya lagi, guru Matematikaku waktu itu adalah ayah dari sahabatku sejak kecil, Rahmat (samaran).
Aku masuk Sekolah Dasar saat usiaku menginjak 7 tahun bersamaan dengan kakak dari Rahmat yang juga seumuran denganku. Akan tetapi, karena aku pernah tinggal kelas hingga akhirnya aku harus sekelas dengan Rahmat yang umurnya dua tahun lebih muda dariku.
Ya, karena kurang cerdas intelektual hingga aku harus mengalami ketertinggalan. Aku harus mengulang mata pelajaran di kelas yang sama. Namun, itu tidak membuatku patah semangat. Aku yakin, Tuhan menakdirkan demikian karena ada suatu hikmah dibaliknya. Sejak saat itu aku berlatih terus menerus untuk menghafal perkalian hingga akhirnya aku bisa. Tuhan menginginkan aku untuk memperdalam mata pelajaran itu agar nantinya aku menjadi lebih pandai di bidang itu.
Justru karena kurang cerdas intelektualnya diriku hingga Dia memberikanku kecerdasan di bidang lain yaitu kecerdasan kinestetik, kecerdasan olah tubuh. Aku begitu lincah berlari walaupun awalnya aku sulit menahan keseimbangan tubuhku. Tapi dengan keinginan dan minatku, maka aku pun bisa menjadi pelari dan selalu mewakili sekolahku dalam berbagai kejuaraan. 
Tuhan telah memberikan anugerah terindah dalam hidupku. Dia mengajarkanku untuk mensyukuri apa saja yang ada dalam diriku dan apa saja yang kuhadapi. Dia mengajarkanku untuk terus berusaha dan tidak putus asa. Dan aku begitu yakin bahwa tidak semua orang diberikan anugerah oleh Tuhan sepertiku. Itulah yang membuatku lebih bersyukur.
By Fakhriyah HS