Keterbatasanku adalah Kesempurnaan Chapter 1 Part 3
Masa Orientasi Sekolah
S
|
eperti
anak-anak baru pada umumnya, pertama kali kami memasuki sekolah kami harus
menjalani masa orientasi sekolah agar kami dapat melakukan perkenalan terhadap
teman-teman baru dan lingkungan sekolah baru kami.
Hari
pertama kami masuk sekolah, kami melakukan sharing
hal-hal kecil, misalnya perkenalan nama, tempat tinggal, asal sekolah, dan
sebagainya. Keesokan harinya, diadakan kegiatan Pra MOS (Masa Orientasi
Sekolah) selama sehari. Pada waktu itu, kami mendapat intruksi dari senior yang
merupakan panitia MOS untuk mempersiapkan hal-hal yang akan digunakan pada saat
MOS selama tiga hari setelahnya.
Aku
termasuk orang yang bertanggungjawab terhadap tugas yang diberikan. Aku dan
teman-temanku yang lain berusaha untuk mempersiapkan segala sesuatu yang akan
digunakan saat MOS, misalnya membeli bahan-bahan untuk membuat atribut dan co-card MOS. Hingga pukul 02.00 malam,
aku dan teman-teman mengerjakan tugas-tugas yang diberikan saat Technical Meeting Pra MOS.
Selama
tiga hari berturut-turut kegiatan MOS pun berlangsung. Hari pertama MOS, kami
diberikan latihan mental. Kami dibentak-bentak dan di maki. Bahkan kami disuruh
untuk melakukan perbuatan yang memalukan, seperti berteriak di tengah lapangan dan
sebagainya. Jika kami melakukan kesalahan, maka kami akan diberi hukuman oleh
para panitia MOS yang tak lain adalah senior kami. Semua itu tak lain untuk
melatih mental kami agar kami menjadi siswa yang tangguh dan militan.
Hari
kedua MOS, tak beda dari hari pertama. Kami masih diberi latihan mental, namun
latihan mental yang kami dapatkan lebih sedikit dari hari pertama. Di hari
kedua, materi tentang peraturan dan hal-hal yang berhubungan dengan sekolah
lebih banyak disampaikan.
Hari
ketiga MOS, kami harus mengikuti outbond
yang diadakan di luar sekolah. Dari sekitar 70 orang siswa baru yang mengikuti
MOS, kami dibagi menjadi sepuluh kelompok. Jadi satu kelompok sekitar tujuh
orang. Dari kegiatan outbond
tersebut, kami ditugaskan untuk mencapai pos-pos. Pada pos-pos tersebut, kami
mendapatkan materi yang berhubungan dengan nama pos. Sesi terakhir dari
kegiatan outbond yaitu kami
ditugaskan untuk menyeberang sungai yang tinggi airnya sampai leher kami,
sehingga untuk menyeberang sungai itu kami harus tahan dengan arus air sungai
dan kami harus berusaha tetap mengatur nafas kami. Sungguh berat, tapi kami
sangat menikmatinya.
MOS Asrama
S
|
ekolahku
sangat unik. Karena lumayan banyak siswa yang berasal dari daerah yang letaknya
jauh dari sekolah, termasuk aku dan sahabatku, maka terdapat dua ruang kelas
yang dijadikan sebagai asrama untuk para siswa tersebut.
Sekolahku
terletak sekitar satu kilometer dari jalan besar. Jadi, untuk sampai di
sekolahku yang terletak ditengah hutan, kami harus berjalan sekitar satu
kilometer dari jalan besar. Tak ada kendaraan yang melewati jalan setapak
menuju sekolahku. Jalan tersebut hanya berupa tanah liat, yang ketika musim
hujan akan menjadi sangat becek.
Karena
kami tinggal di asrama, maka kami harus mengikuti Masa Orientasi Sekolah (MOS)
khusus asrama kami. Kegiatan MOS asrama lebih singkat dari MOS, yakni hanya
satu malam. Seperti halnya MOS, MOS asrama diadakan untuk menumbuhkan mental yang
kuat dalam diri para siswa. Dalam kegiatan ini, kami diberi tes mental yaitu
dengan cara menyuruh kami memasuki hutan yang berada di sekitar sekolah kami
seorang diri pada waktu malam hari.
Saat
tiba giliranku, aku tidak merasakan ketakutan sedikit pun. Aku merasa sangat
berani mengahadapi apapun yang ada di hadapanku. Tapi satu hal yang membuatku
khawatir, yaitu kegelisahanku dengan adanya isu tentang binatang buas yang
berkeliaran di hutan tersebut. Entahlah, hal itu benar atau tidak. Ataukah isu
itu beredar hanya untuk menguji mental kami.
Aku
memasuki hutan itu seorang diri. Gelap. Dengan hanya berbekal sebuah senter
kecil, ku beranikan diriku melangkah memasuki hutan yang dipenuhi dengan
pepohonan tinggi. Sekilas pepohonan itu bergerak diterpa angin, seakan
melambai-lambai kepadaku. Aku berusaha menyingkirkan rasa takutku. Sesuatu
bergerak di balik pohon, dan suara itu kembali menggoyahkanku, namun ternyata
setelah ku cari asal suara, itu hanyalah seekor jangkrik kecil yang menggoyangkan
rumput-rumputan di balik pohon.
Setelah
beberapa saat, dan sepertinya sudah larut malam, mungkin sekitar pukul 01.00 malam,
aku memutuskan kembali. Sudah cukup tes mental ini. Aku sudah agak terbiasa
dengan keadaan seperti ini, gelap dan sepi, kadang-kadang ada suara binatang
kecil. Lama-kelamaan aku semakin terbiasa, dan itu sama sekali tak membuatku
takut. Mungkin tes mental ini sangat berguna buatku, mentalku semakin kuat,
walau fisikku tidak sempurna, namun mentalku sangat sempurna.
Urutan ke 3, Lomba
Volley Antardesa
S
|
etelah
event MOS dan MOS asrama selesai, proses
belajar mengajar di kelas mulai aktif kembali. Kami belajar di kelas seperti
biasanya. Tak ada lagi aksi senior menghukum para junior. Lapangan mulai sepi
dari kegiatan MOS dan pelatihan mental. Semua kembali seperti semula.
Aku mulai mempelajari ilmu pengetahuan baru,
yang belum pernah kupelajari di SMP, seperti Sosiologi, Kimia, Ekonomi
Akuntansi, dan lain-lain. Aku merasa pelajaran itu cukup menyenangkan karena
aku baru mendapatkannya. Namun aku belum bisa menguasai semua mata pelajaran
itu sepenuhnya. Itulah yang menyebabkan nilai-nilaiku di kelas satu SMA masih
tergolong biasa-biasa saja.
Di
sisi lain, aku juga baru menjalani kehidupan di asrama. Ternyata cukup
menyenangkan berkumpul dengan teman-teman baru di dalam satu asrama. Aku pun
harus menaati peraturan asrama. Salah satunya adalah mengumpulkan handphone kami kepada pembina asrama
kami, kami tidak diperbolehkan memakai handphone selama enam hari dari hari
senin sampai sabtu.
Peraturan
lainnya yang harus kami patuhi adalah mengikuti program belajar malam dari setelah
shalat isya sampai pukul sepuluh malam. Sebelum diadakannya belajar kelompok,
terlebih dahulu diadakan pembagian kelas. Setelah kami dibagi beberapa kelompok
dan ditempatkan di kelas yang ditentukan.
Di
waktu malam seperti itulah aku dapat belajar dengan serius, suasana belajar yang sangat mendukung
membuatku lebih mudah menerima pelajaran. Namun tetap saja nilai-nilaiku saat
kelas satu kurang memuaskan. Aku harus puas dengan nilaiku yang serba
pas-pasan. Maklum, banyak mata pelajaran yang baru aku pelajari yang belum
kupelajari saat SMP.
Di lain pihak, aku dan teman-temanku mewakili sekolah untuk mengikuti perlombaan bola volley antardesa. Dalam perlombaan itu kami cukup beruntung dengan mendapatkan juara ketiga. Walaupun sebenarnya kami kurang persiapan dalam lomba itu, namun dengan bermodalkan semangat dan kekompakan akhirnya keberuntungan berpihak pada kami. Puji syukur pada Tuhan karena tak ada yang bisa terjadi tanpa seizinNya.
Di lain pihak, aku dan teman-temanku mewakili sekolah untuk mengikuti perlombaan bola volley antardesa. Dalam perlombaan itu kami cukup beruntung dengan mendapatkan juara ketiga. Walaupun sebenarnya kami kurang persiapan dalam lomba itu, namun dengan bermodalkan semangat dan kekompakan akhirnya keberuntungan berpihak pada kami. Puji syukur pada Tuhan karena tak ada yang bisa terjadi tanpa seizinNya.
By Fakhriyah HS

0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda