Senin, 20 Juli 2015

LELAKI TUA BERBAJU BATIK


Lelaki tua itu diam sambil memejamkan matanya. Wajahnya yang sudah tua mulai berkeriput, rambutnya sudah dipenuhi dengan uban. Dia tidak pernah membuka matanya walaupun ada penumpang yang naik ataupun turun. Entah tujuannya kemana.
Siang itu memang agak mendung. Namun, aku tetap nekad pergi ke Prambanan bersama sahabatku, Reni. Lelaki tua itu sudah duduk sedari tadi saat kami menaiki Trans Jogja jalur 1A. Wajahnya yang tirus membuatku iba terhadapnya. Lelaki itu mengenakan baju batik berwarna coklat. Sandalnya sudah agak sobek. Dia terus saja memejamkan mata.
Bus berhenti di shelter Carrefour, namun lelaki tua itu masih terdiam dan tak beranjak dari tempat duduknya.
“Sebenarnya dia mau kemana ?”tanyaku pada Reni.
“Siapa ?”Reni balik bertanya kepadaku.
Mbah itu.”jawabku.
“Entahlah.”
Aku memberanikan diriku untuk berpindah tempat duduk. Awalnya sahabatku melarangku.
“Untuk apa, An. Tempat duduk disini sudah nyaman.”kata Reni.
“Aku hanya ingin tahu tentang si mbah itu.”bisikku.
“Ya ampun, An. Kamu ini emang pengen tahu segalanya yah. Ya udah kita pindah tempat duduk ke samping si mbah itu.”
“Terima kasih ya Ren.”aku tersenyum.
Reni pun ikut tersenyum, “Ya, sama-sama.”
Bus berhenti di shelter Janti. Syukurlah lelaki tua itu belum juga turun. Jadi, aku bisa ngobrol dengannya.
Nuwun sewu, Mbah[1].”takut-takut aku membuka suara. Namun, Mbah tua itu belum menanggapi sapaanku.
Aku memperhatikan dengan jelas raut wajahnya. Dia berusaha menemukan asal suara. Tapi, anehnya matanya masih saja terpejam.
Nuwun sewu, Mbah.”
“Ya, Nak. Wonten nopo, nduk[2] ?”kepalanya mendongak kearahku. Dan barulah kusadari bahwa Mbah tua itu buta.
Mboten menopo, mbah[3]. Saya hanya ingin ngobrol lebih dekat sama si Mbah. Angsal mboten[4] ?”
“Oh, ya Nak. Silakan. Mau tanya apa, Nak ?”katanya ramah dalam bahasa Indonesia. Mungkin dia tau kalau aku bukan orang Jawa dengan logatku yang agak beda dari orang-orang Jawa.
“Dari tadi saya lihat, saat bus ini berhenti di shelter, Mbah tidak juga turun. Mbah mau kemana ? Siapa tahu sejurusan dengan kami. Kami ingin ke Prambanan, Mbah.”
Mbah mau menemui anak angkat Mbah, Nak. Katanya dia yang akan menjemput Mbah. Daerahnya sepertinya sejalur dengan arah menuju Prambanan, Nak. Mbah tidak tahu apa nama daerahnya.”
“Jadi, Mbah punya anak angkat ? Wah, betapa bahagianya anak angkat Mbah memiliki orang tua yang ramah seperti Mbah
“Seharusnya Mbah lah yang harus berbahagia memiliki anak angkat seperti dia yang mau menerima keadaan Mbah apa adanya.”
“Lalu, anak kandung Mbah ?”tanyaku
Lelaki tua itu terdiam sejenak, dia belum menjawab pertanyaanku. Kemudian dia membuka mulut dan mengalirlah cerita dari mulut Mbah tua itu.
Sebenarnya Mbah tua itu adalah mantan veteran di zaman kemerdekaan. Namanya Mbah Sujarwo. Dahulu, dia adalah seorang veteran yang gagah berani. Dia menikah dengan seorang wanita pilihan orang tuanya saat usianya 29 tahun. Wanita itu sangat baik. Namanya Bu Surtini. Dari pernikahannya, dia dikaruniai dua orang anak. Satunya laki-laki dan satunya lagi perempuan. Pada saat itu, para pejuang kemerdekaan diwajibkan untuk berperang melawan penjajah. Mbah Sujarwo ikut serta dalam perang itu. Hampir sebagian besar kawan seperjuangannya tewas. Namun, nasib berpihak pada Mbah Sujarwo. Dia masih hidup dan masih bertahan sampai sekarang. Tetapi, saat perang itu juga, Mbah Sujarwo kehilangan penglihatannya untuk selamanya. Bambu runcing yang digunakan oleh kawannya untuk menombak musuh tanpa sengaja menusuk mata Mbah Sujarwo. Salah sasaran. Akhirnya dia divonis buta untuk selama-lamanya.
Bu Surtini dengan sabar merawat suaminya. Seiring berjalannya waktu, anak-anaknya pun tumbuh dewasa. Anak perempuannya telah menikah dan ikut dengan suaminya yang merupakan pengusaha tambang batu bara di Kalimantan. Sedangkan, putranya telah berhasil menjadi pegawai di sebuah instansi pemerintah. Dengan gaji pensiunan yang dimiliki oleh Mbah Sujarwo, beliau dapat menyekolahkan anak-anaknya sehingga bisa sukses seperti sekarang ini.
Bus berhenti di shelter Bandara. Mbah Sujarwo berhenti bercerita sejenak. Aku memperhatikan para penumpang naik dan turun bus, lalu lalang. Bus kembali melaju dengan kencangnya. Mbah Sujarwo melanjutkan ceritanya. Sesekali dia mengusap matanya yang berurai air mata.
Setelah sukses, putranya meninggalkan rumah dan membeli rumah yang mewah. Setelah tinggal di rumah mewah itu, putranya tidak pernah lagi datang berkunjung ke rumah Mbah Sujarwo, rumah tempat mereka dilahirkan dan dibesarkan. Begitu pula dengan putrinya yang ikut dengan suaminya. Dia juga tidak pernah sekalipun menengok orang tuanya. Mereka seakan tidak peduli lagi dengan orang tua kandung mereka. Bu Surtini yang usianya semakin tua sudah mulai sakit-sakitan semenjak putranya meinggalkan rumah. Dia juga terlalu lelah untuk merawat suaminya. Hingga suatu ketika, Bu Surtini meninggal dunia karena radang paru-paru yang dideritanya.
Saat istrinya meninggal, tak ada satu orang pun dari anak-anaknya yang datang ke pemakaman ibunya. Mbah Sujarwo sedih bukan main. Sungguh tega anak-anaknya kepada orang tua yang telah merawat mereka.
Tinggallah Mbah Sujarwo seorang diri di gubuk tua yang ditempatinya selama bertahun-tahun bersama keluarga yang dicintainya. Dia terus menerus bersedih. Hingga suatu hari, saat dia ingin menyeberang jalan, dia hampir tertabrak oleh mobil mewah. Untunglah sesuatu yang buruk tidak terjadi. Mbah Sujarwo tidak cedera sedikit pun. Dia tidak melihat mobil itu melaju kencang. Ternyata pemilik mobil mewah itu adalah seorang pengusaha kaya dari Jakarta. Orang itu mengantar Mbah Sujarwo pulang ke rumahnya.
“Rumah Mbah dimana ?”tanya pengusaha kaya yang kuketahui namanya adalah Pak Andi Hartawijaya.
“Di gang kemerdekaan belok kiri sedikit, Nak.”jawabnya.
“Kenapa keluarga Mbah tidak menjemput Mbah saja? Mereka kan tahu keadaan Mbah.”
Mbah Sujarwo lalu menceritakan nasib yang sedang dialaminya kepada pengusaha kaya itu. Mendengar hal itu, Pak Andi yang sedari kecil tidak mengenal orang tuanya itu bermaksud ingin mengangkat Mbah Sujarwo sebagai ayah angkatnya dan dia juga ingin mengajak Mbah Sujarwo tinggal di rumahnya yang mewah. Pak Andi adalah seorang anak dari pengusaha sukses di Jakarta. Kedua orang tuanya meninggal karena kecelakaan yang menimpa mereka saat Pak Andi masih kecil. Mbah Sujarwo pun merasa senang dengan maksud Pak Andi. Akhirnya mereka tinggal bersama di rumah megah milik Pak Andi.
Suatu ketika, saat nonton TV di ruang keluarga, terdengar kabar bahwa kantor instansi pemerintah yang ditempati bekerja oleh putra Mbah Sujarwo terbakar. 26 orang tewas dan yang lainnya luka-luka. Yang tewas termasuk putra dari Mbah Sujarwo. Mendengar berita itu, Mbah Sujarwo merasa sedih skali. Dia shock atas peristiwa yang menimpa putranya. Bagaimanapun, dia tetap putranya, walaupun putranya itu telah durhaka terhadap orang tuanya, tapi Mbah Sujarwo sudah mmaafkannya.
Sebulan kemudian, tersiar kabar bahwa sebuah pesawat jatuh hingga ke dasar lautan. Penyebabnya adalah cuaca buruk. Tak ada penumpang yang selamat dalam kecelakaan pesawat itu termasuk awak pesawatnya. Dan ternyata salah satu penumpang dari pesawat itu adalah putri Mbah Sujarwo yang sedang melakukan perjalanan ke Bali. Naas nasibnya. Dia malah tewas dalam kecelakaan itu.
“Jadi, begitulah Nak ceritanya.”kata Mbah Sujarwo sambil menyeka air matanya.
Saat berhenti di shelter JEC, seorang laki-laki gagah yang mengenakan jas dan dasi naik ke bus. Namun ternyata dia bukanlah penumpang dari bus ini. Matanya menoleh kesana-sini mencari seseorang. Kemudian matanya tertuju kepada sosok Mbah Sujarwo yang duduk disamping kami. Dia mendekati Mbah Sujarwo.
Mbah, saya sudah datang.”bisiknya.
Dia menuntun Mbah Sujarwo turun dari bus. Sebelum Mbah Sujarwo beranjak pergi, beliau menyatakan sesuatu pada kami.
“Jangan pernah sia-siakan orang tua kalian, Nak.”katanya sambil tersenyum.
“Terima kasih banyak, Mbah atas pengalaman yang tak terlupakan ini.”kataku.
“Sama-sama, Nak.”
Mbah Sujarwo memegang jas lelaki itu dan lelaki itu pun menuntun Mbah Sujarwo turun dari bus. Bus kembali melaju. Dari kejauhan, aku memperhatikan lelaki itu membukakan pintu mobil mewahnya untuk Mbah Sujarwo. Dan barulah aku sadari bahwa lelaki yang bersama Mbah Sujarwo itu adalah Pak Andi Hartawijaya, pengusaha terkenal di Jakarta. Bus melaju dengan kencangnya. Dan sosok Mbah Sujarwo dan anak angkatnya sudah tidak terlihat lagi.
“Kau tahu apa yang kita dapatkan hari ini, Ren ?”tanyaku pada Reni.
“:Apa ?”Reni bertanya balik seakan mengejek.
Emangnya kamu tahu ?”aku balas mengejek. Reni terdiam.
“Jangan pernah sia-siakan orang tua kita.”kataku sambil tersenyum.
“Betul itu. Setuju 200 %. Hahaha….”kata Reni sambil tertawa terkekeh.
“Huh, dasar. Itu kan kata-kataku.”
“Biarin aja. Kita kan sepemikiran, hahaha.”kata Reni tidak mau kalah.
Yo wes, karepmu.” Tapi satu hal lagi nih, Ren.”
“Apa lagi ?”tanyanya gemes.
“Mm….”
“Apa ?”tanya Reni penasaran.
I’m coming, Prambanan…..Hahaha….”kataku sambil tertawa.
“Huh…Dasar… Ani….”
Reni tersenyum manis. Aku juga tersenyum padanya. Bus melaju dengan kencangnya menuju Prambanan.


By Fakhriyah HS

[1] Nuwun sewu, Mbah = permisi, kek.
[2] Wonten nopo, nduk = ada apa, nak?
[3] Mboten menopo, mbah = tidak apa-apa, kek.
[4] Angsal mboten = boleh tidak?

1 Komentar:

Pada 25 Juli 2016 pukul 07.22 , Blogger Unknown mengatakan...

ASSALAMU ALAIKUM WR,WB..
PERKENALKAN NAMA SAYA IBU SARINAH SEORANG GURU HONOR YG INGIN MENAFKAHI TIGA ORANG ANAK YG MASIH KECIL SUAMI YG SELALU SAKIT-SAKITAN UTANG SANA SINI ,INGIN BERBAGI CERITA KEPADA SAUDARA,JIKA ANDA INGIN MERUBAH NASIB ANDA DENGAN CARA MAIN TOGEL ASALKAN YAKIN DAN PERCAYA DENGAN ANGKA YANG BELIAU BERIKAN INSYA ALLAH PASTI ANDA JAUH DARI UTANG ,MENGAPA SAYA MANGATAKAN DEMIKIAN KARENA ANGKA YANG MAU DI BUAT PASANG TOGEL BELIAU BERIKAN NANTINYA SUDAH BELIAU MASUKKAN MAHLUK GHOIB/ JINN YANG BELIAU SEMBAH SEBELUM MENDAPAT ANGKA BOCORAN TOGEL SGP / HKG/ MALAYSIA.MAKA DARI ITU JANGAN REMEHKAN ANGKA BELIAU KARNA TIDAK SEMUDAH YANG ANDA FIKIRKAN DENGAN APA YANG TERJADI DENGAN SAYA.SEBELUM BERGABUNG ANDA FIKIR BAIK-BAIK KARNA SAMA SEKALI TIDAK ADA UNSUR PAKSAAN ATAU RAYUAN,JIKA ANDA BUTUH ANGKA GHOIB/RITUAL 2D- 3D -4D- 5D UNTUK TOGEL SGP/HKG/ MALAYSIA.DI JAMIN JEBOL SELAMA 5 KALI PUTARAN MONGGOO HUBUNGI AKI RORO DI NMR 082-336-642-456 INSYA ALLAH BELIAU MENGELUARKAN ANGKA GHOIB YANG BENAR-BENAR PAS DAN AKURAT BUKTINYA MALAM SAYA MENANG DENGAN ANGKA YAITU 4D 3105 DAN ALHAMDULILLAH SAYA DAPAT HASIL Rp 177 JUTA,,,TERIMA KASIH AKI ATAS BANTUANMU SAYA SUDAH MELUNASI UTANG SAYA DIBANK SEBANYAK 25 JUTA RUPIAH .DAN ALHAMDULILLAH DAN SAYA JUGA SUDAH BUKA KIOS ALAT-ALAT PERLENGKAPAN SEKOLAH DIDEPAN RUMAH.SEKALI LAGI TERIMA KASIH AKI ATAS BANTUANMU. SEMOGA ALLAH MEMBERIKAN UMUR YG PANJANG BURUAN TEMAN KESEMPATAN TIDAK DATANG 2 KALI TERIMA KASIH WASSALAM…….

 

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda