Hai, Namaku Cing!
Namaku
Cing. Kalian heran kenapa namaku Cing? Tidak usah heran dengan wajah melongo
begitu, kawan-kawan. Nama lengkapku Cacing Tanah, dipanggil Cing. Nama kerenku,
Lumbricus Rebellus. Buset, keren
sekali yak… seperti nama orang-orang Yunani zaman bahola dan jika kalian
memanggilku dengan nama keren itu, aku pun merasa aku hidup di zaman Yunani
kuno. Jadi, jangan memanggilku seperti itu. Ini zaman modern, guys. Panggil saja aku, Cing.
Ya,
aku memang sejenis makhluk melata yang sebagian orang menganggapku
menjijikkan. Tapi hei, aku tidak
semenjijikkan yang kalian bayangkan.
Buktinya, aku tidak bau. Sampah yang dibuang oleh makhluk sombong
bernama manusia itu jauh lebih bau dariku. Jadi, singkirkan pikiran kalian
tentang seberapa menjijikkannya diriku. Oh iya, aku sangat benci makhluk hidup
yang bernama manusia. Kalian mau tahu kenapa?
Alasan
pertama, kenapa aku membenci manusia, seperti ini kronologis ceritanya. Suatu
hari, seperti biasa aku selalu berjalan –maksudku melata, di lingkungan tempat
tinggalku. Biar kujelaskan bagaimana lingkungan tempat tinggalku. Aku biasanya
hidup di atas tanah-tanah lembab dan basah. Entahlah tempat ini namanya apa. Kalian
bisa memikirkannya sendiri.
Di
saat aku sedang sibuk mengais-ngais tanah untuk mencari makan, tiba-tiba saja
dua orang remaja menumpahkan sekantong plastik sampah anorganik tepat di
tempatku berpijak.
“Cepat,
Boy. Buang saja sampahnya disitu.”seorang remaja laki-laki berbadan gemuk
berbisik kepada temannya, sambil celingak celinguk menoleh ke belakang.
“Tapi
kan, kalau kita buang sampah disini, namanya kita buang sampah sembarangan,
Dul. Kamu tidak lihat tulisan dekat pagar kawat itu ‘DILARANG BUANG SAMPAH DI
SEPANJANG JALANAN INI’.”
“Ah,
peduli amat. Yang penting, tidak ada orang yang melihat.”
Setelah
itu, mereka benar-benar membuang sampahnya di atas kepalaku. Jahat sekali
mereka. Tidakkah mereka tahu, aku ini juga makhluk hidup? Huh, kesal sekali
rasanya. Ya ampun, padahal sudah ada larangan buang sampah di tempatku ini,
tapi tetap saja mereka melakukannya. Dasar, manusia tidak tahu diri. Manusia
masa kini mungkin memang begitu.
Aku
sangat membenci manusia yang sering kali membuang sampah-sampah anorganik (kantong plastik, bungkus makanan berbahan plastik,
dan semacamnya) sembarangan. Tahu kenapa? Karena aku tidak bisa makan
sampah-sampah itu. Hei, aku hanya memakan sampah organik. Begini-begini, aku
juga pemilih makanan. Aku tidak bisa memakan sampah-sampah plastik. Jadi, jika
manusia membuang plastik sembarangan, maka itu mencemari makananku. Tidakkah manusia tahu kalau aku
tidak punya gigi dan perut baja yang mampu mencerna plastik?
Bukan
hanya aku yang mengeluh tentang perilaku manusia yang sombong itu. Sahabatku,
si Bakteri Pengurai, makhluk sangat kecil yang bahkan aku pun tidak bisa
melihatnya. Dia juga mengeluh.
“Ah,
sialan.”sungut si bakteri suatu hari. Aku mendengarnya tapi tidak bisa
melihatnya.
“Ada
apa, Ri?”tanyaku.
“Aku
tidak bisa melaksanakan tugasku dengan maksimal, Cing. Manusia jaman sekarang, suka
sekali menggunakan kemasan atau kantong plastik. Tidakkah mereka tahu kalau
kantong plastik sangat sulit untuk diuraikan. Butuh waktu seribu tahun, Cing.
Bayangkan saja, seribu tahun. Cicit-cicitku di masa depan pun belum tentu bisa
menguraikannya.”
“Wah,
lama sekali ya.”
“Dasar
manusia egois, hanya mementingkan diri sendiri.”umpat si Bakteri lagi.
Selanjutnya,
alasan kedua, kenapa aku sangat membenci makhluk sombong itu, karena mereka
sama sekali tidak memiliki rasa terima kasih padaku. Mereka malah mau
membunuhku, walaupun aku tahu mereka tidak bermaksud begitu. Mereka menggunakan
racun yang terbuat dari zat-zat kimia ketika hama menyerang sawah mereka.
Tidakkah
mereka sadar, itu bisa membunuhku? Padahal akulah yang menggemburkan sawah
mereka. Asal kalian tahu, kotoranku mengandung hormon-hormon yang tidak dimiliki
kompos biasa, dan hormon itulah yang bisa menggemburkan tanah. Jadi, kenapa
mereka harus menggunakan pupuk kimia yang mencemari lingkungan dan malah
berusaha membunuhku? Padahal akulah yang mereka butuhkan. Dasar makhluk sombong
tidak berperasaan.
Sungguh
hidupku begitu menyedihkan. Aku berbuat begitu baik kepada manusia, tetapi
mereka malah ingin menyingkirkanku walaupun tidak disengaja. Seperti pepatah
yang terkenal di kalangan manusia “Air susu dibalas dengan air tuba”.
Kebaikanku yang tulus ini dibalas dengan kejahatan yang begitu sadis. Mereka
memuja-muja kebaikanku tetapi malah berusaha menyingkirkanku.
Apakah
karena aku makhluk kecil yang menyedihkan, hingga para makhluk sombong itu
menganggapku remeh? Asal tahu saja, aku mempunyai kekuatan yang luar biasa.
Kalian tidak percaya? Itu hak kalian. Aku tidak memaksa kalian untuk
mempercayaiku. Aku hanya mengatakan yang sebenarnya.
Kekuatan
luar biasaku ini bisa mencapai 40 kali dari berat badanku. Jika berat badanku satu ons, maka aku akan mampu
menanggung beban sebesar 40 ons. Jadi jangan pernah meremehkanku. Kuingatkan,
jangan pernah meremehkan kekuatanku!
Oke,
alasan ketiga aku sangat membenci manusia, karena mereka sangat sangat super
sombong dan perkataannya terkadang tidak konsisten. Kalian tahu kan kalau
mereka selalu berkoar-koar dengan program “Go
Green”-nya. Tapi, mana buktinya kalau mereka melaksanakan program itu?
Mana? Hah?
Aku
tidak menuduh, hanya saja aku punya bukti kalau mereka hanya bicara omong
kosong. Contohnya saja nih, mereka selalu bangga memperkenalkan program “Sistem
Tanam Seribu Pohon”, tapi apa yang mereka lakukan setelah berkoar-koar? Mereka
malah menebang pohon untuk kepentingan mereka.
Ya,
aku sangat paham kalau bumi ini diperuntukkan untuk memenuhi kepentingan
manusia. Aku paham itu. Tapi, parahnya, mereka melakukan penebangan pohon legal
maupun ilegal hanya karena benda yang sangat dipuja-puja manusia yang disebut
‘uang’. Ya ampun. Dasar manusia serakah.
Tidak
hanya sampai disitu, ada oknum tertentu dari kalangan manusia yang memanfaatkan
situasi bumi yang sudah carut marut akibat ulah mereka sendiri. Apalagi, kalau
bukan dalih mereka yaitu laksanakan program “Go Green”.
Mereka
adalah para pengusaha yang hanya mementingkan kepentingan sendiri daripada
kepentingan umat manusia. Mereka menawarkan produk “eco-green” nya yang less
plastic (buset, kata-kataku keren sekali yak, jangan salah, aku sering
mendengar percakapan manusia, jadi aku tahu) kepada para umat manusia, namun
ternyata itu hanya akal-akalan mereka untuk meraup lebih banyak keuntungan. Mereka
tetap saja menciptakan limbah dalam memproduksi apa yang mereka sebut dengan
produk “eco-green”. Jadi, apa yang
manusia sombong itu sudah lakukan untuk melaksanakan program “Go Green” yang mereka koar-koarkan?
Nah,
jadi aku tidak salah kalau aku sangat membenci makhluk sombong bernama manusia
itu. Makhluk egois, tidak tahu diri, dan hanya mengutamakan kepentingan
sendiri, tanpa memedulikan ekosistem yang ada di sekitar mereka.
Sori
aja ya. Aku tidak ada niat untuk berdamai dengan manusia. Selama mereka hanya
mementingkan diri sendiri dan berbuat seenaknya, aku akan raib dari tempat
mereka membutuhkanku. Aku tidak akan membantu mereka dalam bertani, tidak akan
menggemburkan tanah mereka lagi, aku akan benar-benar menghilang dari muka bumi
ini jika mereka tetap seperti itu.
Jadi,
jika mereka ingin aku kembali, aku rasa kalian tahu apa yang harus mereka
lakukan. Kurasa itu cukup gampang, kan?
Aku
rasa aku sudah banyak membuang waktuku hanya untuk membicarakan makhluk sombong
itu. Waktunya kembali ke lubangku dan aku akan menikmati kehidupanku di bawah
tanah. Aku berjanji tidak akan kembali ke permukaan tanah jika manusia masih
tetap seperti itu. Ingat janjiku! Tertanda : Cacing Tanah…
Oleh
:
Fakhriyah
HS


0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda