Jumat, 05 Juni 2015

Hai, Namaku Cing!


Namaku Cing. Kalian heran kenapa namaku Cing? Tidak usah heran dengan wajah melongo begitu, kawan-kawan. Nama lengkapku Cacing Tanah, dipanggil Cing. Nama kerenku, Lumbricus Rebellus. Buset, keren sekali yak… seperti nama orang-orang Yunani zaman bahola dan jika kalian memanggilku dengan nama keren itu, aku pun merasa aku hidup di zaman Yunani kuno. Jadi, jangan memanggilku seperti itu. Ini zaman modern, guys. Panggil saja aku, Cing.
Ya, aku memang sejenis makhluk melata yang sebagian orang menganggapku menjijikkan.  Tapi hei, aku tidak semenjijikkan yang kalian bayangkan.  Buktinya, aku tidak bau. Sampah yang dibuang oleh makhluk sombong bernama manusia itu jauh lebih bau dariku. Jadi, singkirkan pikiran kalian tentang seberapa menjijikkannya diriku. Oh iya, aku sangat benci makhluk hidup yang bernama manusia. Kalian mau tahu kenapa?
Alasan pertama, kenapa aku membenci manusia, seperti ini kronologis ceritanya. Suatu hari, seperti biasa aku selalu berjalan –maksudku melata, di lingkungan tempat tinggalku. Biar kujelaskan bagaimana lingkungan tempat tinggalku. Aku biasanya hidup di atas tanah-tanah lembab dan basah. Entahlah tempat ini namanya apa. Kalian bisa memikirkannya sendiri.
Di saat aku sedang sibuk mengais-ngais tanah untuk mencari makan, tiba-tiba saja dua orang remaja menumpahkan sekantong plastik sampah anorganik tepat di tempatku berpijak.
“Cepat, Boy. Buang saja sampahnya disitu.”seorang remaja laki-laki berbadan gemuk berbisik kepada temannya, sambil celingak celinguk menoleh ke belakang.
“Tapi kan, kalau kita buang sampah disini, namanya kita buang sampah sembarangan, Dul. Kamu tidak lihat tulisan dekat pagar kawat itu ‘DILARANG BUANG SAMPAH DI SEPANJANG JALANAN INI’.”
“Ah, peduli amat. Yang penting, tidak ada orang yang melihat.”
Setelah itu, mereka benar-benar membuang sampahnya di atas kepalaku. Jahat sekali mereka. Tidakkah mereka tahu, aku ini juga makhluk hidup? Huh, kesal sekali rasanya. Ya ampun, padahal sudah ada larangan buang sampah di tempatku ini, tapi tetap saja mereka melakukannya. Dasar, manusia tidak tahu diri. Manusia masa kini mungkin memang begitu.
Aku sangat membenci manusia yang sering kali membuang sampah-sampah anorganik  (kantong plastik, bungkus makanan berbahan plastik, dan semacamnya) sembarangan. Tahu kenapa? Karena aku tidak bisa makan sampah-sampah itu. Hei, aku hanya memakan sampah organik. Begini-begini, aku juga pemilih makanan. Aku tidak bisa memakan sampah-sampah plastik. Jadi, jika manusia membuang plastik sembarangan, maka itu mencemari  makananku. Tidakkah manusia tahu kalau aku tidak punya gigi dan perut baja yang mampu mencerna plastik?
Bukan hanya aku yang mengeluh tentang perilaku manusia yang sombong itu. Sahabatku, si Bakteri Pengurai, makhluk sangat kecil yang bahkan aku pun tidak bisa melihatnya. Dia  juga mengeluh.
“Ah, sialan.”sungut si bakteri suatu hari. Aku mendengarnya tapi tidak bisa melihatnya.
“Ada apa,  Ri?”tanyaku.
“Aku tidak bisa melaksanakan tugasku dengan maksimal, Cing. Manusia jaman sekarang, suka sekali menggunakan kemasan atau kantong plastik. Tidakkah mereka tahu kalau kantong plastik sangat sulit untuk diuraikan. Butuh waktu seribu tahun, Cing. Bayangkan saja, seribu tahun. Cicit-cicitku di masa depan pun belum tentu bisa menguraikannya.”
“Wah, lama sekali ya.”
“Dasar manusia egois, hanya mementingkan diri sendiri.”umpat si Bakteri lagi.
Selanjutnya, alasan kedua, kenapa aku sangat membenci makhluk sombong itu, karena mereka sama sekali tidak memiliki rasa terima kasih padaku. Mereka malah mau membunuhku, walaupun aku tahu mereka tidak bermaksud begitu. Mereka menggunakan racun yang terbuat dari zat-zat kimia ketika hama menyerang sawah mereka.
Tidakkah mereka sadar, itu bisa membunuhku? Padahal akulah yang menggemburkan sawah mereka. Asal kalian tahu, kotoranku mengandung hormon-hormon yang tidak dimiliki kompos biasa, dan hormon itulah yang bisa menggemburkan tanah. Jadi, kenapa mereka harus menggunakan pupuk kimia yang mencemari lingkungan dan malah berusaha membunuhku? Padahal akulah yang mereka butuhkan. Dasar makhluk sombong tidak berperasaan.
Sungguh hidupku begitu menyedihkan. Aku berbuat begitu baik kepada manusia, tetapi mereka malah ingin menyingkirkanku walaupun tidak disengaja. Seperti pepatah yang terkenal di kalangan manusia “Air susu dibalas dengan air tuba”. Kebaikanku yang tulus ini dibalas dengan kejahatan yang begitu sadis. Mereka memuja-muja kebaikanku tetapi malah berusaha menyingkirkanku.
Apakah karena aku makhluk kecil yang menyedihkan, hingga para makhluk sombong itu menganggapku remeh? Asal tahu saja, aku mempunyai kekuatan yang luar biasa. Kalian tidak percaya? Itu hak kalian. Aku tidak memaksa kalian untuk mempercayaiku. Aku hanya mengatakan yang sebenarnya.
Kekuatan luar biasaku ini bisa mencapai 40 kali dari berat badanku. Jika  berat badanku satu ons, maka aku akan mampu menanggung beban sebesar 40 ons. Jadi jangan pernah meremehkanku. Kuingatkan, jangan pernah meremehkan kekuatanku!
Oke, alasan ketiga aku sangat membenci manusia, karena mereka sangat sangat super sombong dan perkataannya terkadang tidak konsisten. Kalian tahu kan kalau mereka selalu berkoar-koar dengan program “Go Green”-nya. Tapi, mana buktinya kalau mereka melaksanakan program itu? Mana? Hah?
Aku tidak menuduh, hanya saja aku punya bukti kalau mereka hanya bicara omong kosong. Contohnya saja nih, mereka selalu bangga memperkenalkan program “Sistem Tanam Seribu Pohon”, tapi apa yang mereka lakukan setelah berkoar-koar? Mereka malah menebang pohon untuk kepentingan mereka.
Ya, aku sangat paham kalau bumi ini diperuntukkan untuk memenuhi kepentingan manusia. Aku paham itu. Tapi, parahnya, mereka melakukan penebangan pohon legal maupun ilegal hanya karena benda yang sangat dipuja-puja manusia yang disebut ‘uang’. Ya ampun. Dasar manusia serakah.
Tidak hanya sampai disitu, ada oknum tertentu dari kalangan manusia yang memanfaatkan situasi bumi yang sudah carut marut akibat ulah mereka sendiri. Apalagi, kalau bukan dalih mereka yaitu laksanakan program “Go Green”.
Mereka adalah para pengusaha yang hanya  mementingkan kepentingan sendiri daripada kepentingan umat manusia. Mereka menawarkan produk “eco-green” nya yang less plastic (buset, kata-kataku keren sekali yak, jangan salah, aku sering mendengar percakapan manusia, jadi aku tahu) kepada para umat manusia, namun ternyata itu hanya akal-akalan mereka untuk meraup lebih banyak keuntungan. Mereka tetap saja menciptakan limbah dalam memproduksi apa yang mereka sebut dengan produk “eco-green”. Jadi, apa yang manusia sombong itu sudah lakukan untuk melaksanakan program “Go Green” yang mereka koar-koarkan?
Nah, jadi aku tidak salah kalau aku sangat membenci makhluk sombong bernama manusia itu. Makhluk egois, tidak tahu diri, dan hanya mengutamakan kepentingan sendiri, tanpa memedulikan ekosistem yang ada di sekitar mereka.
Sori aja ya. Aku tidak ada niat untuk berdamai dengan manusia. Selama mereka hanya mementingkan diri sendiri dan berbuat seenaknya, aku akan raib dari tempat mereka membutuhkanku. Aku tidak akan membantu mereka dalam bertani, tidak akan menggemburkan tanah mereka lagi, aku akan benar-benar menghilang dari muka bumi ini jika mereka tetap seperti itu.
Jadi, jika mereka ingin aku kembali, aku rasa kalian tahu apa yang harus mereka lakukan. Kurasa itu cukup gampang, kan?
Aku rasa aku sudah banyak membuang waktuku hanya untuk membicarakan makhluk sombong itu. Waktunya kembali ke lubangku dan aku akan menikmati kehidupanku di bawah tanah. Aku berjanji tidak akan kembali ke permukaan tanah jika manusia masih tetap seperti itu. Ingat janjiku! Tertanda : Cacing Tanah…

Oleh :
Fakhriyah HS















0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda