Rumah Kaca dan Tulip Merah
Hampir setiap pagi
aku memandangimu. Di saat sinar mentari menerpa wajahmu, di saat kau
tersenyum kepada tukang koran yang lewat di depan rumahmu setiap
pagi, di saat kau mengantarkan secangkir teh panas kepada ibumu yang
sedang duduk di kursi roda, aku selalu memandangimu walau kau tidak
pernah menyadarinya.
Selalu ada banyak
cara yang aku lakukan untuk menunjukkan betapa aku mencintaimu.
Seperti menaruh sebatang cokelat di lokermu yang mulai berdebu karena
kau jarang membukanya, mengirimkanmu sepaket novel detektif yang
tidak pernah bosan kau baca, ataupun mengirimkanmu seikat bunga tulip
merah yang aku petik dan kurangkai dengan segenap jiwaku. Ketika kau
menerima semua itu, kau akan terlihat antusias dan tersenyum riang.
Wajahku akan memerah ketika kau mendapatiku tersenyum bersamamu.
Tidak ada yang lebih kuinginkan darimu melebihi senyum indah di
wajahmu yang membuat denyut nadiku semakin berdetak liar tak terarah.
Karena kau begitu indah.
Aku ingat pertama
kali aku bertemu denganmu. Saat itu, aku sedang memakan roti panggang
yang ada dalam kotak makan siangku seorang diri. Ya, aku memang
selalu sendiri. Tiba-tiba saja, kau mendekatiku dan langsung duduk di
sampingku.
“Itu roti
panggang?”kau bertanya antusias.
Aku mengangguk,
kemudian menunduk. Aku tidak pernah berani menatap wajahmu sedekat
itu, karena jantungku terasa akan melompat keluar.
“Boleh aku
mencicipinya?”kau bertanya lagi. Dan sekali lagi, aku hanya
mengangguk.
Kau semakin
mendekatkan tubuhmu ke arahku, dan aku bisa mencium aroma jagung
manis pada tubuhmu. Kau mencomot satu iris roti panggang lalu
memasukkannya dalam mulut.
“Mmm…mmm…ini
enak sekali. Roti panggang ini yang paling enak yang pernah aku
cicipi.”kau tersenyum ke arahku dan memperlihatkan satu lesung
pipit di pipi kananmu. “Siapa yang membuatnya?”
“A..a..aku yang
membuatnya.”akhirnya aku bersuara dengan susah payah.
Matamu berbinar
jenaka dan menampakkan keterkejutan. “Benarkah? Benarkah kau yang
membuatnya?”
Aku mengangguk.
“Kau mau
mengajariku?”kau bilang. Aku mendongak menatapmu, terkejut dengan
permintaanmu.
“B…boleh
saja.”kataku.
Kau tersenyum lagi
dan berkata, “Namaku Rose, dan siapa namamu?”
“Jack.”kubilang.
Matamu membulat terkejut ketika kubilang namaku Jack.
“Benarkah? Apakah
ini takdir?”kau berkata antusias. “Kau adalah Jack, dan aku Rose.
Kita seperti berada dalam film Titanic saja. Tanpa akhir yang tragis
perahu tenggelam, tentunya.”kau tergelak.
Aku ikut tergelak,
lalu kubilang padamu, “Aku bohong. Namaku Gilang.”
Tawamu terhenti, dan
seakan kau berpikir sejenak, kau menaikkan salah satu alismu yang
berwarna cokelat muda, lalu kemudian kau tergelak lagi. “Astaga,
Gilang. Aku tidak menyangka kau sangat pandai melucu.”
“Ngomong-ngomong,
Rose. Apakah kau suka dengan bunga mawar, sesuai dengan namamu?”aku
memberanikan diriku bertanya. Sejujurnya, aku memang penasaran dengan
namamu itu.
“Mmm…tidak. Aku
sama sekali tidak suka bunga mawar. Aku lebih menyukai bunga tulip
merah. Kau tahu Gilang? Bunga tulip merah melambangkan cinta abadi
yang tak pernah mati. Karena itu, aku sangat menyukainya.”garis
bibirmu tiba-tiba saja membentuk baris datar. Kau tidak tersenyum
riang seperti sebelumnya. Pandanganmu mengarah ke batas cakrawala
yang tak berujung, menatap dalam kearah sana, dan aku tidak tahu apa
yang kau pikirkan.
“Oh begitu.”aku
bergumam. Kupikir, aku akan memberikanmu bunga tulip merah setiap
hari, dan kuharap kau menyukainya.
“Kenapa kau
menanyakannya? Kau mau memberiku bunga tulip merah?”seakan bisa
membaca pikiranku, kau bertanya tanpa basa-basi.
Aku tersenyum dan
berkata, “Kupikir itu ide yang bagus.”
Akhirnya kau
memperlihatkan seulas senyum riang, bukan senyum datar seperti tadi,
dan aku tidak pernah bosan melihat senyumanmu itu.
“Gilang, kau ikut
aku. Akan kuperkenalkan kau kepada teman-temanku. Aku yakin, mereka
akan menyukaimu.” Tiba-tiba, kau menarik tanganku, lalu aku
menghentikanmu.
“Maafkan aku,
Rose. Sepertinya…aku tidak bisa pergi bersamamu.”aku menunduk
dalam.
“Kenapa?”kau
balik bertanya. Aku melirik kakiku dan pandanganmu pun beralih
mengikuti pandanganku. Lama kau terdiam. Ini yang aku takutkan ketika
aku memiliki teman. Aku memang sudah siap jika kau tidak mau berteman
denganku. Aku siap dengan apa yang akan kau katakan padaku.
Lalu kau berkata,
“Jangan khawatir. Mereka tidak akan meledekmu. Aku jamin itu. Akan
kubantu kau berjalan.”
Seperti sebuah angin
segar bagiku, seperti setitik air hujan yang menyiramiku setelah
bertahun-tahun kemarau panjang melanda, seperti sebuah oase di tengah
gurun, seperti air yang mengalir di tenggorokanku setelah dua hari
tidak minum, seperti itulah yang aku rasakan saat kau kembali menarik
tanganku.
Kau mengambil
tongkatku, kemudian menyampirkannya. Sebagai gantinya, kau bersedia
menjadi tongkatku. Tahukah kau kalau sikapmu itu semakin membuatku
menyukaimu? Tidak. Bukan. Aku tidak menyukaimu, tapi aku mencintaimu.
Sejak orang tuaku
meninggal, aku selalu melakukan segala sesuatu seorang diri. Kau tahu
kenapa? Karena tidak ada orang yang bisa kuandalkan. Semua temanku
tidak menerimaku karena aku tidak mempunyai kaki. Si kaki buntung,
itulah julukan yang selalu kuterima saat aku masih kecil hingga saat
ini.
Dan saat itu,
tiba-tiba saja kau datang, memakan roti panggang buatanku, mengajakku
berkenalan, dan mengenalkanku kepada teman-temanmu. Kau benar.
Teman-temanmu tidak meledekku. Mereka menyalamiku dan memperlakukanku
seperti perlakuanmu padaku. Mereka sangat baik dan tulus. Aku salah.
Tidak semua orang tidak mau menerimaku. Tidak semua orang seperti
teman-temanku waktu kecil. Kau dan teman-temanmu berbeda, karena
kalian begitu tulus padaku.
Kau orang pertama
yang mau berbicara padaku dan mengenalkanku pada dunia luar yang
selama ini aku takuti. Tahukah kau, jika detik itu juga aku merasa
begitu berharga? Kau mengubahku, mengubah perasaan rendah diriku
menjadi perasaan begitu dihargai. Aku merasa beruntung berada
disisimu.
Sejak saat itu, aku
selalu mengamatimu, menaruh batang cokelat di lokermu, mengirimkanmu
novel terbitan terbaru, dan mengirimkanmu seikat tulip merah setiap
hari, seperti yang sudah aku janjikan. Tahukah kau, kalau sejak aku
bertemu denganmu, aku membuat rumah kaca yang kutanami dengan bunga
tulip merah kesukaanmu? Aku menanam benih bunga itu dan setiap hari
aku sirami mereka hingga mereka tumbuh begitu subur. Kulakukan itu
semua dengan segenap jiwa dan ragaku.
Apakah aku sudah
mengatakan kalau aku mencintaimu sejak saat itu hingga saat ini? Ya,
sepertinya aku memang sudah mengatakannya. Maafkan aku jika kau bosan
mendengarnya. Tapi sungguh, aku sangat mencintaimu sejak saat pertama
kali kita bertemu, hingga saat ini, saat dimana jiwaku tak lagi
berada di dunia, dan ragaku terbaring damai diantara ribuan bunga
tulip merah kesukaanmu.
Maafkan aku karena
harus meninggalkanmu. Luka pada kakiku yang buntung sudah menjalar ke
seluruh tubuhku. Aku sudah tidak bisa bertahan lagi. Aku menyadari
itu sesaat setelah aku benar-benar mencintaimu hingga aku rela mati
karenamu. Tapi jangan khawatir, aku tidak benar-benar meninggalkanmu.
Seperti yang kau
bilang, tulip merah melambangkan cinta abadi yang tak pernah mati.
Oleh karena itu, aku ingin bersemayam diantara ribuan bunga tulip
merah kesukaanmu, karena cintaku padamu tak pernah mati. Tak ada yang
bisa menghalangiku mencintaimu bahkan kematian.
Kau ingat? Pernah
suatu hari kau bertanya padaku.
“Gilang, apakah
kau percaya dengan cinta abadi?”
Saat itu, aku tidak
menjawabmu, karena aku tidak yakin kau membutuhkan jawabanku atau
tidak. Tapi sekarang ini, aku akan menjawab pertanyaan itu, Rose. Ya,
aku percaya dengan cinta abadi. Aku sangat percaya. Oleh karena itu,
kupersembahkan rumah kaca milikku ini padamu. Bukti jika aku sangat
percaya dengan cinta abadi.
Setiap kali kau
merindukanku, kau bisa datang ke rumah kaca itu karena jiwa dan
ragaku terbaring diantara ribuan bunga tulip merah ini. Jangan pernah
menangisiku karena aku akan merasa jauh lebih sakit dari rasa sakit
yang kau rasakan. Tersenyumlah setiap kali kau mendatangiku.
Tersenyumlah selalu, Rose, karena kau tidak akan menyangka kalau aku
selalu memandangimu walau kau tidak pernah menyadarinya.
Kupersembahkan pula ribuan tulip merah untukmu, Rose, pertanda
cintaku padamu adalah cinta yang abadi.
by Fakhriyah HS

0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda