Jumat, 05 Juni 2015

XENA


Waktu terasa terhenti ketika dia berjalan menuju ke arahku kemudian tersenyum padaku dan berlalu begitu saja dari hadapanku. Aku hanya dapat berdiri terpaku, lebih tepatnya terpesona ketika dia melambaikan tanga padaku.
Gadis itu namanya Xena. Dia adalah tetanggaku sekitar dua minggu ini. Dia seorang keturunan Cina asli. Matanya supit, kulitnya putih bersih seperti kulit bayi, hidungnya mancung, bibirnya tipis, dan rambutnya panjang tergerai sampai punggungnya. Umurnya kira-kira masih 17 tahun.
Oh ya, aku hampir lupa memperkenalkan diriku. Namaku Andre Setyawan. Orang-orang biasa memanggilku dengan sapaan Andre. Aku masih berumur 19 tahun dan sekarang aku kuliah di sebuah universitas negeri di Surabaya. Hanya itu saja bocoran tentangku, karena kali ini aku tidak ingin berbicara tentang diriku. Tapi aku ingin menceritakan kepada kalian tentang seorang gadis bernama Xena.
Xena, begitu indah nama itu terdengar di telingaku. Aku tak tahu mengapa aku begitu suka dengan nama itu. Aku sendiri bingung. Aku suka nama itu dan juga...aku menyukai pemilik nama itu.
***
Tiga minggu lalu, tetanggaku yang lama pindah ke Bandung. Rumahnya tepat bersampingan dengan rumahku. Seminggu kemudian rumah itu ditempati oleh Xena dan keluarganya. Katanya mereka baru saja datang dari Cina dan berencana menetap di Indonesia. Sebenarnya orang tua Xena sudah lama tinggal di Indonesia kemudian mereka kembali ke Cina dan kembali ke Indonesia lagi bersama Xena.
Pertama kali aku melihatnya, ketika Xena sedang membuka jendela kamarnya di lantai dua. Kebetulan kamarku juga berada di lantai dua. Jadi posisi jendela kamarku berhadapan dengan jendela kamarnya. Aku begitu terpesona melihat kecantikannya yang alami, tanpa kosmetik yang menutupinya. Kalau aku membandingkannya dengan artis-artis Asia, dia mirip dengan Rainie Yang. Selain cantik dia juga imut dan murah senyum. Saat aku menatapnya, dia tersenyum padaku. Aku pun membalas senyumannya. Hatiku berdesir. Entah kenapa. Tapi aku rasa aku menyukai gadis itu.
“Hei...”teriakku padanya sambil melambaikan tangan. Dia hanya tersenyum tanpa membalas teriakanku.
Hari demi hari berlalu, tapi aku belum pernah berkunjung ke rumahnya walau hanya untuk bertegur sapa. Namanya pun aku tahu dari ayah danibuku yang sering ke rumah Xena. Dan pada hari ini aku memutuskan untuk mampir ke rumahnya.
“Selamat sore.”teriakku seraya membunyikan bel rumahnya.
Seorang wanita muda membukakan pintu untukku sambil tersenyum ramah. Wanita itu kira-kira seumuran ibuku.
“Silakan masuk. Kamu pasti Andre. Anaknya Pak Donny, tetangga sebelah, iya kan?”
“Iya, bener tante. Oh ya, tante. Boleh nggak aku ketemu sama putri tante?”
“Tente aja boleh. Silakan duduk Nak Andre.”
“Makasih tante.”
Aku mendengar sekilas wanita itu memanggil putrinya dan menyuruhnya menemuiku. Hatiku kembali berdebar kencang. Baru kali ini aku bertatap muka langsung dengannya. Beberapa saat kemudian, dia datang menghampiriku dan duduk tepat di kursi yang ada di depanku.
“Hei Xena. Apa kabar?”aku memulai pembicaraan hanya untuk sekedar berbasa basi dengannya. Namun dia hanya diam dan tersenyum. Mungkin dia malu padaku.
“Kamu sekolah dimana sekarang?”tanyaku lagi. Lagi-lagi dia hanya tersenyum padaku. Aku menjadi kikuk sendiri. Aku pun kembali bertanya padanya dengan topik lain.
“Oh ya, minggu depan ayah dan ibu akan mengadakan pesta kebun. Kamu ikut ya?”
Dia mengangguk dan tersenyum. Tapi ada yang aneh dengannya. Mengapa dia tidak mau berbicara padaku. Apakah karena suaranya jelek hingga dia takut aku meledeknya. Kalian tahu, aku tidak akan berbuat begitu kan. Lalu aku kembali berbicara padanya.
“Oh ya. Namaku Andre.” Seperti biasa dia hanya tersenyum dan mengangguk. Kesal juga aku dibuatnya. Mengapa dia hanya mengangguk dan tersenyum? Mengapa dia tidak mau berbicara? Apakah dia takut padaku? Atau aku memang nggak pantas berbicara dengan gadis secantiknya? Semua pertanyaan itu muncul dalam benakku dan kesadaranku pun habis. Aku berteriak dan marah, tapi seharusnya aku tidak berteriak sekeras itu. Tapi mau gimana lagi, semua udah terlanjur.
“Heh, Xena. Kenapa kau tidak mau berbicara denganku? Kau takut padaku? Atau kau tidak paham ucapanku sama sekali?”
Kulihat dia terkejut, tapi dia tetap saja terdiam tanpa menngeluarkan sepatah kata pun dari mulutnya.
“Kenapa kau diam? Atau aku nggak pantas bicara denganmu? Apakah suaramu begitu mahal kau berikan untukk berbicara dengan orang sepertiku?”
Dia menggeleng dan tetap tak berbicara. “Oh begitu? Aku tahu sekarang. Makasih.”kurasa nada suaraku naik satu oktaf. Sekilas aku memandangnya. Dia semakin terkejut dengan perbuatanku dan mulai meneteskan air mata. Aku pun panik. Aku sama sekali nggak tahu bagaimana menenangkan hati wanita.
“Xena, maafkan aku. Aku nggak bermaksud menyakiti hatimu dengan perkataanku. Kumohon, diamlah. Berhentilah menangis.”
Mendengar keributan itu, ibu Xena keluar menemui kami.
“Ada apa Nak Andre? Kenapa...”kata-katanya terputus ketika dia melihat putrinya menangis tanpa suara.
“Nak, kenapa kau menangis?”katanya merangkul putrinya.
“Kau apakan dia, Nak Andre? Kenapa dia sampai menangis seperti ini?” Ibu Xena menatapku tajam. Aku pun gugup.
“Nggak tante. Nggak aku apa-apain. Aku hanya membentaknya, soalnya aku kesal tante. Dia nggak mau bicara padaku.”
“Kau membentaknya?”
“Ya tante. Maaf.”
“Dia...dia bisu Nak.”kata Ibu Xena sambil menangis.
“Apa???”aku terkejut. Jantungku kembali berdetak kencang.
Xena bisu. Jadi...dia nggak berbicata padaku karena dia bisu, bukan karena dia nggak mau. Aku...aku merasa sangat bersalah padanya. Aku menyesal telah membentaknya sekeras itu.
“Maafkan aku. Aku nggak tahu kalau kau.... aku menyesal.”
“Udahlah, sebaiknya Nak Andre pulang.”
Aku pun beranjak pergi. Sekilas aku memperhatikan wajah Xena yang sudah memerah karena menangis. Xena maafkan aku. Aku sama sekali nggak tahu tentangmu aku telah menyakitimu. Aku pulang ke rumah dengan perasaan tak karuan. Aku berjanji aku akan meminta maf kepadanya.
Keesokan harinya, aku pergi ke toko bunga. Aku ingin membeli bunga untuk Xena. Kata ibunya, dia suka sekali dengan mawar kuning. Aku baru pertama kali membeli bunga untuk seorang gadis. Aku sama sekali belum tahu bagaimana cara memberi bunga kepada gadis itu. Jadi aku meminya kepada pelayan toko bunga itu untuk mengajarku. Kata pelayan toko itu juga, wanita menyukai cokelat. Aku memutuskan untuk memberi bunga dan cokelat kepada Xena sebagai permintaan maafku kepadanya. Aku harap dia senang dan mau memaafkanku.
Setelah mampir ke toko bunga, aku langsung ke rumah Xena. Kusembunyikan bunga di belakangku dan aku menekan bel rumahnya. Hatiku kembali berdegup kencang. Apakah Xena mau memaafkanku? Tuhan, tolong aku.
Sesaat kemudian seorang wanita cantik nan jelita dengan tahi lalat kecil di pipinya membukakan pintu untukku. Itu Xena.
“Hei Xena.”kataku saat di membuka pintu. Dia pun tersenyum ramah padaku. Aku sedikit lega melihat senyumannya yang manis. Setelah itu aku memberinya bung dan cokelat yang baru saja aku beli untuknya. Dia pun tersenyum dan tampak senang. Aku masuk dan duduk di ruang tamu rumahnya. Seperti biasa dia duduk di kursi di depanku.
“Xena, aku minta maaf soal kemarin. Aku menyadari kesalahanku. Aku...”ucapanku terhenti ketika dia beranjak pergi dari hadapanku. Aku rasa dia tidak mau memaafkanku. Jadi aku putuskan untuk beranjak pergi. Apa lagi yang aku lakukan disini. Aku memang sudah keterlaluan kepadanya.
Saat aku melangkahkan kakiku keluar dari rumahnya, seseorang memegang lenganku erat. Erat sekali. Aku berbalik dan ternyata itu Xena. Dia menggunakan isyarat dengan mengerlingkan matanya seakan menyuruhku untuk duduk kembali. Aku pun mengikutinya. Aku melirik. Ditangannya sudah ada kertas kosong dan pulpen. Ternyata dia pergi mengambil kertas dan pulpen agar dia bisa berkomunikasi denganku. Bukan karena dia tidak mau memaafkanku.
“Xena, sekali lagi maafkan aku. Aku nggak bermaksud membentakmu. Aku hanya...”ucapanku terhenti ketika dia menempelkan telunjuknya di bibirnya seakan menyuruhku untuk tidak melanjutkan perkatakaanku. Setelah itu dia menulis di kertas kosong itu dan memberikannya padaku.
Aku sudah memaafkanmu. Aku juga minta maaf karena telah membuatmu nggak enak hati. Jadi, kau akan tetap menjadi temanku?
“Ya, Xena. Kau akan tetap menjadi temanku. Bukan hanya sekedar teman, tapi teman baik.”kataku. Senyum pun merekah di wajah cantiknya.
***
Tiga hari berlalu. Aku tidak pernah lagi ke rumah Xena. Kesibukanku dalam menjalani masa pendidikanku di universitas membuatku jarang bertemu dengannya. Lagi pula rumahnya kosong. Katanya ada yang sakit. Sekarang mereka ada di rumah sakit. Aku tidak tahu juga pastinya siapa yang sakit. Kabar itu pun aku dengar dari seorang tetanggaku. Jadi aku memutuskan untuk menjenguk mereka di rumah sakit.
Sesampainya aku di rumah sakit, aku langsunng menuju ke kamar rumah sakit yang dimaksud. Saat aku tiba di depan kamar itu, kulihat ayah Xena sedang memeluk ibu Xena yang sedang menangis. Kalau bukan orang tua Xena yang sakit, berarti dia yang sakit. Lagi pula Xena juga tidak pernah kelihatan batang hidungnya. Berarti benar, dia yang sakit. Aku pun berjalan ke arah mereka.
“Om, Tante, ada apa? Apakah Xena baik-baik saja?”
Ibu Xena tak bisa berkata apa-apa. Dia hanya menangis di pelukan suaminya. Jantungku pun berdebar lebih kencang. Ada apa dengan Xena? Apakah dia...
“Xena baik-baik aja, Nak Andre.”jawab ayah Xena.
“Syukurlah. Tapi kenapa tante menangis, Om?”
“Xena memang baik-baik aja, tapi kembarannya, Ruu, baru aja meninggal, Nak.”
Apa? Xena punya kembaran? Tapi setahuku Xena anak tunggal. Lagi pula aku tidak pernah melihat kembarannya itu.
“Sebenarnya Xena sakit keras. Dia divonis oleh dokter bahwa dia mengidap penyakit gagal ginjal. Dia nggak pernah keluar kamar. Setiap hari dia hanya menangis dan mengurung dirinya di kamar. Dia sangat putus asa sekali. Untung saja ada Ruu, kembarannya yang selali menjadi tempat keluh kesahnya. Ruu membuat Xena ceria kembali. Yah walaupun Ruu bisu, tapi dia pandai membuat Xena tertawa.
Apa??? Ruu bisu. Jadi,..mungkinkah. Tunggu dulu.
“Om, apakah Xena bisu?”
“Nggak Nak. Xena nggak bisu. Xena normal. Tapi Ruu yang bisu. Dan Xena nggak pernah keluar kamar kecuali dia ingin makan.”
Jadi gadis yang selama ini aku temui bukan Xena tapi Ruu. Ya dia Ruu yang bisu. Dan artinya Ruu yang kukenal sebagai Xena telah...meninggal. Jantungku berdebar kencang. Aku sangat terkejut.
“Tapi kenapa Ruu bisa meninggal, Om?”
“Dia sesak nafas. Kami langsung membawanya ke rumah sakit. Sebelum dia meninggal dia berwasiat agar setelah dia meninggal dia ingin mendonorkan kedua ginjalnya kepada Xena. Sekarang Xena sedang menjalani operasi.”
***
 Beberapa saat kemudian, ruang operasi terbuka. Seorang dokter berjalan terburu-buru mendekati orang tua Xena.
“Bagaimana, dokter? Apakah operasinya berjalan lancar?”
“Ya, syukurlah Pak. Operasinya berjalan lancar. Xena sudah mendapatkan ginjal dari saudaranya dan kedua ginjalnya sudah berfungsi dengan baik.”
“Syukurlah. Apakah kami boleh melihatnya sekarang Dok?”
“Silakan, Pak. Kalau begitu saya permisi dulu.”
“Terima kasih, Dokter.”
“Sama-sama, Pak.”
Aku berjalan mengikuti kedua orang tua Xena memasuki sebuah ruangan. Aku melihat wajah Xena yang sangat mirip dengan Ruu. Yang membedakannya hanya tahi lalat kecil di pipinya. Ruu memilikinya, sedangkan Xena tidak. Dia belum sadar. Aku berada di samping kirinya sedangkan orang tuanya berada di samping kanannya. Akhirnya, dia sadar setelah obat biusnya habis. Xena membuka matanya perlahan dan melihat orang tuanya, kemudian melihatku.
Aku pikir dia akan terkejut melihatku, melihat orang yang tidak dia kenal. Tapi aku salah. Dia malah tersenyum. Senyum itu mengingatkanku pada Ruu, mirip sekali.
“Kamu pasti Andre. Ruu bercerita banyak tentangmu. Kamu orang yang sangat baik. Aku Xena, saudara kembarnya Ruu.”katanya menjabat tanganku.
Ternyata dia memang Xena. Tapi bukan Xena yang aku kenal. Dia orang yang berbeda. Dia normal. Dia tidak seperti Ruu. Aku tersenyum padanya. Ternyata orang yang aki kira Xena selama ini adalah Ruu, orang yang yang aku sapa Xena adalah Ruu. Inilah Xena yang sebenarnya. Tapi aku tidak akan melupakan Xena... eh maksudku Ruu. Senyumnya, sorotan matanya yang bening. Aku... aku tidak akan bisa melupakannya. Aku menyayanginya.
Sekarang aku berhadapan dengan orang yang berbeda tetapi wajah yang sama. Aku tidak bisa membohongi hatiku bahwa aku pun menyayangi Xena. Mungkin aku masih menganggapnya sebagai Ruu, tapi dia bukan Ruu, sama sekali bukan Ruu.
Hari itu juga hari pemakaman Ruu. Aku datang kesana dan melihat Ruu untuk yang terakhir kalinya. Ditengah kesedihanku aku merasa sangat beruntung dipertemukan dengan orang seperti Ruu, dan sekarang aku bertemu dengan orang yang mirip dengan Ruu, Xena yang aslli. Mungkin Ruu juga menginginkan aku menyayangi saudaranya. Kini aku hanya dapat berdo’a mudah-mudahnan dia diterima di sisi Tuhan. Amiin.
Fakhriyah HS

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda