XENA
Waktu
terasa terhenti ketika dia berjalan menuju ke arahku kemudian tersenyum padaku
dan berlalu begitu saja dari hadapanku. Aku hanya dapat berdiri terpaku, lebih
tepatnya terpesona ketika dia melambaikan tanga padaku.
Gadis
itu namanya Xena. Dia adalah tetanggaku sekitar dua minggu ini. Dia seorang
keturunan Cina asli. Matanya supit, kulitnya putih bersih seperti kulit bayi,
hidungnya mancung, bibirnya tipis, dan rambutnya panjang tergerai sampai
punggungnya. Umurnya kira-kira masih 17 tahun.
Oh
ya, aku hampir lupa memperkenalkan diriku. Namaku Andre Setyawan. Orang-orang
biasa memanggilku dengan sapaan Andre. Aku masih berumur 19 tahun dan sekarang
aku kuliah di sebuah universitas negeri di Surabaya. Hanya itu saja bocoran
tentangku, karena kali ini aku tidak ingin berbicara tentang diriku. Tapi aku
ingin menceritakan kepada kalian tentang seorang gadis bernama Xena.
Xena,
begitu indah nama itu terdengar di telingaku. Aku tak tahu mengapa aku begitu
suka dengan nama itu. Aku sendiri bingung. Aku suka nama itu dan juga...aku
menyukai pemilik nama itu.
***
Tiga
minggu lalu, tetanggaku yang lama pindah ke Bandung. Rumahnya tepat
bersampingan dengan rumahku. Seminggu kemudian rumah itu ditempati oleh Xena
dan keluarganya. Katanya mereka baru saja datang dari Cina dan berencana
menetap di Indonesia. Sebenarnya orang tua Xena sudah lama tinggal di Indonesia
kemudian mereka kembali ke Cina dan kembali ke Indonesia lagi bersama Xena.
Pertama
kali aku melihatnya, ketika Xena sedang membuka jendela kamarnya di lantai dua.
Kebetulan kamarku juga berada di lantai dua. Jadi posisi jendela kamarku
berhadapan dengan jendela kamarnya. Aku begitu terpesona melihat kecantikannya
yang alami, tanpa kosmetik yang menutupinya. Kalau aku membandingkannya dengan
artis-artis Asia, dia mirip dengan Rainie Yang. Selain cantik dia juga imut dan
murah senyum. Saat aku menatapnya, dia tersenyum padaku. Aku pun membalas
senyumannya. Hatiku berdesir. Entah kenapa. Tapi aku rasa aku menyukai gadis
itu.
“Hei...”teriakku
padanya sambil melambaikan tangan. Dia hanya tersenyum tanpa membalas
teriakanku.
Hari
demi hari berlalu, tapi aku belum pernah berkunjung ke rumahnya walau hanya
untuk bertegur sapa. Namanya pun aku tahu dari ayah danibuku yang sering ke
rumah Xena. Dan pada hari ini aku memutuskan untuk mampir ke rumahnya.
“Selamat
sore.”teriakku seraya membunyikan bel rumahnya.
Seorang
wanita muda membukakan pintu untukku sambil tersenyum ramah. Wanita itu
kira-kira seumuran ibuku.
“Silakan
masuk. Kamu pasti Andre. Anaknya Pak Donny, tetangga sebelah, iya kan?”
“Iya,
bener tante. Oh ya, tante. Boleh nggak aku ketemu sama putri tante?”
“Tente
aja boleh. Silakan duduk Nak Andre.”
“Makasih
tante.”
Aku
mendengar sekilas wanita itu memanggil putrinya dan menyuruhnya menemuiku.
Hatiku kembali berdebar kencang. Baru kali ini aku bertatap muka langsung
dengannya. Beberapa saat kemudian, dia datang menghampiriku dan duduk tepat di
kursi yang ada di depanku.
“Hei
Xena. Apa kabar?”aku memulai pembicaraan hanya untuk sekedar berbasa basi
dengannya. Namun dia hanya diam dan tersenyum. Mungkin dia malu padaku.
“Kamu
sekolah dimana sekarang?”tanyaku lagi. Lagi-lagi dia hanya tersenyum padaku.
Aku menjadi kikuk sendiri. Aku pun kembali bertanya padanya dengan topik lain.
“Oh
ya, minggu depan ayah dan ibu akan mengadakan pesta kebun. Kamu ikut ya?”
Dia
mengangguk dan tersenyum. Tapi ada yang aneh dengannya. Mengapa dia tidak mau
berbicara padaku. Apakah karena suaranya jelek hingga dia takut aku meledeknya.
Kalian tahu, aku tidak akan berbuat begitu kan. Lalu aku kembali berbicara
padanya.
“Oh
ya. Namaku Andre.” Seperti biasa dia hanya tersenyum dan mengangguk. Kesal juga
aku dibuatnya. Mengapa dia hanya
mengangguk dan tersenyum? Mengapa dia tidak mau berbicara? Apakah dia takut
padaku? Atau aku memang nggak pantas berbicara dengan gadis secantiknya?
Semua pertanyaan itu muncul dalam benakku dan kesadaranku pun habis. Aku
berteriak dan marah, tapi seharusnya aku tidak berteriak sekeras itu. Tapi mau
gimana lagi, semua udah terlanjur.
“Heh,
Xena. Kenapa kau tidak mau berbicara denganku? Kau takut padaku? Atau kau tidak
paham ucapanku sama sekali?”
Kulihat
dia terkejut, tapi dia tetap saja terdiam tanpa menngeluarkan sepatah kata pun
dari mulutnya.
“Kenapa
kau diam? Atau aku nggak pantas bicara denganmu? Apakah suaramu begitu mahal
kau berikan untukk berbicara dengan orang sepertiku?”
Dia
menggeleng dan tetap tak berbicara. “Oh begitu? Aku tahu sekarang.
Makasih.”kurasa nada suaraku naik satu oktaf. Sekilas aku memandangnya. Dia
semakin terkejut dengan perbuatanku dan mulai meneteskan air mata. Aku pun panik.
Aku sama sekali nggak tahu bagaimana menenangkan hati wanita.
“Xena,
maafkan aku. Aku nggak bermaksud menyakiti hatimu dengan perkataanku. Kumohon,
diamlah. Berhentilah menangis.”
Mendengar
keributan itu, ibu Xena keluar menemui kami.
“Ada
apa Nak Andre? Kenapa...”kata-katanya terputus ketika dia melihat putrinya
menangis tanpa suara.
“Nak,
kenapa kau menangis?”katanya merangkul putrinya.
“Kau
apakan dia, Nak Andre? Kenapa dia sampai menangis seperti ini?” Ibu Xena
menatapku tajam. Aku pun gugup.
“Nggak
tante. Nggak aku apa-apain. Aku hanya membentaknya, soalnya aku kesal tante.
Dia nggak mau bicara padaku.”
“Kau
membentaknya?”
“Ya
tante. Maaf.”
“Dia...dia
bisu Nak.”kata Ibu Xena sambil menangis.
“Apa???”aku
terkejut. Jantungku kembali berdetak kencang.
Xena
bisu. Jadi...dia nggak berbicata padaku karena dia bisu, bukan karena dia nggak
mau. Aku...aku merasa sangat bersalah padanya. Aku menyesal telah membentaknya
sekeras itu.
“Maafkan
aku. Aku nggak tahu kalau kau.... aku menyesal.”
“Udahlah,
sebaiknya Nak Andre pulang.”
Aku
pun beranjak pergi. Sekilas aku memperhatikan wajah Xena yang sudah memerah
karena menangis. Xena maafkan aku. Aku
sama sekali nggak tahu tentangmu aku telah menyakitimu. Aku pulang ke rumah
dengan perasaan tak karuan. Aku berjanji aku akan meminta maf kepadanya.
Keesokan
harinya, aku pergi ke toko bunga. Aku ingin membeli bunga untuk Xena. Kata
ibunya, dia suka sekali dengan mawar kuning. Aku baru pertama kali membeli
bunga untuk seorang gadis. Aku sama sekali belum tahu bagaimana cara memberi
bunga kepada gadis itu. Jadi aku meminya kepada pelayan toko bunga itu untuk
mengajarku. Kata pelayan toko itu juga, wanita menyukai cokelat. Aku memutuskan
untuk memberi bunga dan cokelat kepada Xena sebagai permintaan maafku kepadanya.
Aku harap dia senang dan mau memaafkanku.
Setelah
mampir ke toko bunga, aku langsung ke rumah Xena. Kusembunyikan bunga di
belakangku dan aku menekan bel rumahnya. Hatiku kembali berdegup kencang. Apakah Xena mau memaafkanku? Tuhan, tolong
aku.
Sesaat
kemudian seorang wanita cantik nan jelita dengan tahi lalat kecil di pipinya
membukakan pintu untukku. Itu Xena.
“Hei
Xena.”kataku saat di membuka pintu. Dia pun tersenyum ramah padaku. Aku sedikit
lega melihat senyumannya yang manis. Setelah itu aku memberinya bung dan
cokelat yang baru saja aku beli untuknya. Dia pun tersenyum dan tampak senang.
Aku masuk dan duduk di ruang tamu rumahnya. Seperti biasa dia duduk di kursi di
depanku.
“Xena,
aku minta maaf soal kemarin. Aku menyadari kesalahanku. Aku...”ucapanku
terhenti ketika dia beranjak pergi dari hadapanku. Aku rasa dia tidak mau
memaafkanku. Jadi aku putuskan untuk beranjak pergi. Apa lagi yang aku lakukan
disini. Aku memang sudah keterlaluan kepadanya.
Saat
aku melangkahkan kakiku keluar dari rumahnya, seseorang memegang lenganku erat.
Erat sekali. Aku berbalik dan ternyata itu Xena. Dia menggunakan isyarat dengan
mengerlingkan matanya seakan menyuruhku untuk duduk kembali. Aku pun
mengikutinya. Aku melirik. Ditangannya sudah ada kertas kosong dan pulpen.
Ternyata dia pergi mengambil kertas dan pulpen agar dia bisa berkomunikasi
denganku. Bukan karena dia tidak mau memaafkanku.
“Xena,
sekali lagi maafkan aku. Aku nggak bermaksud membentakmu. Aku hanya...”ucapanku
terhenti ketika dia menempelkan telunjuknya di bibirnya seakan menyuruhku untuk
tidak melanjutkan perkatakaanku. Setelah itu dia menulis di kertas kosong itu
dan memberikannya padaku.
Aku sudah
memaafkanmu. Aku juga minta maaf karena telah membuatmu nggak enak hati. Jadi,
kau akan tetap menjadi temanku?
“Ya,
Xena. Kau akan tetap menjadi temanku. Bukan hanya sekedar teman, tapi teman
baik.”kataku. Senyum pun merekah di wajah cantiknya.
***
Tiga
hari berlalu. Aku tidak pernah lagi ke rumah Xena. Kesibukanku dalam menjalani
masa pendidikanku di universitas membuatku jarang bertemu dengannya. Lagi pula
rumahnya kosong. Katanya ada yang sakit. Sekarang mereka ada di rumah sakit.
Aku tidak tahu juga pastinya siapa yang sakit. Kabar itu pun aku dengar dari
seorang tetanggaku. Jadi aku memutuskan untuk menjenguk mereka di rumah sakit.
Sesampainya
aku di rumah sakit, aku langsunng menuju ke kamar rumah sakit yang dimaksud.
Saat aku tiba di depan kamar itu, kulihat ayah Xena sedang memeluk ibu Xena
yang sedang menangis. Kalau bukan orang tua Xena yang sakit, berarti dia yang
sakit. Lagi pula Xena juga tidak pernah kelihatan batang hidungnya. Berarti
benar, dia yang sakit. Aku pun berjalan ke arah mereka.
“Om,
Tante, ada apa? Apakah Xena baik-baik saja?”
Ibu
Xena tak bisa berkata apa-apa. Dia hanya menangis di pelukan suaminya.
Jantungku pun berdebar lebih kencang. Ada apa dengan Xena? Apakah dia...
“Xena
baik-baik aja, Nak Andre.”jawab ayah Xena.
“Syukurlah.
Tapi kenapa tante menangis, Om?”
“Xena memang baik-baik aja, tapi kembarannya, Ruu, baru aja
meninggal, Nak.”
Apa? Xena punya kembaran? Tapi setahuku Xena anak
tunggal. Lagi pula aku tidak pernah melihat kembarannya itu.
“Sebenarnya Xena sakit keras. Dia divonis oleh dokter
bahwa dia mengidap penyakit gagal ginjal. Dia nggak pernah keluar kamar. Setiap
hari dia hanya menangis dan mengurung dirinya di kamar. Dia sangat putus asa
sekali. Untung saja ada Ruu, kembarannya yang selali menjadi tempat keluh
kesahnya. Ruu membuat Xena ceria kembali. Yah walaupun Ruu bisu, tapi dia
pandai membuat Xena tertawa.
Apa??? Ruu bisu. Jadi,..mungkinkah. Tunggu dulu.
“Om,
apakah Xena bisu?”
“Nggak
Nak. Xena nggak bisu. Xena normal. Tapi Ruu yang bisu. Dan Xena nggak pernah
keluar kamar kecuali dia ingin makan.”
Jadi
gadis yang selama ini aku temui bukan Xena tapi Ruu. Ya dia Ruu yang bisu. Dan
artinya Ruu yang kukenal sebagai Xena telah...meninggal. Jantungku berdebar
kencang. Aku sangat terkejut.
“Tapi
kenapa Ruu bisa meninggal, Om?”
“Dia
sesak nafas. Kami langsung membawanya ke rumah sakit. Sebelum dia meninggal dia
berwasiat agar setelah dia meninggal dia ingin mendonorkan kedua ginjalnya
kepada Xena. Sekarang Xena sedang menjalani operasi.”
***
Beberapa saat kemudian, ruang operasi terbuka.
Seorang dokter berjalan terburu-buru mendekati orang tua Xena.
“Bagaimana,
dokter? Apakah operasinya berjalan lancar?”
“Ya,
syukurlah Pak. Operasinya berjalan lancar. Xena sudah mendapatkan ginjal dari
saudaranya dan kedua ginjalnya sudah berfungsi dengan baik.”
“Syukurlah.
Apakah kami boleh melihatnya sekarang Dok?”
“Silakan,
Pak. Kalau begitu saya permisi dulu.”
“Terima
kasih, Dokter.”
“Sama-sama,
Pak.”
Aku
berjalan mengikuti kedua orang tua Xena memasuki sebuah ruangan. Aku melihat
wajah Xena yang sangat mirip dengan Ruu. Yang membedakannya hanya tahi lalat
kecil di pipinya. Ruu memilikinya, sedangkan Xena tidak. Dia belum sadar. Aku
berada di samping kirinya sedangkan orang tuanya berada di samping kanannya.
Akhirnya, dia sadar setelah obat biusnya habis. Xena membuka matanya perlahan
dan melihat orang tuanya, kemudian melihatku.
Aku
pikir dia akan terkejut melihatku, melihat orang yang tidak dia kenal. Tapi aku
salah. Dia malah tersenyum. Senyum itu mengingatkanku pada Ruu, mirip sekali.
“Kamu
pasti Andre. Ruu bercerita banyak tentangmu. Kamu orang yang sangat baik. Aku
Xena, saudara kembarnya Ruu.”katanya menjabat tanganku.
Ternyata
dia memang Xena. Tapi bukan Xena yang aku kenal. Dia orang yang berbeda. Dia
normal. Dia tidak seperti Ruu. Aku tersenyum padanya. Ternyata orang yang aki
kira Xena selama ini adalah Ruu, orang yang yang aku sapa Xena adalah Ruu.
Inilah Xena yang sebenarnya. Tapi aku tidak akan melupakan Xena... eh maksudku
Ruu. Senyumnya, sorotan matanya yang bening. Aku... aku tidak akan bisa
melupakannya. Aku menyayanginya.
Sekarang
aku berhadapan dengan orang yang berbeda tetapi wajah yang sama. Aku tidak bisa
membohongi hatiku bahwa aku pun menyayangi Xena. Mungkin aku masih
menganggapnya sebagai Ruu, tapi dia bukan Ruu, sama sekali bukan Ruu.
Hari
itu juga hari pemakaman Ruu. Aku datang kesana dan melihat Ruu untuk yang
terakhir kalinya. Ditengah kesedihanku aku merasa sangat beruntung dipertemukan
dengan orang seperti Ruu, dan sekarang aku bertemu dengan orang yang mirip
dengan Ruu, Xena yang aslli. Mungkin Ruu juga menginginkan aku menyayangi
saudaranya. Kini aku hanya dapat berdo’a mudah-mudahnan dia diterima di sisi
Tuhan. Amiin.
Fakhriyah HS

0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda