Keterbatasanku adalah Kesempurnaan Chapter 1 Part 1
CHAPTER 1
ANUGERAH DARI TUHAN
Aku Terlahir Sebagai
Anugerah
D
|
ua
puluh tahun yang lalu, tepatnya di awal bulan Juli, seorang bunda yang berhati
mulia, dengan penuh kesabaran dan ketabahan melahirkan seorang bayi mungil yang
lucu. Namun, bayi itu lahir dalam keadaan tidak normal. Bayi itu tidak memiliki
kedua tangan yang utuh, hanya jempol tangan kanannya saja yang masih ada.
Awalnya sang bunda tidak percaya dengan keadaan anak ketiganya tersebut,
pasalnya kedua anak yang beliau lahirkan
sebelumnya lahir dalam keadaan normal. Walaupun begitu, pada akhirnya sang
bunda bisa menerima keadaan anak bungsunya itu dengan keikhlasan. Beliau
menyadari bahwa semua itu sudah menjadi takdir Yang Maha Kuasa, dan selalu ada
hikmah dibalik itu.
Panggil
saja namaku Tono (samaran). Akulah anak yang dilahirkan dalam keadaan tidak
normal itu. Diantara saudara-saudaraku, aku yang paling berbeda. Tuhan
memberikan kasih sayangnya padaku dengan cara membuatku tampil beda dan tidak
normal seperti anak-anak lainnya. Walaupun demikian, aku tak pernah merasa cacat,
aku selalu merasa kalau aku normal sebagaimana saudara-saudaraku. Ibuku sering
berkata “Kalau temanmu yang lain bisa, kenapa kamu nggak?”. Itulah dukungan dan motivasi yang selalu diberikan oleh
Ibuku sejak aku kecil. Aku merasa bisa melakukan pekerjaan yang orang normal
kerjakan. Dan aku belajar menerima kekuranganku, bahkan kekuranganku ini aku
anggap sebagai kelebihan kasih sayang Tuhan padaku. Saking sayangnya Tuhan
padaku hingga dia memberikan sesuatu yang tidak diberikan kepada kebanyakan
orang. Dia ingin aku selalu mengingatNya.
Ya,
aku begitu yakin kalau aku terlahir di dunia dengan keadaan yang seperti ini
karena kehendak Tuhan, dan aku juga sangat yakin kalau aku terlahir sebagai
anugerah terindah dalam kehidupan kedua orang tuaku, keluargaku, teman-temanku
dan orang-orang yang ada di sekitarku. Mereka akan selalu mengingatku karena
aku berbeda dari mereka, dan karena aku begitu berarti bagi mereka.
Begitulah
kisah ini kuawali dengan kesyukuranku karena terlahir sebagai anugerah, karena
kasih sayang Tuhan padaku begitu berlimpah, karena aku selalu merasa dekat
dengan Tuhanku.
Sangat Hiperaktif
W
|
alau
keadaan fisikku yang tidak mendukung, aku tumbuh menjadi anak yang sangat
hiperaktif. Selalu ingin mengerjakan apa yang bisa dikerjakan oleh orang-orang
normal. Bahkan saat aku masih kecil aku termasuk anak yang nakal dan jahil.
Sejak
kecil aku senang bermain di sawah yang digarap oleh orang tuaku. Kerjaanku
bermain lumpur sawah sambil menangkap belalang yang hinggap di padi yang sudah
menguning. Maklum, aku tinggal di desa yang sangat subur di sebuah daerah di
Kalimantan. Orang tuaku adalah transmigran dari Jawa Timur. Mereka sudah
bertransmigrasi ke Kalimantan jauh sebelum aku lahir.
Kakak
pertamaku menikah saat aku duduk di bangku Sekolah Dasar. Kakak pertamaku
itulah yang membantu orang tuaku untuk mengasuhku. Setelah dia menikah, dia
tinggal agak jauh dari orang tua kami. Sejak duduk di bangku Sekolah Dasar,
kakak pertamaku itulah yang lebih banyak mengasuhku daripada orang tuaku. Kedua
orang tuaku lebih banyak menghabiskan waktu mereka untuk bertani dan beternak
demi menghidupi kehidupan keluarga kami. Itu sebabnya tanggung jawab untuk
mengasuhku dilimpahkan kepada kakakku yang pertama.
Aku
tidak pernah merasakan bersekolah di Taman Kanak-kanak (TK) ataupun Play Group. Taman kanak-kanak atau Play Group baru didirikan di daerahku
sekitar tahun 2000, oleh sebab itu orang tuaku memutuskan untuk segera
memasukkan aku ke Sekolah Dasar yang terdekat dengan daerahku.
Karena
aku termasuk anak yang hiperaktif, maka aku selalu ingin mengerjakan apa yang
dikerjakan oleh teman-temanku. Suatu waktu ketika aku baru masuk Sekolah Dasar,
karena kekesalanku pada seorang teman, aku malah bertengkar dan sampai berantem dengannya. Walaupun aku
memiliki fisik yang tidak sempurna, tetap saja aku yang menang melawan temanku
itu. Karena kelincahanku, aku bisa melindungi diriku dari serangan-serangan temanku
itu. Akibat pertengkaran itu, orang tuaku harus memenuhi panggilan kepala
sekolah. Orang tuaku yang diwakili oleh kakakku saat itu hanya bisa memohon
maaf kepada pihak sekolah dan kepada orang tua temanku itu.
Teman-temanku yang lain hanya bisa berdecak
heran melihat tingkahku yang hiperaktif dan merasa paling bisa. Ya, begitulah
aku, selalu percaya diri walau segala rintangan harus kuhadapi.
Kurang Cerdas
Intelektual Sih...
H
|
ari-hariku
kulalui di Sekolah Dasar dengan penuh antusias. Aku selalu bersemangat belajar,
apalagi pelajaran olahraga. Aku selalu bersemangat ketika guru olahraga
menyuruh kami berlomba lari, dan seringkali aku keluar sebagai pemenangnya. Aku semakin percaya diri dengan
kemampuan yang kumiliki. Akan kubuktikan kepada siapa saja kalau aku pun bisa
seperti mereka.
Walaupun
aku sangat menyenangi pelajaran olahraga dan nilaiku dalam mata pelajaran
olahraga selalu memuaskan dan tertinggi diantara teman-temanku, ada satu mata
pelajaran yang aku belum mampu menaklukkannya yaitu Matematika. Kecerdasan
intelektualku sangat kurang di bidang itu. Aku selalu tertinggal dan selalu
terbelakang. Bahkan aku pernah tidak naik kelas hanya karena aku tidak mampu
menghafalkan perkalian. Dan yang parahnya lagi, guru Matematikaku waktu itu
adalah ayah dari sahabatku sejak kecil, Rahmat (samaran).
Aku
masuk Sekolah Dasar saat usiaku menginjak 7 tahun bersamaan dengan kakak dari
Rahmat yang juga seumuran denganku. Akan tetapi, karena aku pernah tinggal
kelas hingga akhirnya aku harus sekelas dengan Rahmat yang umurnya dua tahun
lebih muda dariku.
Ya,
karena kurang cerdas intelektual hingga aku harus mengalami ketertinggalan. Aku
harus mengulang mata pelajaran di kelas yang sama. Namun, itu tidak membuatku
patah semangat. Aku yakin, Tuhan menakdirkan demikian karena ada suatu hikmah
dibaliknya. Sejak saat itu aku berlatih terus menerus untuk menghafal perkalian
hingga akhirnya aku bisa. Tuhan menginginkan aku untuk memperdalam mata
pelajaran itu agar nantinya aku menjadi lebih pandai di bidang itu.
Justru
karena kurang cerdas intelektualnya diriku hingga Dia memberikanku kecerdasan
di bidang lain yaitu kecerdasan kinestetik, kecerdasan olah tubuh. Aku begitu
lincah berlari walaupun awalnya aku sulit menahan keseimbangan tubuhku. Tapi
dengan keinginan dan minatku, maka aku pun bisa menjadi pelari dan selalu
mewakili sekolahku dalam berbagai kejuaraan.
Tuhan telah memberikan anugerah terindah dalam hidupku. Dia mengajarkanku untuk mensyukuri apa saja yang ada dalam diriku dan apa saja yang kuhadapi. Dia mengajarkanku untuk terus berusaha dan tidak putus asa. Dan aku begitu yakin bahwa tidak semua orang diberikan anugerah oleh Tuhan sepertiku. Itulah yang membuatku lebih bersyukur.
Tuhan telah memberikan anugerah terindah dalam hidupku. Dia mengajarkanku untuk mensyukuri apa saja yang ada dalam diriku dan apa saja yang kuhadapi. Dia mengajarkanku untuk terus berusaha dan tidak putus asa. Dan aku begitu yakin bahwa tidak semua orang diberikan anugerah oleh Tuhan sepertiku. Itulah yang membuatku lebih bersyukur.
By Fakhriyah HS

0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda