Jumat, 24 Juli 2015

Keterbatasanku adalah Kesempurnaan Chapter 1 Part 1


CHAPTER 1
ANUGERAH DARI TUHAN

Aku Terlahir Sebagai Anugerah
D
ua puluh tahun yang lalu, tepatnya di awal bulan Juli, seorang bunda yang berhati mulia, dengan penuh kesabaran dan ketabahan melahirkan seorang bayi mungil yang lucu. Namun, bayi itu lahir dalam keadaan tidak normal. Bayi itu tidak memiliki kedua tangan yang utuh, hanya jempol tangan kanannya saja yang masih ada. Awalnya sang bunda tidak percaya dengan keadaan anak ketiganya tersebut, pasalnya kedua anak yang  beliau lahirkan sebelumnya lahir dalam keadaan normal. Walaupun begitu, pada akhirnya sang bunda bisa menerima keadaan anak bungsunya itu dengan keikhlasan. Beliau menyadari bahwa semua itu sudah menjadi takdir Yang Maha Kuasa, dan selalu ada hikmah dibalik itu.
Panggil saja namaku Tono (samaran). Akulah anak yang dilahirkan dalam keadaan tidak normal itu. Diantara saudara-saudaraku, aku yang paling berbeda. Tuhan memberikan kasih sayangnya padaku dengan cara membuatku tampil beda dan tidak normal seperti anak-anak lainnya. Walaupun demikian, aku tak pernah merasa cacat, aku selalu merasa kalau aku normal sebagaimana saudara-saudaraku. Ibuku sering berkata “Kalau temanmu yang lain bisa, kenapa kamu nggak?”. Itulah dukungan dan motivasi yang selalu diberikan oleh Ibuku sejak aku kecil. Aku merasa bisa melakukan pekerjaan yang orang normal kerjakan. Dan aku belajar menerima kekuranganku, bahkan kekuranganku ini aku anggap sebagai kelebihan kasih sayang Tuhan padaku. Saking sayangnya Tuhan padaku hingga dia memberikan sesuatu yang tidak diberikan kepada kebanyakan orang. Dia ingin aku selalu mengingatNya.
Ya, aku begitu yakin kalau aku terlahir di dunia dengan keadaan yang seperti ini karena kehendak Tuhan, dan aku juga sangat yakin kalau aku terlahir sebagai anugerah terindah dalam kehidupan kedua orang tuaku, keluargaku, teman-temanku dan orang-orang yang ada di sekitarku. Mereka akan selalu mengingatku karena aku berbeda dari mereka, dan karena aku begitu berarti bagi mereka.
Begitulah kisah ini kuawali dengan kesyukuranku karena terlahir sebagai anugerah, karena kasih sayang Tuhan padaku begitu berlimpah, karena aku selalu merasa dekat dengan Tuhanku.

Sangat Hiperaktif
W
alau keadaan fisikku yang tidak mendukung, aku tumbuh menjadi anak yang sangat hiperaktif. Selalu ingin mengerjakan apa yang bisa dikerjakan oleh orang-orang normal. Bahkan saat aku masih kecil aku termasuk anak yang nakal dan jahil.
Sejak kecil aku senang bermain di sawah yang digarap oleh orang tuaku. Kerjaanku bermain lumpur sawah sambil menangkap belalang yang hinggap di padi yang sudah menguning. Maklum, aku tinggal di desa yang sangat subur di sebuah daerah di Kalimantan. Orang tuaku adalah transmigran dari Jawa Timur. Mereka sudah bertransmigrasi ke Kalimantan jauh sebelum aku lahir.
Kakak pertamaku menikah saat aku duduk di bangku Sekolah Dasar. Kakak pertamaku itulah yang membantu orang tuaku untuk mengasuhku. Setelah dia menikah, dia tinggal agak jauh dari orang tua kami. Sejak duduk di bangku Sekolah Dasar, kakak pertamaku itulah yang lebih banyak mengasuhku daripada orang tuaku. Kedua orang tuaku lebih banyak menghabiskan waktu mereka untuk bertani dan beternak demi menghidupi kehidupan keluarga kami. Itu sebabnya tanggung jawab untuk mengasuhku dilimpahkan kepada kakakku yang pertama.
Aku tidak pernah merasakan bersekolah di Taman Kanak-kanak (TK) ataupun Play Group. Taman kanak-kanak atau Play Group baru didirikan di daerahku sekitar tahun 2000, oleh sebab itu orang tuaku memutuskan untuk segera memasukkan aku ke Sekolah Dasar yang terdekat dengan daerahku.
Karena aku termasuk anak yang hiperaktif, maka aku selalu ingin mengerjakan apa yang dikerjakan oleh teman-temanku. Suatu waktu ketika aku baru masuk Sekolah Dasar, karena kekesalanku pada seorang teman, aku malah bertengkar dan sampai berantem dengannya. Walaupun aku memiliki fisik yang tidak sempurna, tetap saja aku yang menang melawan temanku itu. Karena kelincahanku, aku bisa melindungi diriku dari serangan-serangan temanku itu. Akibat pertengkaran itu, orang tuaku harus memenuhi panggilan kepala sekolah. Orang tuaku yang diwakili oleh kakakku saat itu hanya bisa memohon maaf kepada pihak sekolah dan kepada orang tua temanku itu.
Teman-temanku yang lain hanya bisa berdecak heran melihat tingkahku yang hiperaktif dan merasa paling bisa. Ya, begitulah aku, selalu percaya diri walau segala rintangan harus kuhadapi.


Kurang Cerdas Intelektual Sih...
H
ari-hariku kulalui di Sekolah Dasar dengan penuh antusias. Aku selalu bersemangat belajar, apalagi pelajaran olahraga. Aku selalu bersemangat ketika guru olahraga menyuruh kami berlomba lari, dan seringkali aku keluar sebagai  pemenangnya. Aku semakin percaya diri dengan kemampuan yang kumiliki. Akan kubuktikan kepada siapa saja kalau aku pun bisa seperti mereka.
Walaupun aku sangat menyenangi pelajaran olahraga dan nilaiku dalam mata pelajaran olahraga selalu memuaskan dan tertinggi diantara teman-temanku, ada satu mata pelajaran yang aku belum mampu menaklukkannya yaitu Matematika. Kecerdasan intelektualku sangat kurang di bidang itu. Aku selalu tertinggal dan selalu terbelakang. Bahkan aku pernah tidak naik kelas hanya karena aku tidak mampu menghafalkan perkalian. Dan yang parahnya lagi, guru Matematikaku waktu itu adalah ayah dari sahabatku sejak kecil, Rahmat (samaran).
Aku masuk Sekolah Dasar saat usiaku menginjak 7 tahun bersamaan dengan kakak dari Rahmat yang juga seumuran denganku. Akan tetapi, karena aku pernah tinggal kelas hingga akhirnya aku harus sekelas dengan Rahmat yang umurnya dua tahun lebih muda dariku.
Ya, karena kurang cerdas intelektual hingga aku harus mengalami ketertinggalan. Aku harus mengulang mata pelajaran di kelas yang sama. Namun, itu tidak membuatku patah semangat. Aku yakin, Tuhan menakdirkan demikian karena ada suatu hikmah dibaliknya. Sejak saat itu aku berlatih terus menerus untuk menghafal perkalian hingga akhirnya aku bisa. Tuhan menginginkan aku untuk memperdalam mata pelajaran itu agar nantinya aku menjadi lebih pandai di bidang itu.
Justru karena kurang cerdas intelektualnya diriku hingga Dia memberikanku kecerdasan di bidang lain yaitu kecerdasan kinestetik, kecerdasan olah tubuh. Aku begitu lincah berlari walaupun awalnya aku sulit menahan keseimbangan tubuhku. Tapi dengan keinginan dan minatku, maka aku pun bisa menjadi pelari dan selalu mewakili sekolahku dalam berbagai kejuaraan. 
Tuhan telah memberikan anugerah terindah dalam hidupku. Dia mengajarkanku untuk mensyukuri apa saja yang ada dalam diriku dan apa saja yang kuhadapi. Dia mengajarkanku untuk terus berusaha dan tidak putus asa. Dan aku begitu yakin bahwa tidak semua orang diberikan anugerah oleh Tuhan sepertiku. Itulah yang membuatku lebih bersyukur.
By Fakhriyah HS

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda