Rekha Bukan "Tom"
Ananda
Rekha Syarif, seorang gadis cantik dengan rambut pendek menyerupai potongan
rambut laki-laki. Kulitnya putih bersih dengan hidung mancung dan bibir tipis.
Dia adalah anak kedua dari dua bersaudara, pasangan Syarif Gunawan dan Amadea
Julia. Hari ini, Rekha, panggilan akrabnya, berulang tahun yang ke-17. Rekha
masih duduk di kelas 3 SMA, sedangkan kakaknya Danny sudah kuliah semester 4 di
Fakultas Sosial Politik jurusan Ilmu Pemerintahan, Universitas Airlangga,
Surabaya.
“Rekha,
hoiiii banguuun...”teriak Danny dari kamarnya yang bersebelahan dengan kamar
Rekha. Itu membuat Rekha terbangun dari tidurnya yang lelap. Dia melirik ke jam
weker di meja kecil sebelah tempat tidurnya. Pukul 03.30.
“Kakak
berisik sekali,”gerutunya. Kemudian dia kembali tertidur pulas.
***
Sebuah
suara membangunkan Rekha. Suara kakaknya. Tapi
kenapa suaranya dekat sekali, pikirnya setengah sadar.
“Bangun
pemalas! Hei,”kata Danny sambil menarik selimut Rekha. Rekha kembali menarik
selimutnya kemudian membuka mata perlahan-lahan. Sebuah wajah familiar dekat
sekali dengan wajahnya. Wajah Danny. Rekha berteriak saking kagetnya, begitu
juga dengan Danny.
“Kenapa
kakak berteriak?”tanya Rekha setelah keduanya berhenti berteriak.
“Kau
sendiri juga berteriak,”balas Danny tidak mau kalah.
“Kakak
mengagetkanku dengan tampang konyol kakak.”
“Soalnya
daritadi aku kasih bangun, kamu belum bangun juga.”
“Kakak
berisik banget.”
“Siapa
suruh kamarmu nggak dikunci. Jadi aku masuk aja.”
“Ah
masa?”Rekha berpikir.
“Hoiii....masa’
adikku yang sudah gede ini masih aja susah bangun pagiii....”kata Danny yang
tiba-tiba melemparkan bantal ke muka Rekha yang sedang melongo. Rekha tersentak
kaget.
“Kaaaaakkk....sebeeeell....”teriak
Rekha balas melempar bantal ke arah Danny. Tapi tidak kena. Pokoknya lain kali aku harus mengunci pintu.
Danny
keluar dari kamar Rekha. Rekha bangkit. Sekali lagi dia melirik ke jam
wekernya. Sudah pukul 05.00 rupanya. Suara adzan shubuh di masjid dekat rumah
keluarga Syarif terdengar. Rekha bergegas ke kamar mandi dan berwudhu kemudian
melaksanakan shalat shubuh sendirian di kamarnya. Setelah itu dia kembali
tertidur pulas. Danny mengintip ke kamar Rekha. Dasar tukang tidur, kata Danny dalam hati saat melihat adiknya
tertidur dengan menggunakan mukena di atas sajadahnya. Kemudian dia tertawa
geli melihat wajah adiknya itu.
***
Bunyi
jam weker membangunkan Rekha yang sedang tertidur diatas sajadahnya. Pukul
06.00 pagi. Ya ampun, kenapa aku bisa
ketiduran disini, pikirnya. Rekha bangkit. Hari minggu yang cerah ini
kebetulan bertepatan dengan ulang tahun Rekha. Rekha keluar kamar untuk menemui
ayah dan ibunya. Dia bergegas ke kamar orangtuanya, namun tak menemukan mereka
disana. Dia mencari di ruang keluarga, di dapur, di ruang tamu, di taman, namun
tak ada seorang pun yang membalas panggilannya. Rekha mengintip ke kamar
kakaknya. Dibukanya perlahan-lahan, tidak terkunci. Masuk ah... dilihatnya kamar kakaknya sudah rapi, dan dia tidak
mendapati kakaknya di kamar itu.
“Kakak...yuhuu...Kak
Danny...”teriak Rekha.Tak ada jawaban. Kakak
kemana?
“Ayah...Ibu...”teriaknya.
Kemana perginya orang-orang? Nggak
biasanya.
Ketika
dia beranjak keluar rumah untuk mencari orang rumahnya, tiba-tiba seseorang
berteriak “Surprise”..... Rekha
tersentak kaget. Dia mencari arah suara. Di halaman rumahnya, disana telah
hadir orang tua, kakak, dan teman-teman akrabnya. Halaman rumahnya telah
disulap menjadi halaman dengan hiasan bunga dan pita khas ulang tahun. Ibu
Julia mendekati anaknya yang masih melongo, setengah percaya dengan apa yang
dilihatnya. Ibu Julia membawa sebuah kue tart besar dengan tulisan diatasnya “Happy birthday Rekha yang ke-17 tahun”
dengan lilin yang berjumlah 17 buah. Rekha meniup lilin diiringi dengan
nyanyian selamat ulang tahun yang dinyanyikan oleh orang-orang yang hadir di
pesta kecil itu.
“Makasih
semuanya.... Udah repot-repot untuk merayakan ulang tahunku. Malah kalian udah
datang pagi buta kayak gini.”kata Rekha terharu.
“Sebenarnya
kami menginap disini, Re.”kata Chika, teman sekelas Rekha.
“Hah?
Kapan kalian dateng? Seingatku, aku nggak pernah ngeliat kalian datang tadi
malem.”
“Kak
Danny tuh. Nelpon kami malem-malem. Bayangin aja, jam 10 malem. Temen-temen
udah pada ngantuk, tapi Kak Danny tetep ngotot nyuruh kita dateng kesini.
Untungnya sih Kak Danny mau jemput. Kalo nggak, males banget nih kesini
malem-malem.”kata Viola, sahabat karib Rekha.
“Iya,
Re. Danny tuh yang ngotot banget buat pesta ini untuk kamu. Jadi dia nyuruh
teman-teman kamu datang saat kamu udah tidur. Setelah mereka dateng, Danny
merancang pesta kecil ini untukmu.”kata Ibu Julia sambil tersenyum.
“Oh
pantas aja Kak Danny berisik banget tadi shubuh ngebangunin Rekha.”
“Ya
iya. Masa’ sweet seventeen nggak dirayain sih, Rekha manis.”kata Danny menatap
adiknya gemes.
“Walaupun
begitu, terima kasih semuanya. Nah kue yang pertama untuk Ibu da kue yang kedua
untuk ayah,”kata Rekha sambil memotong kue tart. Setelah itu, kue itu diberikan
kepada kedua orang tuanya.
“Kue
untukku mana, Re?”tanya Danny tidak sabaran.
“Iya
deh. Aku kasih kue yang ketiga ke kak Danny sebagai tanda terima kasihku karena
udah mau caek-capek membuat pesta ini untukku.”kata Rekha sambil memotong kue
tart yang akan dia berikan kepada kakaknya. “Thanks kak.”
“Ya,
sama-sama adikku sayang.”kata Kak Danny sambil mengedikkan matanya ke arah
Rekha, lalu mengacak-acak rambut Rekha yang pendek.
Acara
pesta ulang tahun Rekha sederhana saja. Acara itu sudah berlangsung selama satu
jam. Kini saatnya membuka kado yang diberikan oleh keluarganya dan
teman-temannya. Ayahnya memberikan sebuah topi hitam yang sangat keren. Ibunya
memberinya sebuah sneaker model
terbaru. Sedangkan teman-temannya patungan memberinya sebuah celana boxer warna
hitam yang memiliki kualitas terbaik. Kereeen... Tapi Danny malah memberinya
baju lengan panjang dan rok panjang berwarna pink. Bayangin aja, warna pink.
Rekha nggak suka warna pink. Dia sukanya warna hitam.
“Kak
Danny apa-apaan sih, ngasih aku baju cewek kayak gini. Warna pink pula. Kak
Danny tau kan aku tuh nggak suka banget sama warna pink.”kata Rekha sambil
membentangkan baju pemberian Danny.
“Kakak
ingin kamu memakai baju itu, Re. Kamu kan cewek. Masa’ setiap hari dandanannya
kayak cowok sih.”
“Tapi
Kak...”
“Udah.
Kalau kamu nggak mau pakai, disimpen aja dulu. Kakak yakin kamu pasti
membutuhkannya suatu saat nanti.”
“Hmm...baiklah.”kata
Rekha malas.
Danny
memang paling tidak suka dengan dandanan Rekha yang super tomboy. Dia
bersikeras merubah dandanan Rekha menjadi feminin. Akan tetapi ayah dan ibunya
malah membiarkan Rekha berpakaian sesuai degan yang diinginkan Rekha.
***
Pesta
kecil itupun usai. Mereka kembali beraktivitas seperti biasa. Hari ini Rekha
dan teman-temannya berencana akan pergi ke museum. Dengan mengenakan kaos
oblong warna hitam, celana boxer hitam yang baru saja diberikan oleh
teman-temannya dan sneaker putih yang
diberikan oleh ibunya. Dia juga mengenakan ransel warna hitam dan topi hitam
pemberian ayahnya. Semua pakaian yang Rekha kenakan berwarna hitam. Dia
berangkat menuju taman kota dekat kantor pos pusat untuk menunggu
teman-temannya. Museum itu terletak di dekat kantor pos pusat.
Rekha
berangkat dengan berjalan kaki karena kebetulan rumahnya lumayan dekat dengan
taman kota. Saat dia tiba disana, dia menunggu teman-temannya di pinggir jalan
sekitar taman kota. Rekha berjalan mondar mandir sambil melirik jam tangannya.
Tiba-tiba seseorang menabraknya. Seorang bule yang sedang berjalan-jalan di
taman kota.
“I’m sorry, boy.”kata bule itu. Rekha
terkejut dengan perkataan bule itu kepadanya. Dia memanggilku ‘boy’? Dia kira aku cowok? Rekha melongi sesaat
sambil menatap wajah bule itu.
“Excuse me, Sir. But, I’m a girl, not a boy.”kata
Rekha. Untung aku bisa sedikit berbahasa
inggris.
“What??? You’re a girl? I....I can’t believe
it.”kata bule itu tidak percaya.
“Yeah. And my name is Rekha.”kata Rekha
kemudian sambil menjabat tangan bule itu.
“Lenka?”tanya bule itu heran.
“Oh no.... no, Rekha. Ar – i – kei – eits –
ei, R-E-K-H-A.”jawab Rekha sambil mengeja namanya.
“Okay. I’m Jason Sweyn, Rekha. Canadian.”
“Glad to meet you Mr. Sweyn.”
“Me too...”
Jason
Sweyn, bule asal Kanada dengan rambut hitam kecokelat-cokelatan, mata hitam,
dan alis hitam. Hidungnya mancung dan berkulit putih. Badannya tinggi, dagunya
sejajar dengan tubuh Rekha sehingga Rekha harus enengadah untuk melihat
wajahnya. Saat Jason menatapnya, wajah Rekha bersemu merah.
“What are you doing here, Mr. Sweyn?”kata
Rekha menyembunyikan kegugupannya.
“I’m going to the museum. Do you know where
is it?”
“Definitely. My friends and I are going to go
there. I’m waiting for them.”
“Really?”
“Yeah.”
Tak
berapa lama kemudian, teman-temannya pu tiba.
“Hai,
Re. Udah lama nunggu? Sorry, kita telat.”kata Andre, teman sekelas Rekha.
“Nggak
apa-apa. Aku baru aja tiba kok.”
“Eh,
bule disampingmu tuh siapa?”tanya Chika.
“Oh,
namanya Jason Sweyn. Hmm...Mr. Sweyn,
they are my friends.”
“Hello, I’m Jason Sweyn.”
“So, can we go now?”kata Rekha kepada
semuanya.
“We? Kita?....maksudmu bule itu juga?”
bisik Viola.
“Ya,
dia juga akan ke museun. Jadi, sekalian aja kuajak. Nggak apa-apa kan?”
“Malah
lebih bagus.”kata Rio.
Akhirnya
mereka berangkat menuju ke museum yang terletak di sebelah barat kantor pos
pusat. Mereka menghabiskan waktu dengan memotret benda-benda purbakala yanng
terdapat di museum itu.
***
Setelah
seharian berada di museum, akhirnya mereka memutuskan untuk pulang. Jason Sweyn
pulang lebih awal. Andre dan Rio pulang bersama sedangkan Chika dijemput oleh supirnya.
Viola dan Rekha akhirnya pulang bersama dengan berjalan kaki. Kebetulan rumah
mereka berdekatan.
Mereka
berdua berjalan melalui taman kota yang terlihat ramai dengan pengunjung yang
sedang piknik di sore hari. Maklum, hari libur. Rekha kelelahan dan
mengeluarkan banyak keringat. Dia membalikkan topinya sehingga dia tampak keren
sekali. Dia berjalan berdampingan dengan Viola yang sedang memakai baju pink
dan celana jeans biru. Tiba-tiba dua orang gadis yang hampir seumuran dengan
mereka menghampiri keduanya.
“Hei
cowok. Keren banget sih. Godain kita dong.”kata gadis yang memakai baju baby doll
sambil melirik genit ke arah Rekha.
“Iya
nih. Nggak Cuma keren, tapi cakep dan gayanya juga cool banget. Namanya siapa
sih?”kata gadis yang satunya. Rekha hanya terdiam bingung. Setelah itu gadis
itu berusaha memegang pipi Rekha tapi Rekha menghindar. Gadis itu terlihat
kecewa dengan perlakuan Rekha.
Tiba-tiba
kedua gadis itu mengalihkan pandangan ke arah Viola yang sedang melongo. Rekha
masih saja terdiam.
“Duh,
sayang ya. Dia udah punya cewek.”kata gadis yang berbaju baby doll lagi.
“Iya,
padahal cowok ini cakep juga, putih lagi.”kata gadis yang berambut keritinng
gantung.
“Kalau
gitu, kita pulang aja yuk. Masih ada kesempatan lain untuk menggodanya, kalau
ceweknya nggak ada.”kata gadis yang berbaju baby
doll sambil tertawa. Kedua gadis centil itu berlalu dari hadapan mereka.
“Ya
ampun, Re. Kamu cakep banget sih.”kata Viola sambil mencubit pipi Rekha gemes.
Rekha pun meringis kesakitan.
“Vi,
kenapa sih mereka kelakuannya kayak gitu. Jijik, tau nggak? Memangnya aku
cowok? Digodain kayak gitu.”kata Rekha.
“Re,
kamu sadar nggak sih? Mereka ngirain kamu tuh cowok. Terus aku dikirain pacar
kamu.”
“Ah,
masa’ sih?”
“Dasar
telmi. Liat aja penampilanmu. Nggak ada yang nyangka kalo kamu tuh cewek. Kamu
cakep, Re. Lagi pula kulitmu putih. Banyak banget cewek sekarang yang suka sama
cowok yang berkulit putih.”
“Sebenernya
udah beberapa kali aku digodain kayak gitu sama cewek. Risih juga. Tapi aku
baru nyadar sekarang. Pantas aja Mr. Sweyn memanggilku dengan sebutan ‘boy’.
Dia kira aku cowok.”
“Ya
iyalah Rekha sayang. Siapa yang ngira kamu cewek kalo dandananmu kayak cowok
gini.”
“Terus,
aku harus gimana dong? Masa’ aku harus pakai pakaian baby doll kayak cewek tadi? Aku kan nggak suka.”
“Kamu
nggak perlu memakai baju genit kayak gitu. Kayak aku aja. Natural. Nggak
terlalu feminin tapi enjoy. Dan satu lagi, panjangin tuh rambut. Seenggaknya
sebahu.”
“Jadi
aku benar-benar harus merubah penampilan ya?”katanya sedih. “Tapi aku suka
berpakaian kayak gini, lebih nyaman.”
“Gimanapun
kamu itu cewek, Re. Kamu nggak bisa menyalahi kodrat Tuhan. Ubah penampilanmu
sedikit demi sedikit. Nggak usah terlalu feminin. Biasa aja. Kamu nggak mau kan
kejadian kayak tadi terulang terus.”
Rekha
menggeleng lemah kemudian tertunduk murung. Mereka masih berjalan menuju rumah
mereka masing-masing.
“Hei,
nggak usah murung begitu, kekasihku sayang. Nanti cakepmu berkurang.”kata Viola
menggoda Rekha.
“Vi,
jangan bercanda ah.”
Tiga
pasang bola mata menatap mereka sinis, seakan ingin menerkam mereka, milik tiga
orang gadis cantik yang sedang berjalan berdampingan melewati mereka berdua.
Salah seorang dari mereka menatap sinis ke arah Viola. Viola jadi salah
tingkah. Kenapa sih mereka menatapku
seperti itu?. Tapi Viola segera mengerti ketika mata gadis itu melirik ke
arah Rekha. Oh, mereka iri rupanya.
Ketiga gadis itu beralih memandang Rekha terus-terusan. Tapi Rekha tidak
peduli. Sepertinya dia sedang berada di dunia lain. Mungkin dia sedang
memikirkan perkataan Viola tentang penampilannya yang super tomboy.
Tiba-tiba
Viola menarik tangan Rekha dan memegangnya erat. Kemudian matanya berbalik
menatap sinis kepada ketiga gadis itu. Rekha tersentak kaget dengan kelakuan
Viola.
“Vi,
kamu kenapa sih?”
“Nggak
apa-apa, Re. Aku hanya memastikan kalau kamu emang disangka coeok sama ketiga
gadis itu. Dari tadi mereka menatapku sinis.”kata Viola sambil menunjuk kearah
ketiga gadis itu. Kemudian mereka bertiga membuang muka seakan jijik melihat
kelakuan Viola. Dan mereka pun segera beranjak pergi dari sana.
“Re,
liat kan? Mereka bener-bener ngirain kamu cowok. Dan mereka iri sama aku.”
“Ngapain
juga mereka iri? Emangnya mereka siapa?”
“Duh,
nih anak. Cakep-cakep, telmi.”kata Viola sambil menjitak kepala Rekha.
“Iya....iya....aku
udah ngerti. Sakit nih.”kata Rekha meringis. Akhirnya mereka tiba di depan
rumah Rekha. Dia membuka pintu pagar dan masuk.
“Nggak
mau masuk dulu, Vi?”
“Nggak
ah, udah sore. Lain kali aja yah. Lagi pula nanti ada yang iri.”
“Siapa?”
“Bener-bener
nih anak. Mau dijitak lagi?”kata Viola gemes.
“Iya...iya
deh tuan putri.”
“Aku
pulang yah, sayang. Pikirin tuh mateng-mateng omonganku. Oh, iya, titip salam
buat kak Danny yah. Hehe...”kata Viola sambil mengedikkan matanya.
***
Malam
itu Rekha tidak bisa tidur. Dia masih memikirkan kejadian tadi sore dan
memikirkan kata-kata Viola. Viola bener
juga. Aku harus merubah penampilanku. Kalau gini terus, aku akan disangka cowok
terus-terusan. Setelah lama berpikir, akhirnya Rekha memutuskan untuk
meminta pendapat kakaknya. Dia bangkit dari tempat tidurnya kemudian bergegas
ke kamar kakaknya.
“Kak
Danny...bukain pintu dong. Rekha mau bicara nih.”
“Ya,
bentar.”
Ada apa dengan
anak ini, nggak biasanya, pikir Danny.
“Ada
apa Re? Gangguin tidur kakak aja.”kata Danny saat membuka pintu.
“Rekha
nggak bisa tidur nih kak.”
“Masuklah.
Coba kamu cerita ke kakak.”
Untung aku punya
kakak yang pengertian. Mengalirlah cerita
dari mulut Rekha tentang kejadian tadi sore.
“Kakak
jangan ketawa yah.”kata Rekha disela-sela pembicaraannya.
“Nggak
akan.”
Tapi
Danny tidak bisa menahan tawa dan akhirnya dia tertaw terbahak-bahak dihadapan
adiknya itu.
“Tuh,
kan. Kakak ngetawain Rekha. Katanya nggak akan ketawa.”
“Maaf,
Re. Tapi itu udah keterlaluan banget. Lucu banget. Disangka cowok, terus banyak
cewek yang ngejar-ngejar.”kata Danny sambil memegang perutnya yang sakit karena
ketawa.
“Terus
aku harus ngapain dong kak...”
“Ikuti
aja saran dari Viola.”
“Hah???
Jadi kakak juga pengen aku merubah penampilan?”
“Ya.”
Rekha
berpikir sejenak. “Oke, akan aku pikirkan.”
“Nah,
gitu dong. Itu baru namanya adikku yang cakep, eh cantik.”
***
Beberapa
bulan sejak kejadian itu telah berlalu. Rekha pun merubah penampilannya menjadi
sedikit feminin. Dia sudah mulai memakai baju lengan panjang dan rok. Rambutnya
juga sudah panjang sebahu. Benar-benar berbeda dari penampilannya yang dulu.
“Wow,
kamu cantik banget Re.”kata teman-temannya saat melihat penampilan baru Rekha.
Bahkan dia sudah memutuskan untuk mengenakan
jilbab, katanya lebih nyaman. Rekha sangat senang dengan penampilan barunya.
Karena sekarang, Rekha isn’t tomboy.
By Fakhriyah HS


0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda