Senin, 20 Juli 2015

Rekha Bukan "Tom"



Ananda Rekha Syarif, seorang gadis cantik dengan rambut pendek menyerupai potongan rambut laki-laki. Kulitnya putih bersih dengan hidung mancung dan bibir tipis. Dia adalah anak kedua dari dua bersaudara, pasangan Syarif Gunawan dan Amadea Julia. Hari ini, Rekha, panggilan akrabnya, berulang tahun yang ke-17. Rekha masih duduk di kelas 3 SMA, sedangkan kakaknya Danny sudah kuliah semester 4 di Fakultas Sosial Politik jurusan Ilmu Pemerintahan, Universitas Airlangga, Surabaya.
“Rekha, hoiiii banguuun...”teriak Danny dari kamarnya yang bersebelahan dengan kamar Rekha. Itu membuat Rekha terbangun dari tidurnya yang lelap. Dia melirik ke jam weker di meja kecil sebelah tempat tidurnya. Pukul 03.30.
“Kakak berisik sekali,”gerutunya. Kemudian dia kembali tertidur pulas.
***
Sebuah suara membangunkan Rekha. Suara kakaknya. Tapi kenapa suaranya dekat sekali, pikirnya setengah sadar.
“Bangun pemalas! Hei,”kata Danny sambil menarik selimut Rekha. Rekha kembali menarik selimutnya kemudian membuka mata perlahan-lahan. Sebuah wajah familiar dekat sekali dengan wajahnya. Wajah Danny. Rekha berteriak saking kagetnya, begitu juga dengan Danny.
“Kenapa kakak berteriak?”tanya Rekha setelah keduanya berhenti berteriak.
“Kau sendiri juga berteriak,”balas Danny tidak mau kalah.
“Kakak mengagetkanku dengan tampang konyol kakak.”
“Soalnya daritadi aku kasih bangun, kamu belum bangun juga.”
“Kakak berisik banget.”
“Siapa suruh kamarmu nggak dikunci. Jadi aku masuk aja.”
“Ah masa?”Rekha berpikir.
“Hoiii....masa’ adikku yang sudah gede ini masih aja susah bangun pagiii....”kata Danny yang tiba-tiba melemparkan bantal ke muka Rekha yang sedang melongo. Rekha tersentak kaget.
“Kaaaaakkk....sebeeeell....”teriak Rekha balas melempar bantal ke arah Danny. Tapi tidak kena. Pokoknya lain kali aku harus mengunci pintu.
Danny keluar dari kamar Rekha. Rekha bangkit. Sekali lagi dia melirik ke jam wekernya. Sudah pukul 05.00 rupanya. Suara adzan shubuh di masjid dekat rumah keluarga Syarif terdengar. Rekha bergegas ke kamar mandi dan berwudhu kemudian melaksanakan shalat shubuh sendirian di kamarnya. Setelah itu dia kembali tertidur pulas. Danny mengintip ke kamar Rekha. Dasar tukang tidur, kata Danny dalam hati saat melihat adiknya tertidur dengan menggunakan mukena di atas sajadahnya. Kemudian dia tertawa geli melihat wajah adiknya itu.
***
Bunyi jam weker membangunkan Rekha yang sedang tertidur diatas sajadahnya. Pukul 06.00 pagi. Ya ampun, kenapa aku bisa ketiduran disini, pikirnya. Rekha bangkit. Hari minggu yang cerah ini kebetulan bertepatan dengan ulang tahun Rekha. Rekha keluar kamar untuk menemui ayah dan ibunya. Dia bergegas ke kamar orangtuanya, namun tak menemukan mereka disana. Dia mencari di ruang keluarga, di dapur, di ruang tamu, di taman, namun tak ada seorang pun yang membalas panggilannya. Rekha mengintip ke kamar kakaknya. Dibukanya perlahan-lahan, tidak terkunci. Masuk ah... dilihatnya kamar kakaknya sudah rapi, dan dia tidak mendapati kakaknya di kamar itu.
“Kakak...yuhuu...Kak Danny...”teriak Rekha.Tak ada jawaban. Kakak kemana?
“Ayah...Ibu...”teriaknya. Kemana perginya orang-orang? Nggak biasanya.
Ketika dia beranjak keluar rumah untuk mencari orang rumahnya, tiba-tiba seseorang berteriak “Surprise”..... Rekha tersentak kaget. Dia mencari arah suara. Di halaman rumahnya, disana telah hadir orang tua, kakak, dan teman-teman akrabnya. Halaman rumahnya telah disulap menjadi halaman dengan hiasan bunga dan pita khas ulang tahun. Ibu Julia mendekati anaknya yang masih melongo, setengah percaya dengan apa yang dilihatnya. Ibu Julia membawa sebuah kue tart besar dengan tulisan diatasnya “Happy birthday Rekha yang ke-17 tahun” dengan lilin yang berjumlah 17 buah. Rekha meniup lilin diiringi dengan nyanyian selamat ulang tahun yang dinyanyikan oleh orang-orang yang hadir di pesta kecil itu.
“Makasih semuanya.... Udah repot-repot untuk merayakan ulang tahunku. Malah kalian udah datang pagi buta kayak gini.”kata Rekha terharu.
“Sebenarnya kami menginap disini, Re.”kata Chika, teman sekelas Rekha.
“Hah? Kapan kalian dateng? Seingatku, aku nggak pernah ngeliat kalian datang tadi malem.”
“Kak Danny tuh. Nelpon kami malem-malem. Bayangin aja, jam 10 malem. Temen-temen udah pada ngantuk, tapi Kak Danny tetep ngotot nyuruh kita dateng kesini. Untungnya sih Kak Danny mau jemput. Kalo nggak, males banget nih kesini malem-malem.”kata Viola, sahabat karib Rekha.
“Iya, Re. Danny tuh yang ngotot banget buat pesta ini untuk kamu. Jadi dia nyuruh teman-teman kamu datang saat kamu udah tidur. Setelah mereka dateng, Danny merancang pesta kecil ini untukmu.”kata Ibu Julia sambil tersenyum.
“Oh pantas aja Kak Danny berisik banget tadi shubuh ngebangunin Rekha.”
“Ya iya. Masa’ sweet seventeen nggak dirayain sih, Rekha manis.”kata Danny menatap adiknya gemes.
“Walaupun begitu, terima kasih semuanya. Nah kue yang pertama untuk Ibu da kue yang kedua untuk ayah,”kata Rekha sambil memotong kue tart. Setelah itu, kue itu diberikan kepada kedua orang tuanya.
“Kue untukku mana, Re?”tanya Danny tidak sabaran.
“Iya deh. Aku kasih kue yang ketiga ke kak Danny sebagai tanda terima kasihku karena udah mau caek-capek membuat pesta ini untukku.”kata Rekha sambil memotong kue tart yang akan dia berikan kepada kakaknya. “Thanks kak.”
“Ya, sama-sama adikku sayang.”kata Kak Danny sambil mengedikkan matanya ke arah Rekha, lalu mengacak-acak rambut Rekha yang pendek.
Acara pesta ulang tahun Rekha sederhana saja. Acara itu sudah berlangsung selama satu jam. Kini saatnya membuka kado yang diberikan oleh keluarganya dan teman-temannya. Ayahnya memberikan sebuah topi hitam yang sangat keren. Ibunya memberinya sebuah sneaker model terbaru. Sedangkan teman-temannya patungan memberinya sebuah celana boxer warna hitam yang memiliki kualitas terbaik. Kereeen... Tapi Danny malah memberinya baju lengan panjang dan rok panjang berwarna pink. Bayangin aja, warna pink. Rekha nggak suka warna pink. Dia sukanya warna hitam.
“Kak Danny apa-apaan sih, ngasih aku baju cewek kayak gini. Warna pink pula. Kak Danny tau kan aku tuh nggak suka banget sama warna pink.”kata Rekha sambil membentangkan baju pemberian Danny.
“Kakak ingin kamu memakai baju itu, Re. Kamu kan cewek. Masa’ setiap hari dandanannya kayak cowok sih.”
“Tapi Kak...”
“Udah. Kalau kamu nggak mau pakai, disimpen aja dulu. Kakak yakin kamu pasti membutuhkannya suatu saat nanti.”
“Hmm...baiklah.”kata Rekha malas.
Danny memang paling tidak suka dengan dandanan Rekha yang super tomboy. Dia bersikeras merubah dandanan Rekha menjadi feminin. Akan tetapi ayah dan ibunya malah membiarkan Rekha berpakaian sesuai degan yang diinginkan Rekha.
***
Pesta kecil itupun usai. Mereka kembali beraktivitas seperti biasa. Hari ini Rekha dan teman-temannya berencana akan pergi ke museum. Dengan mengenakan kaos oblong warna hitam, celana boxer hitam yang baru saja diberikan oleh teman-temannya dan sneaker putih yang diberikan oleh ibunya. Dia juga mengenakan ransel warna hitam dan topi hitam pemberian ayahnya. Semua pakaian yang Rekha kenakan berwarna hitam. Dia berangkat menuju taman kota dekat kantor pos pusat untuk menunggu teman-temannya. Museum itu terletak di dekat kantor pos pusat.
Rekha berangkat dengan berjalan kaki karena kebetulan rumahnya lumayan dekat dengan taman kota. Saat dia tiba disana, dia menunggu teman-temannya di pinggir jalan sekitar taman kota. Rekha berjalan mondar mandir sambil melirik jam tangannya. Tiba-tiba seseorang menabraknya. Seorang bule yang sedang berjalan-jalan di taman kota.
I’m sorry, boy.”kata bule itu. Rekha terkejut dengan perkataan bule itu kepadanya. Dia memanggilku ‘boy’? Dia kira aku cowok? Rekha melongi sesaat sambil menatap wajah bule itu.
Excuse me, Sir. But, I’m a girl, not a boy.”kata Rekha. Untung aku bisa sedikit berbahasa inggris.
What??? You’re a girl? I....I can’t believe it.”kata bule itu tidak percaya.
Yeah. And my name is Rekha.”kata Rekha kemudian sambil menjabat tangan bule itu.
Lenka?”tanya bule itu heran.
Oh no.... no, Rekha. Ar – i – kei – eits – ei, R-E-K-H-A.”jawab Rekha sambil mengeja namanya.
Okay. I’m Jason Sweyn, Rekha. Canadian.
Glad to meet you Mr. Sweyn.
Me too...”
Jason Sweyn, bule asal Kanada dengan rambut hitam kecokelat-cokelatan, mata hitam, dan alis hitam. Hidungnya mancung dan berkulit putih. Badannya tinggi, dagunya sejajar dengan tubuh Rekha sehingga Rekha harus enengadah untuk melihat wajahnya. Saat Jason menatapnya, wajah Rekha bersemu merah.
What are you doing here, Mr. Sweyn?”kata Rekha menyembunyikan kegugupannya.
I’m going to the museum. Do you know where is it?
Definitely. My friends and I are going to go there. I’m waiting for them.”
Really?
Yeah.”
Tak berapa lama kemudian, teman-temannya pu tiba.
“Hai, Re. Udah lama nunggu? Sorry, kita telat.”kata Andre, teman sekelas Rekha.
“Nggak apa-apa. Aku baru aja tiba kok.”
“Eh, bule disampingmu tuh siapa?”tanya Chika.
“Oh, namanya Jason Sweyn. Hmm...Mr. Sweyn, they are my friends.”
Hello, I’m Jason Sweyn.”
So, can we go now?”kata Rekha kepada semuanya.
We? Kita?....maksudmu bule itu juga?” bisik Viola.
“Ya, dia juga akan ke museun. Jadi, sekalian aja kuajak. Nggak apa-apa kan?”
“Malah lebih bagus.”kata Rio.
Akhirnya mereka berangkat menuju ke museum yang terletak di sebelah barat kantor pos pusat. Mereka menghabiskan waktu dengan memotret benda-benda purbakala yanng terdapat di museum itu.
***
Setelah seharian berada di museum, akhirnya mereka memutuskan untuk pulang. Jason Sweyn pulang lebih awal. Andre dan Rio pulang bersama sedangkan Chika dijemput oleh supirnya. Viola dan Rekha akhirnya pulang bersama dengan berjalan kaki. Kebetulan rumah mereka berdekatan.
Mereka berdua berjalan melalui taman kota yang terlihat ramai dengan pengunjung yang sedang piknik di sore hari. Maklum, hari libur. Rekha kelelahan dan mengeluarkan banyak keringat. Dia membalikkan topinya sehingga dia tampak keren sekali. Dia berjalan berdampingan dengan Viola yang sedang memakai baju pink dan celana jeans biru. Tiba-tiba dua orang gadis yang hampir seumuran dengan mereka menghampiri keduanya.
“Hei cowok. Keren banget sih. Godain kita dong.”kata gadis yang memakai baju baby doll sambil melirik genit ke arah Rekha.
“Iya nih. Nggak Cuma keren, tapi cakep dan gayanya juga cool banget. Namanya siapa sih?”kata gadis yang satunya. Rekha hanya terdiam bingung. Setelah itu gadis itu berusaha memegang pipi Rekha tapi Rekha menghindar. Gadis itu terlihat kecewa dengan perlakuan Rekha.
Tiba-tiba kedua gadis itu mengalihkan pandangan ke arah Viola yang sedang melongo. Rekha masih saja terdiam.
“Duh, sayang ya. Dia udah punya cewek.”kata gadis yang berbaju baby doll lagi.
“Iya, padahal cowok ini cakep juga, putih lagi.”kata gadis yang berambut keritinng gantung.
“Kalau gitu, kita pulang aja yuk. Masih ada kesempatan lain untuk menggodanya, kalau ceweknya nggak ada.”kata gadis yang berbaju baby doll sambil tertawa. Kedua gadis centil itu berlalu dari hadapan mereka.
“Ya ampun, Re. Kamu cakep banget sih.”kata Viola sambil mencubit pipi Rekha gemes. Rekha pun meringis kesakitan.
“Vi, kenapa sih mereka kelakuannya kayak gitu. Jijik, tau nggak? Memangnya aku cowok? Digodain kayak gitu.”kata Rekha.
“Re, kamu sadar nggak sih? Mereka ngirain kamu tuh cowok. Terus aku dikirain pacar kamu.”
“Ah, masa’ sih?”
“Dasar telmi. Liat aja penampilanmu. Nggak ada yang nyangka kalo kamu tuh cewek. Kamu cakep, Re. Lagi pula kulitmu putih. Banyak banget cewek sekarang yang suka sama cowok yang berkulit putih.”
“Sebenernya udah beberapa kali aku digodain kayak gitu sama cewek. Risih juga. Tapi aku baru nyadar sekarang. Pantas aja Mr. Sweyn memanggilku dengan sebutan ‘boy’. Dia kira aku cowok.”
“Ya iyalah Rekha sayang. Siapa yang ngira kamu cewek kalo dandananmu kayak cowok gini.”
“Terus, aku harus gimana dong? Masa’ aku harus pakai pakaian baby doll kayak cewek tadi? Aku kan nggak suka.”
“Kamu nggak perlu memakai baju genit kayak gitu. Kayak aku aja. Natural. Nggak terlalu feminin tapi enjoy. Dan satu lagi, panjangin tuh rambut. Seenggaknya sebahu.”
“Jadi aku benar-benar harus merubah penampilan ya?”katanya sedih. “Tapi aku suka berpakaian kayak gini, lebih nyaman.”
“Gimanapun kamu itu cewek, Re. Kamu nggak bisa menyalahi kodrat Tuhan. Ubah penampilanmu sedikit demi sedikit. Nggak usah terlalu feminin. Biasa aja. Kamu nggak mau kan kejadian kayak tadi terulang terus.”
Rekha menggeleng lemah kemudian tertunduk murung. Mereka masih berjalan menuju rumah mereka masing-masing.
“Hei, nggak usah murung begitu, kekasihku sayang. Nanti cakepmu berkurang.”kata Viola menggoda Rekha.
“Vi, jangan bercanda ah.”
Tiga pasang bola mata menatap mereka sinis, seakan ingin menerkam mereka, milik tiga orang gadis cantik yang sedang berjalan berdampingan melewati mereka berdua. Salah seorang dari mereka menatap sinis ke arah Viola. Viola jadi salah tingkah. Kenapa sih mereka menatapku seperti itu?. Tapi Viola segera mengerti ketika mata gadis itu melirik ke arah Rekha. Oh, mereka iri rupanya. Ketiga gadis itu beralih memandang Rekha terus-terusan. Tapi Rekha tidak peduli. Sepertinya dia sedang berada di dunia lain. Mungkin dia sedang memikirkan perkataan Viola tentang penampilannya yang super tomboy.
Tiba-tiba Viola menarik tangan Rekha dan memegangnya erat. Kemudian matanya berbalik menatap sinis kepada ketiga gadis itu. Rekha tersentak kaget dengan kelakuan Viola.
“Vi, kamu kenapa sih?”
“Nggak apa-apa, Re. Aku hanya memastikan kalau kamu emang disangka coeok sama ketiga gadis itu. Dari tadi mereka menatapku sinis.”kata Viola sambil menunjuk kearah ketiga gadis itu. Kemudian mereka bertiga membuang muka seakan jijik melihat kelakuan Viola. Dan mereka pun segera beranjak pergi dari sana.
“Re, liat kan? Mereka bener-bener ngirain kamu cowok. Dan mereka iri sama aku.”
“Ngapain juga mereka iri? Emangnya mereka siapa?”
“Duh, nih anak. Cakep-cakep, telmi.”kata Viola sambil menjitak kepala Rekha.
“Iya....iya....aku udah ngerti. Sakit nih.”kata Rekha meringis. Akhirnya mereka tiba di depan rumah Rekha. Dia membuka pintu pagar dan masuk.
“Nggak mau masuk dulu, Vi?”
“Nggak ah, udah sore. Lain kali aja yah. Lagi pula nanti ada yang iri.”
“Siapa?”
“Bener-bener nih anak. Mau dijitak lagi?”kata Viola gemes.
“Iya...iya deh tuan putri.”
“Aku pulang yah, sayang. Pikirin tuh mateng-mateng omonganku. Oh, iya, titip salam buat kak Danny yah. Hehe...”kata Viola sambil mengedikkan matanya.
***
Malam itu Rekha tidak bisa tidur. Dia masih memikirkan kejadian tadi sore dan memikirkan kata-kata Viola. Viola bener juga. Aku harus merubah penampilanku. Kalau gini terus, aku akan disangka cowok terus-terusan. Setelah lama berpikir, akhirnya Rekha memutuskan untuk meminta pendapat kakaknya. Dia bangkit dari tempat tidurnya kemudian bergegas ke kamar kakaknya.
“Kak Danny...bukain pintu dong. Rekha mau bicara nih.”
“Ya, bentar.”
Ada apa dengan anak ini, nggak biasanya, pikir Danny.
“Ada apa Re? Gangguin tidur kakak aja.”kata Danny saat membuka pintu.
“Rekha nggak bisa tidur nih kak.”
“Masuklah. Coba kamu cerita ke kakak.”
Untung aku punya kakak yang pengertian. Mengalirlah cerita dari mulut Rekha tentang kejadian tadi sore.
“Kakak jangan ketawa yah.”kata Rekha disela-sela pembicaraannya.
“Nggak akan.”
Tapi Danny tidak bisa menahan tawa dan akhirnya dia tertaw terbahak-bahak dihadapan adiknya itu.
“Tuh, kan. Kakak ngetawain Rekha. Katanya nggak akan ketawa.”
“Maaf, Re. Tapi itu udah keterlaluan banget. Lucu banget. Disangka cowok, terus banyak cewek yang ngejar-ngejar.”kata Danny sambil memegang perutnya yang sakit karena ketawa.
“Terus aku harus ngapain dong kak...”
“Ikuti aja saran dari Viola.”
“Hah??? Jadi kakak juga pengen aku merubah penampilan?”
“Ya.”
Rekha berpikir sejenak. “Oke, akan aku pikirkan.”
“Nah, gitu dong. Itu baru namanya adikku yang cakep, eh cantik.”
***
Beberapa bulan sejak kejadian itu telah berlalu. Rekha pun merubah penampilannya menjadi sedikit feminin. Dia sudah mulai memakai baju lengan panjang dan rok. Rambutnya juga sudah panjang sebahu. Benar-benar berbeda dari penampilannya yang dulu.
“Wow, kamu cantik banget Re.”kata teman-temannya saat melihat penampilan baru Rekha.
Bahkan dia sudah memutuskan untuk mengenakan jilbab, katanya lebih nyaman. Rekha sangat senang dengan penampilan barunya. Karena sekarang, Rekha isn’t tomboy.

By Fakhriyah HS

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda