Keterbatasanku adalah Kesempurnaan Chapter 1 Part 2
Walau Matematika Tak
Mampu Tapi Pernah Menyukai Fisika
S
|
etelah
lulus di bangku Sekolah Dasar, aku meneruskan pendidikanku di Sekolah Menengah
Pertama (SMP) yang berada dekat tempat tinggalku. Aku sebenarnya tidak terlalu
senang dengan sekolah formal, namun aku mengikuti anjuran orang tuaku untuk
tetap melanjutkan pendidikanku ke jenjang yang lebih tinggi. Aku lebih senang
berada di sawah membantu orang tuaku bertani.
Suatu
waktu ketika aku masih duduk di kelas satu SMP, wakil kepala sekolahku
menggantikan guru Fisikaku untuk sementara waktu berhubung guru Fisikaku
berhalangan. Sejak itu aku agak menyukai mata pelajaran itu. Padahal sebelumnya
aku sama sekali tidak menyukai mata pelajaran yang berhubungan dengan angka dan
perhitungan, apalagi yang dipenuhi seabrek rumus seperti Fisika. Namun, karena
wakil kepala sekolahku yang mengajar dan beliau membuat semua rumus yang
terlihat sulit itu menjadi simpel, maka aku lebih cepat mengerti.
Aku
sempat tertarik dan sangat menyukai mata pelajaran Fisika. Sepulang sekolah,
aku sangat bersemangat mengulang-ulang pelajaran yang kuterima dari wakil
kepala sekolahku. Aku mengerjakan tugas-tugas Fisikaku dengan penuh antusias. Bagiku
rumus-rumus yang kelihatannya njlimet terasa
lebih mudah dengan cara-cara yang diajarkan oleh wakil kepala sekolahku. Aku
pun tak pernah menyangka kalau aku bakalan
suka dengan mata pelajaran itu. Karena Fisika aku sempat menjadi anak rumahan
yang tidak keluyuran saat pulang sekolah. Aku terus menekuri bukuku dan
megerjakan soal-soal Fisika. Bahkan orang tuaku pun heran denganku. Anak yang
biasanya hobby di ladang dan di sawah tiba-tiba saja menjadi anak yang rajin
belajar. Nilai Fisikaku pun meningkat drastis. Dan di rapor pun nilaiku
termasuk nilai yang sangat tinggi. Aku puas dengan nilaiku, dan aku puas dengan
apa yang kucapai. Walaupun sebelumnya aku sempat tinggal kelas karena mata
pelajaran Matematika, namun tak kusangka nilai Fisikaku lebih tinggi. Padahal
bagiku pelajaran Fisika lebih sulit lagi dari Matematika.
Akan
tetapi, pada akhirnya wakil kepala sekolahku berhenti mengajar kami dan
diangkat menjadi kepala sekolah. Dan yang mengajar kami selanjutnya adalah guru
Fisika tetap. Setelah itu, aku tidak tertarik lagi dengan mata pelajaran Fisika,
pasalnya teknik pengajaran guru tetap kami sangat berbeda dengan teknik
pengajaran yang dilakukan oleh wakil kepala sekolahku. Hingga pada akhirnya,
aku kembali terbelakang dalam bidang yang pernah kusukai, bidang Fisika.
Pernah Berurusan Dengan
Guru BP
S
|
etelah
duduk di kelas dua SMP, aku mulai merasa jenuh dengan kehidupan di sekolah. Aku
selalu berniat untuk bolos, namun aku masih mengingat pesan orang tuaku untuk
belajar sungguh-sungguh agar aku bisa memiliki ilmu yang tinggi. Oleh karena
itu aku masih berusaha untuk tidak bolos dan mengikuti semua mata pelajaran di
saat jam belajar.
Tapi
rasa jenuhku didalam kelas masih sangat menggangguku. Oleh sebab itu jika ada
jam kosong atau ada guru yang berhalangan hadir, aku sangat senang. Aku dan
teman-temanku yang lain berkeluyuran di luar kelas saat jam itu. Tak jarang
kami sampai keluar dari sekolah untuk mencari sesuatu yang menarik yang bisa
menghilangkan rasa jenuh kami. Padahal ada peraturan sekolah yang melarang kami
untuk keluar dari sekolah selama jam belajar berlangsung. Namun kami tidak
peduli dan tidak mengindahkan aturan itu.
Di
mata sebagian guru, kami termasuk anak-anak yang bandel dan nakal karena
terlalu sering melanggar peraturan. Kami selalu ditegur dan diperingatkan.
Namun kami tetap tak peduli. Tak jarang pula kami keluar masuk ruang BP dan berurusan
dengan guru BP. Kami harus menjalani berbagai hukuman karena sering melanggar
peraturan sekolah. Hukuman yang harus kami jalani seperti membersihkan WC
sekolah, dan itu kami lakukan setiap pulang sekolah sehingga kami harus
terlambat pulang ke rumah. Setelah itu kami akan melepaskan penat kami dengan
bermain bola di lapangan.
Walaupun
demikian aku tak pernah merasa ketakutan dengan hukuman-hukuman yang kujalani
karena melanggar peraturan sekolah. Aku jalani hukumanku dengan santai dan
tanpa beban. Dan aku juga merasa senang karena guru-guruku memperlakukanku sama
seperti anak-anak yang lain dan tidak mengistimewakanku, ya walaupun aku berbeda
dari mereka.
Aku
sadar hukuman-hukuman itu diberikan pada kami agar kami disiplin dan tidak
bolos serta bisa mengikuti semua mata pelajaran agar nantinya kami bisa lulus
dengan nilai yang baik.
Ujian Nasional SMP,
Matematika Tertinggi
S
|
eperti
murid-murid SMP pada umumnya, untuk menghadapi ujian nasional aku juga
mengikuti les atau bimbingan belajar. Les itu diadakan setiap hari setelah
pulang sekolah. Namun, aku jarang mengikuti les itu.
Aku
lebih senang bermain di sawah pada siang hari daripada mengikuti les. Dan pada
malam harinya, teman-temanku akan mengajakku keluyuran sampai tengah malam. Tak
ada waktu belajar bagiku. Hingga orang tuaku merasa muak dengan tingkahku. Tak
jarang mereka memarahiku, namun aku tetap tidak peduli dengan nasehat mereka.
Walaupun aku tahu itu demi kebaikanku.
Suatu
malam, aku beserta teman-temanku keluyuran sampai jam dua malam. Dan saat aku
pulang, orang tuaku malah tak mempedulikanku, tidak memarahiku seperti
biasanya. Mereka malah berkata “Kenapa
nggak pulang aja sekalian”. Aku sempat merasa sedih saat mereka berkata
seperti itu. Tapi aku tahu mereka mengatakan hal itu agar aku tidak
terus-terusan terjerumus kedalam kebiasaan burukku itu. Sejak saat itu, aku
sudah menghentikan kebiasaanku keluyuran tengah malam.
Beberapa
bulan setelah itu, ujian nasional pun berlangsung. Hari pertama yaitu ujian Bahasa
Indonesia. Aku agak lumayan bisa mengerjakan ujianku, walaupun aku masih merasa
sulit dengan pilihan-pilihan jawaban yang membingungkan. Hari kedua adalah ujian Bahasa Inggris, aku
malah tidak belajar. Aku hanya mengerjakan apa yang bisa kukerjakan. Hari
ketiga adalah ujian Matematika, pelajaran yang sama sekali tidak kumengerti.
Aku mengerjakan ujianku apa adanya, sesuai dengan kemampuanku. Dan aku hanya
berharap hasil yang terbaik untukku.
Dua
bulan kemudian, pengumuman hasil ujian nasional se-Indonesia. Aku merasa sangat
gugup, takut aku tidak lulus. Aku hanya pasrah dengan hasil yang akan kuterima.
Saat aku melihat papan pengumuman, rasanya jantungku tak pernah berhenti
berdebar kencang. Aku melihat nomor ujianku dan mencocokkannya dengan nomor
yang tercantum di papan pengumuman. Aku merasa lega sekali melihat nomor
ujianku tercantum dan dinyatakan lulus. Dan hal yang tak pernah kuduga, nilai
ujian Matematikaku menempati posisi tertinggi diantara nilai ujianku yang lain.
Nilai ujian Matematikaku termasuk nilai terbaik diantara teman-temanku. Tak
pernah kuduga bahwa aku bisa lulus SMP dengan nilai yang baik. Itu semua karena
anugerah dari Tuhan.
Tak Berniat Melanjutkan
Pendidikan
S
|
etelah
lulus SMP aku tidak berniat melanjutkan pendidikanku ke jenjang pendidikan
selanjutnya yaitu Sekolah Menengah Atas (SMA). Namun sahabatku, Rahmat
mengajakku melanjutkan pendidikan di sekolah SMA yang berada sekitar berpuluh
kilometer dari tempat tinggalku.
Awalnya
aku hanya ingin membantu orang tuaku bekerja di sawah dan di ladang. Bagiku,
menghabiskan waktu sepanjang hari di sawah dan ladang lebih menyenangkan dibandingkan
belajar di kelas. Tapi setelah aku berpikir dan setelah kuberitahu orang tuaku,
ternyata mereka mendukungku untuk melanjutkan pendidikanku ke jenjang SMA.
Akhirnya
aku memutuskan untuk melanjutkan pendidikanku bersama sahabatku di sebuah SMA
yang terletak di daerah jauh dari tempat tinggalku. Untuk sampai ke sekolah itu
kami harus menyeberangi sungai dan sawah-sawah. Jarak dari tempat tinggalku
dengan sekolahku sekitar sejam jika ditempuh dengan menggunakan perahu
angkutan.
Karena
jarak sekolahku sangat jauh dari tempat tinggalku, maka aku harus tinggal di
asrama yang disediakan untuk para siswa yang rumahnya berada jauh dari sekolah.
Sekolahku memang unik. Dua ruang kelas dijadikan sebagai asrama, dan ruang
kelas lainnya digunakan sebagaimana mestinya.
Saat
akan melakukan registrasi pendaftaran di sekolahku, aku beserta sahabatku harus
menggunakan sebuah taksi untuk sampai disana. Dengan ditemani oleh ayah dari
sahabatku, kami melakukan perjalanan menuju ke sekolahku. Sesampainya di sana
kami lalu melakukan registrasi pendaftaran. Karena hari telah menjelang sore,
maka tak ada lagi taksi yang bisa mengangkut kami kembali ke daerah kami.
Maka
kami memutuskan untuk menggunakan perahu angkutan untuk menyeberangi sungai.
Perahu yang kami tumpangi sudah tua dan onderdilnya sudah banyak yang rusak
sehingga waktu yang dibutuhkan untuk mencapai pinggiran sungai semakin lama.
Sekitar
sepuluh kilometer dari sekolah, dan kami telah berada di tengah-tengah sungai
yang sangat luas, tiba-tiba saja perahu yang kami tumpangi macet. Air masuk
kedalam perahu dan kami harus menimba air itu dan mengembalikannya kembali ke
sungai.
Kami
terus saja berusaha mengeluarkan air yang telah masuk ke dalam perahu hingga
akhirnya air itu habis. Waktu telah menunjukkan pukul sebelas malam. Kami belum
tiba di rumah. Kami masih berada di atas perahu yang hampir saja tenggelam
kemasukan air.
Mendekati
pinggiran sungai, ternyata air sungai semakin surut hingga perahu yang kami
tumpangi sulit mencapai pinggiran sungai karena tak ada arus sungai. Hal ini
menyebabkan kami harus mendorong perahu kami hingga sampai di pinggiran. Saat
tiba di pinggiran kami bergegas ke darat untuk mengeringka baju kami yang basah
karena perahu yang kemasukan air.
Setelah berada di darat, kami harus berjalan beberapa kilometer lagi untuk sampai ke jalan raya yang menuju rumah kami. Hingga pukul 02.00 malam, kami baru tiba di rumah. Kami langsung mengganti baju kami yang basah kuyup agar kami tidak tambah kedinginan. Sungguh pengalaman yang sangat berharga dan tak pernah kulupakan seumur hidupku.
Setelah berada di darat, kami harus berjalan beberapa kilometer lagi untuk sampai ke jalan raya yang menuju rumah kami. Hingga pukul 02.00 malam, kami baru tiba di rumah. Kami langsung mengganti baju kami yang basah kuyup agar kami tidak tambah kedinginan. Sungguh pengalaman yang sangat berharga dan tak pernah kulupakan seumur hidupku.
By Fakhriyah HS

0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda