Jumat, 24 Juli 2015

Keterbatasanku adalah Kesempurnaan Chapter 1 Part 2


Walau Matematika Tak Mampu Tapi Pernah Menyukai Fisika
S
etelah lulus di bangku Sekolah Dasar, aku meneruskan pendidikanku di Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang berada dekat tempat tinggalku. Aku sebenarnya tidak terlalu senang dengan sekolah formal, namun aku mengikuti anjuran orang tuaku untuk tetap melanjutkan pendidikanku ke jenjang yang lebih tinggi. Aku lebih senang berada di sawah membantu orang tuaku bertani.
Suatu waktu ketika aku masih duduk di kelas satu SMP, wakil kepala sekolahku menggantikan guru Fisikaku untuk sementara waktu berhubung guru Fisikaku berhalangan. Sejak itu aku agak menyukai mata pelajaran itu. Padahal sebelumnya aku sama sekali tidak menyukai mata pelajaran yang berhubungan dengan angka dan perhitungan, apalagi yang dipenuhi seabrek rumus seperti Fisika. Namun, karena wakil kepala sekolahku yang mengajar dan beliau membuat semua rumus yang terlihat sulit itu menjadi simpel, maka aku lebih cepat mengerti.
Aku sempat tertarik dan sangat menyukai mata pelajaran Fisika. Sepulang sekolah, aku sangat bersemangat mengulang-ulang pelajaran yang kuterima dari wakil kepala sekolahku. Aku mengerjakan tugas-tugas Fisikaku dengan penuh antusias. Bagiku rumus-rumus yang kelihatannya njlimet terasa lebih mudah dengan cara-cara yang diajarkan oleh wakil kepala sekolahku. Aku pun tak pernah menyangka kalau aku bakalan suka dengan mata pelajaran itu. Karena Fisika aku sempat menjadi anak rumahan yang tidak keluyuran saat pulang sekolah. Aku terus menekuri bukuku dan megerjakan soal-soal Fisika. Bahkan orang tuaku pun heran denganku. Anak yang biasanya hobby di ladang dan di sawah tiba-tiba saja menjadi anak yang rajin belajar. Nilai Fisikaku pun meningkat drastis. Dan di rapor pun nilaiku termasuk nilai yang sangat tinggi. Aku puas dengan nilaiku, dan aku puas dengan apa yang kucapai. Walaupun sebelumnya aku sempat tinggal kelas karena mata pelajaran Matematika, namun tak kusangka nilai Fisikaku lebih tinggi. Padahal bagiku pelajaran Fisika lebih sulit lagi dari Matematika.
Akan tetapi, pada akhirnya wakil kepala sekolahku berhenti mengajar kami dan diangkat menjadi kepala sekolah. Dan yang mengajar kami selanjutnya adalah guru Fisika tetap. Setelah itu, aku tidak tertarik lagi dengan mata pelajaran Fisika, pasalnya teknik pengajaran guru tetap kami sangat berbeda dengan teknik pengajaran yang dilakukan oleh wakil kepala sekolahku. Hingga pada akhirnya, aku kembali terbelakang dalam bidang yang pernah kusukai, bidang Fisika.

Pernah Berurusan Dengan Guru BP
S
etelah duduk di kelas dua SMP, aku mulai merasa jenuh dengan kehidupan di sekolah. Aku selalu berniat untuk bolos, namun aku masih mengingat pesan orang tuaku untuk belajar sungguh-sungguh agar aku bisa memiliki ilmu yang tinggi. Oleh karena itu aku masih berusaha untuk tidak bolos dan mengikuti semua mata pelajaran di saat jam belajar.
Tapi rasa jenuhku didalam kelas masih sangat menggangguku. Oleh sebab itu jika ada jam kosong atau ada guru yang berhalangan hadir, aku sangat senang. Aku dan teman-temanku yang lain berkeluyuran di luar kelas saat jam itu. Tak jarang kami sampai keluar dari sekolah untuk mencari sesuatu yang menarik yang bisa menghilangkan rasa jenuh kami. Padahal ada peraturan sekolah yang melarang kami untuk keluar dari sekolah selama jam belajar berlangsung. Namun kami tidak peduli dan tidak mengindahkan aturan itu.
Di mata sebagian guru, kami termasuk anak-anak yang bandel dan nakal karena terlalu sering melanggar peraturan. Kami selalu ditegur dan diperingatkan. Namun kami tetap tak peduli. Tak jarang pula kami keluar masuk ruang BP dan berurusan dengan guru BP. Kami harus menjalani berbagai hukuman karena sering melanggar peraturan sekolah. Hukuman yang harus kami jalani seperti membersihkan WC sekolah, dan itu kami lakukan setiap pulang sekolah sehingga kami harus terlambat pulang ke rumah. Setelah itu kami akan melepaskan penat kami dengan bermain bola di lapangan.
Walaupun demikian aku tak pernah merasa ketakutan dengan hukuman-hukuman yang kujalani karena melanggar peraturan sekolah. Aku jalani hukumanku dengan santai dan tanpa beban. Dan aku juga merasa senang karena guru-guruku memperlakukanku sama seperti anak-anak yang lain dan tidak mengistimewakanku, ya walaupun aku berbeda dari mereka.
Aku sadar hukuman-hukuman itu diberikan pada kami agar kami disiplin dan tidak bolos serta bisa mengikuti semua mata pelajaran agar nantinya kami bisa lulus dengan nilai yang baik.

Ujian Nasional SMP, Matematika Tertinggi
S
eperti murid-murid SMP pada umumnya, untuk menghadapi ujian nasional aku juga mengikuti les atau bimbingan belajar. Les itu diadakan setiap hari setelah pulang sekolah. Namun, aku jarang mengikuti les itu.
Aku lebih senang bermain di sawah pada siang hari daripada mengikuti les. Dan pada malam harinya, teman-temanku akan mengajakku keluyuran sampai tengah malam. Tak ada waktu belajar bagiku. Hingga orang tuaku merasa muak dengan tingkahku. Tak jarang mereka memarahiku, namun aku tetap tidak peduli dengan nasehat mereka. Walaupun aku tahu itu demi kebaikanku.
Suatu malam, aku beserta teman-temanku keluyuran sampai jam dua malam. Dan saat aku pulang, orang tuaku malah tak mempedulikanku, tidak memarahiku seperti biasanya. Mereka malah berkata “Kenapa nggak pulang aja sekalian”. Aku sempat merasa sedih saat mereka berkata seperti itu. Tapi aku tahu mereka mengatakan hal itu agar aku tidak terus-terusan terjerumus kedalam kebiasaan burukku itu. Sejak saat itu, aku sudah menghentikan kebiasaanku keluyuran tengah malam.
Beberapa bulan setelah itu, ujian nasional pun berlangsung. Hari pertama yaitu ujian Bahasa Indonesia. Aku agak lumayan bisa mengerjakan ujianku, walaupun aku masih merasa sulit dengan pilihan-pilihan jawaban yang membingungkan.  Hari kedua adalah ujian Bahasa Inggris, aku malah tidak belajar. Aku hanya mengerjakan apa yang bisa kukerjakan. Hari ketiga adalah ujian Matematika, pelajaran yang sama sekali tidak kumengerti. Aku mengerjakan ujianku apa adanya, sesuai dengan kemampuanku. Dan aku hanya berharap hasil yang terbaik untukku.
Dua bulan kemudian, pengumuman hasil ujian nasional se-Indonesia. Aku merasa sangat gugup, takut aku tidak lulus. Aku hanya pasrah dengan hasil yang akan kuterima. Saat aku melihat papan pengumuman, rasanya jantungku tak pernah berhenti berdebar kencang. Aku melihat nomor ujianku dan mencocokkannya dengan nomor yang tercantum di papan pengumuman. Aku merasa lega sekali melihat nomor ujianku tercantum dan dinyatakan lulus. Dan hal yang tak pernah kuduga, nilai ujian Matematikaku menempati posisi tertinggi diantara nilai ujianku yang lain. Nilai ujian Matematikaku termasuk nilai terbaik diantara teman-temanku. Tak pernah kuduga bahwa aku bisa lulus SMP dengan nilai yang baik. Itu semua karena anugerah dari Tuhan.

Tak Berniat Melanjutkan Pendidikan
S
etelah lulus SMP aku tidak berniat melanjutkan pendidikanku ke jenjang pendidikan selanjutnya yaitu Sekolah Menengah Atas (SMA). Namun sahabatku, Rahmat mengajakku melanjutkan pendidikan di sekolah SMA yang berada sekitar berpuluh kilometer dari tempat tinggalku.
Awalnya aku hanya ingin membantu orang tuaku bekerja di sawah dan di ladang. Bagiku, menghabiskan waktu sepanjang hari di sawah dan ladang lebih menyenangkan dibandingkan belajar di kelas. Tapi setelah aku berpikir dan setelah kuberitahu orang tuaku, ternyata mereka mendukungku untuk melanjutkan pendidikanku ke jenjang SMA.
Akhirnya aku memutuskan untuk melanjutkan pendidikanku bersama sahabatku di sebuah SMA yang terletak di daerah jauh dari tempat tinggalku. Untuk sampai ke sekolah itu kami harus menyeberangi sungai dan sawah-sawah. Jarak dari tempat tinggalku dengan sekolahku sekitar sejam jika ditempuh dengan menggunakan perahu angkutan.
Karena jarak sekolahku sangat jauh dari tempat tinggalku, maka aku harus tinggal di asrama yang disediakan untuk para siswa yang rumahnya berada jauh dari sekolah. Sekolahku memang unik. Dua ruang kelas dijadikan sebagai asrama, dan ruang kelas lainnya digunakan sebagaimana mestinya.
Saat akan melakukan registrasi pendaftaran di sekolahku, aku beserta sahabatku harus menggunakan sebuah taksi untuk sampai disana. Dengan ditemani oleh ayah dari sahabatku, kami melakukan perjalanan menuju ke sekolahku. Sesampainya di sana kami lalu melakukan registrasi pendaftaran. Karena hari telah menjelang sore, maka tak ada lagi taksi yang bisa mengangkut kami kembali ke daerah kami.
Maka kami memutuskan untuk menggunakan perahu angkutan untuk menyeberangi sungai. Perahu yang kami tumpangi sudah tua dan onderdilnya sudah banyak yang rusak sehingga waktu yang dibutuhkan untuk mencapai pinggiran sungai semakin lama.
Sekitar sepuluh kilometer dari sekolah, dan kami telah berada di tengah-tengah sungai yang sangat luas, tiba-tiba saja perahu yang kami tumpangi macet. Air masuk kedalam perahu dan kami harus menimba air itu dan mengembalikannya kembali ke sungai.
Kami terus saja berusaha mengeluarkan air yang telah masuk ke dalam perahu hingga akhirnya air itu habis. Waktu telah menunjukkan pukul sebelas malam. Kami belum tiba di rumah. Kami masih berada di atas perahu yang hampir saja tenggelam kemasukan air.
Mendekati pinggiran sungai, ternyata air sungai semakin surut hingga perahu yang kami tumpangi sulit mencapai pinggiran sungai karena tak ada arus sungai. Hal ini menyebabkan kami harus mendorong perahu kami hingga sampai di pinggiran. Saat tiba di pinggiran kami bergegas ke darat untuk mengeringka baju kami yang basah karena perahu yang kemasukan air. 
Setelah berada di darat, kami harus berjalan beberapa kilometer lagi untuk sampai ke jalan raya yang menuju rumah kami. Hingga pukul 02.00 malam, kami baru tiba di rumah. Kami langsung mengganti baju kami yang basah kuyup agar kami tidak tambah kedinginan. Sungguh pengalaman yang sangat berharga dan tak pernah kulupakan seumur hidupku.

By Fakhriyah HS

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda