Guruku Masih Belia (eps 5)
By Fakhriyah
Hari pertama skorsing, Ricky bermalas-malasan di kamar tidurnya, sambil mendengarkan musik yang berasal dari laptopnya. Kamarnya dibiarkan berantakan, penuh dengan sampah bungkusan makanan kecil dan soft drink kaleng serta buku-buku pelajaran yang belum sempat dibereskannya. Ketukan pintu dari sang papa pun tidak digubrisnya, malas mendengarkan sang papa.
Pukul sebelas siang, Ricky baru benar-benar terbangun. Rumahnya sudah kosong. Sejak pagi, sang papa sudah berangkat kerja. Kepalanya pusing dan badannya kaku. Ricky bergegas ke kamar mandi dan segera mengguyur kepalanya dengan air dingin. Rencana pertama di hari pertama skorsing terlaksana, tidur sepuasnya. Setelah itu, dia berencana untuk bermain billiard sampai malam. Tapi sebelum itu, dia ingin mengetahui sesuatu. Penasaran dengan sosok Diva yang selalu terbayang dalam ingatannya. Bahkan sebelum tidur, sosok itu terbayang lagi.
Ricky menekan tombol-tombol di keypad handphone-nya. Tersambung. Sebuah suara bariton terdengar di seberang sana.
“Halo, Bro. Gua butuh bantuan loe.”kata Ricky.
“Apa?”kata pria di telepon, Renald, teman se-geng Ricky sewaktu SMP. Berbeda dengan Ricky yang belum lulus SMA, Renald sudah merintis usaha cafe nya sendiri setelah lulus SMA. Dia memang tidak berniat untuk kuliah. Di otaknya hanya bisnis dan uang. Namun, Renald adalah informan handal bagi Ricky. Channel nya banyak, kebanyakan berasal dari pelanggan cafe nya.
“Bantuin gua cari info seorang cewek, namanya Diva Damayanti Edward.”
“Oke, siap Bro. Mainan baru? Yang kemaren udah bosen?”tanya Renald ringan.
“Hahaha. Loe pikir gua apaan? Buaya darat?”
“Ntu, loe tau. Hahaha…Oke, Bro. Ntar gua kabari secepatnya info yang gua dapat. Tapi jangan lupa, tipsnya.”
“Wah, parah. Otak loe isinya duit mulu, jangan-jangan darah loe udah berubah jadi ijo lagi. Gampang.”Ricky bercanda.
“Hahaha. Kalo loe dapetin tuh cewek, loe bisa bawa dia ke cafe gua. Gantinya, gua kasih diskon 10%.”
“Sip.”
Klik. Sambungan terputus. Sambil menunggu info dari Renald, Ricky menyempatkan dirinya ke tempat billiard langganannya. Ditemani oleh Guntur, teman se-gengnya yang juga hobby billiard sama seperti Ricky, dia menghabiskan setengah jam mengeker bola putih di meja billiard lalu menyodoknya berkali-kali. Setengah jam berlalu, Ricky berjalan mondar-mandir gelisah di dekat meja billiard. Dari tadi, tembakannya meleset terus.
“Napa loe? Dari tadi gua liat loe gak konsen? Gak biasanya.”tanya Guntur sambil menyodok bola putihnya.
“Eh?”
“Ah, eh, ah, eh. Loe ngelamun? Gelisah amat dari tadi. Sakit loe?”
“Kagak.”jawab Ricky singkat sambil mengeker bola putih yang berada dekat sekali dengan bola nomor 2. Sesekali dia melirik ke arah handphone-nya yang diletakkan di atas meja kecil yang berada di tengah ruangan. Guntur yang telah lama mengenal Ricky langsung mengerti setelah melihat gerak gerik Ricky yang sedang gelisah. Nada pesan handphone Ricky pun berbunyi beberapa saat kemudian. Dengan segera, Ricky meraih handphone-nya melihat layarnya. Pesan dari Renald. Tanpa berpikir lagi, Ricky langsung membuka kotak masuknya.
Bro, menurut informan gua, tuh cewek kuliah semester 6 jurusan sastra Inggris. Dia ngekos sendirian. Bokapnya orang Portugis, tapi udah meninggal sejak dia berumur 2 tahun. Nyokap Jambi. Untuk membantu biaya kuliahnya, dia kerja part time jadi kasir toko. Cuma ntu yang gua dapet. Ntar gua sms-in alamat kosnya. Sms gua belum dibales sama informan. Ada yang loe butuhin lagi? Ngomong-ngomong, tumben banget loe tertarik sama cewek kayak begitu. Biasanya kan loe tertarik sama cewek kalangan atas, maksud gua kaya raya, body plus-plus, mulus bahenol kayak model. Loe kagak disantet kan?
Ricky tersenyum membaca pesan singkat dari temannya itu, dia kemudian membalasnya.
Thanks infonya, Bro. Untuk saat ini cukup. Hahaha, jaman sekarang loe masih aja percaya tuh sama yang begituan. Gua cuma penasaran aja sama tuh cewek. Lagian cewek itu bukan tipe gua.
Klik, pesan terkirim. Sesaat kemudian, nada pesannya berbunyi. Pesan dari Renald, pesan yang berisi alamat kos Diva. Ricky segera bergegas menuju alamat yang dituju. Dia juga meminta Guntur untuk menemaninya ke alamat itu. Motor Thunder-nya langsung melesat kencang.
***
Ricky ditemani oleh Guntur telah tiba di tempat kos Diva setengah jam setelah menerima alamat kos yang dikirimkan oleh Renald. Sudah pukul 08.00 malam, namun tak ada tanda-tanda Diva berada di kosnya. Setengah jam kemudian, lampu kamar Diva menyala. Diva baru saja pulang bekerja. Ricky masih saja bersembunyi di balik pohon cemara yang berada di halaman kos Diva, memperhatikan Diva dari kejauhan.
“Ric, ntu cewek yang loe kejar? Lumayan juga, cakep.”kata Guntur.
“Siapa bilang gua ngejar tuh cewek. Gua cuma penasaran aja.”
“Loe nggak bisa bohongin gua, Ric. Gua kenal loe sejak SMP. Gua tau kalo loe beneran suka sama tuh cewek. Dia beda kan sama cewek-cewek loe sebelumnya? Gua tau itu. Loe udah beneran suka sama tuh cewek, Ric.”
“Beneran, Gun. Gua gak suka sama tuh cewek. Gua cuma penasaran.”
“Udah deh, Ric. Walaupun loe bohongin gua, loe nggak bisa bohongin perasaan loe. Rasa penasaran loe itulah tanda kalo loe suka sama dia. Coba deh loe renungin perkataan gua.”
Ricky terdiam merenungkan perkataan Guntur. Tebersit dalam hatinya kalau apa yang dikatakan Guntur memang ada benarnya. Dia masih bingung dengan apa yang dirasakannya. Awalnya dia hanya penasaran dengan Diva, setelah itu dia mulai memikirkan Diva tiap saat. Setelah itu bayangan Diva terus menempel dalam otaknya. Akan tetapi dia tidak tahu kalau sebenarnya perasaan itu adalah rasa suka.
Selama beberapa hari, Ricky mencari tahu segala hal yang berkaitan dengan Diva, dan barulah dia benar-benar menyadari kalau dia memang menyukai Diva. Kemandiriannya, sikap tak kenal takutnya, sifat pekerja kerasnya, dan sikapnya yang tidak manja seperti kebanyakan gadis yang telah dikencaninya membuat Ricky sangat terkesan.
Diva Damayanti Edward, ah, gadis itu telah membuatnya menyadari satu hal. Diva yang berjuang untuk membiayai hidupnya sendiri dan tidak membebani orang tuanya telah membuatnya menyadari pengorbanan sang papa. Seharusnya dia lebih berterima kasih kepada sang papa karena apa yang telah dilakukan sang papa untuknya. Seharusnya dia lebih bersyukur dengan apa yang dimilikinya.

0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda