Jumat, 19 Desember 2014

Guruku Masih Belia (eps 3)

image
Sudah tiga hari Diva mengajar di SMA Harapan Negeri. Fadhil sudah berkali-kali menantang Ricky untuk melakukan ‘penembakan’ pada Diva di depan umum.
“Ayo, Ric. Berani gak sih loe?”
“Gua berani, cuma gua belum nemuin waktu yang tepat.”
“Halaah, alasan aja loe. Bilang aja loe gak berani. Cemen.”kata Fadhil memprovokasi Ricky. Biar bagaimana pun, mendengar dirinya diremehkan oleh sahabatnya sendiri, Ricky jadi tertantang.
“Oke, liat aja ntar. Gua bisa.”
“Nah, gitu dong. Itu baru namanya Ricky, penakluk wanita. Hahaha…”seru Fadhil. Tawanya membahana dalam kelas.
***
Waktu istirahat telah tiba. Para siswa yang sedari tadi perutnya keroncongan meminta makan segera bergegas ke kantin sekolah. Tak terkecuali Diva yang dari pagi belum sarapan.
“Bu, baksonya semangkuk ya, minumannya air putih tanpa es aja.”kata Diva kepada penjaga kantin.
“Iya, Non.”
Ricky dan Fadhil saat itu telah berada di kantin, bersiap melaksanakan drama penembakan pada Diva. Saat Diva menunggu di salah satu sudut kantin, tiba-tiba saja Ricky mendekatinya. Semua mata tertuju pada Ricky saat itu, apalagi para gadis. Di tengah para gadis, memang Ricky sangat digilai. Para gadis itu sangat ingin Ricky memilih mereka, namun Ricky tak pernah serius dalam berhubungan.
Saat Ricky mendekatinya, seperti biasa Diva hanya tersenyum, sangat cantik dan matanya juga teduh.
“Ada apa?”tanya Diva, masih menyunggingkan senyumnya. Namun, Ricky hanya terdiam sesaat. Ricky maju mendekati Diva sehingga jarak mereka sangat dekat. Tiba-tiba saja tangan Ricky memegang pundak Diva, kemudian Ricky merangkulnya erat. Diva sangat terkejut dan berusaha melepaskan diri. Semua mata benar-benar tertuju pada mereka berdua saat itu, bahkan para guru yang berseliweran di kantin pun menoleh tak percaya.
“Hei, apa yang kamu lakukan?”kata Diva sambil meronta melepaskan diri. Namun Ricky semakin memeluknya erat.
“Kumohon, diamlah. Gua cuma mau tau, loe mau gak jadi cewek gua?”bisik Ricky tepat di telinga Diva.
“Kamu gila ya. Lepaskan saya, Ric.”Diva balik berbisik. Dia sadar kalau dia berteriak maka perhatian seluruh orang di sekolah itu akan tertuju pada mereka berdua.
“Oke, gua lepasin. Tapi jawab pertanyaan gua, loe mau gak jadi cewek gua?”
“Apa??? Kamu benar-benar gila.”
“Kalau loe mempermasalahkan umur, gak mau pacaran sama brondong, asal loe tau aja, gua lebih tua setahun dari loe. Kalo loe gak percaya, periksa aja riwayat hidup gua di ruang administrasi.”
“Kamu benar-benar keterlaluan. Lepaskan saya, saya mohon.”
 Akhirnya Ricky melepaskan pelukannya. Sesaat setelah itu, tanpa disadari oleh Diva, Ricky kemudian mencium pipi Diva. Adegan itu membuat para gadis yang menyaksikannya berteriak histeris. Tanpa disadari juga Diva menampar pipi Ricky, kemudian dia melangkah meninggalkan kantin dengan langkah cepat. Matanya sudah mulai berkaca-kaca. Dia merasa telah dipermalukan. Gadis itu segera berlari kecil menuju toilet wanita tanpa menghiraukan tatapan orang yang melihatnya.
Diva berlari secepatnya memasuki ruang toilet yang tidak jauh dari kantin. Wajahnya panas, dan matanya mulai memerah, air mata mulai mengalir di pipinya. Untung saja waktu itu tak ada orang di toilet, jadi dia bisa menangis tanpa suara sepuasnya. Diva sama sekali tak menyangka ada orang yang akan kurang ajar terhadap dirinya. Dia merasa sangat malu.
***

by Fakhriyah 

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda