Jumat, 19 Desember 2014

Guruku Masih Belia (eps 1)

By Fakhriyah

Gedung SMA Harapan Negeri berdiri dengan megah di tepi jalan besar kota Bogor. Sekolah itu memang terkenal dengan para siswanya yang berasal dari kalangan borjuis, anak-anak pengusaha dan pebisnis sukses, pejabat negara, dan para elit politik negeri. Tidak ada kata lain yang menggambarkan sekolah itu selain kemegahan.
Bangunan sekolah yang dilengkapi elevator, taman sekolah yang terawat, kantin sekolah yang bersih dan nyaman, ruang kelas yang dilengkapi dengan fasilitas Air Conditioner dan proyektor serta layar LCD, memang menampilkan kemegahan sekolah itu. Berbanding lurus dengan berbagai fasilitas yang tersedia, biaya yang dikeluarkan untuk menempuh di pendidikan di sekolah itu juga selangit. Akan tetapi fasilitas mewah yang disediakan tidak mendukung kesuksesan para siswa dalam belajar.
Sebut saja Ricky Alfino Gunawan, seorang putra dari pemilik salah satu hotel berbintang lima di Bogor dan Jakarta, seorang putra blasteran Cina-Arab yang cakepnya pasti membuat para gadis tak berkedip, ternyata harus tinggal kelas. Walaupun sang papa mengeluarkan biaya yang besar untuk pendidikan si anak yang dipersiapkan untuk pewaris perusahaannya, tapi tetap saja si anak tak bisa memenuhi harapan sang papa.
“Udah deh, Papa nggak usah lagi nyuruh Ricky sekolah. Ricky bosen, Pa.”kata Ricky suatu hari kepada sang papa.
“Nak, setidaknya kau berusaha sedikit ya. Tolong Papa, kau satu-satunya harapan Papa. Papa mohon, Nak.”kata Papanya sambil terisak. Ricky terdiam membisu.
Sudah dua tahun, Ricky harus mengulang seluruh mata pelajarannya di kelas satu. Seharusnya dua tahun lalu dia sudah lulus, namun karena Ricky tidak pernah mengikuti ujian sehingga dia harus mengulang. Bukan karena Ricky anak yang tidak cerdas sehingga Ricky tidak naik kelas. Dia sangat cerdas, hanya saja dia malas masuk sekolah. Kondisi di keluarganya yang berantakan yang membuatnya menjadi anak berandalan.
Broken home, sudah sekitar sepuluh tahun papa dan mamanya bercerai. Mamanya kedapatan selingkuh dengan pria lain ketika papanya pergi bekerja. Oleh karena itu, hak asuh pindah ke tangan sang papa. Saat itu umurnya masih sekitar 9 tahun. Mamanya meninggalkan rumah entah kemana. Karena masalah dalam keluarganya itulah yang membuat Ricky menjadi tidak percaya dengan cinta. Mamanya yang mengaku cinta kepada papanya ternyata kehidupan rumah tangganya juga pupus di tengah jalan. Tak ada cinta sejati menurutnya. Semua hanya nafsu belaka.
Saat umurnya masih 15 tahun, dia sudah mulai mengenal pacaran, akan tetapi tujuannya hanya mempermainkan gadis-gadis yang berusaha mendekatinya. Ditambah lagi wajah yang dimilikinya sangat menawan. Siapa pun gadis yang melihatnya, tak akan berpaling. Hidung yang mancung khas orang Arab, alis yang tidak tebal juga tidak tipis, mata yang tidak terlalu sipit, dan kulit kuning langsat khas orang Cina membuatnya menjadi semakin tampan.
Di sekolah menengah, Ricky sama sekali tidak tertarik dengan belajar. Baginya, belajar itu sia-sia saja. Dia menjadi ketua geng yang melibatkan berandalan-berandalan sekolah yang sejenis dengan dirinya. Bersama teman-teman se-gengnya, dia seringkali menjahili teman-teman sekolahnya dengan menempelkan permen karet di kursi teman-temannya. Tak hanya teman-temannya yang dijahili, guru-gurunya pun ikut menjadi korban. Sungguh sangat keterlaluan. Sebernarnya para guru sudah tidak tahan dengan kelakuan Ricky and the geng, namun permintaan sang papa kepada pihak sekolah untuk tidak menyerah pada Ricky membuat pihak sekolah urung mengeluarkan Ricky dari sekolah. Apalagi sang papa adalah donatur tetap sekolah itu dengan jumlah sumbangan paling tinggi.
Di lain pihak, sebut saja Diva Damayanti Edward, seorang mahasiswa sastra Inggris sebuah universitas di Bogor sedang merancang kegiatan Proyek Kegiatan Mahasiswa (PKM) yang akan dilakukan di SMA Harapan Negeri. Sebelum melakukan PKM, Diva, begitu sapaan akrab gadis berumur 19 tahun itu, akan melakukan survei di sekolah tempat kegiatan PKM akan berlangsung.
Diva menyamar menjadi salah satu murid SMA Harapan Negeri dan memasuki kelas yang akan diajarnya saat melakukan kegiatan PKM nanti. Memang sangat mudah bagi Diva untuk menyamar menjadi siswa sekolah di sekolah itu. Tinggal meminjam baju seragam dari pihak sekolah, kemudian memasuki kelas. Tak akan ada siswa yang mengenalnya, pasalnya para siswa di sekolah itu memang memutuskan untuk saling tidak mengenal, kecuali jika mereka memiliki geng. Aneh memang, tapi begitulah kenyataannya. Mereka terlalu individualis dan tidak peduli satu sama lain. Paling-paling murid pindahan, dan sebentar lagi juga bakalan pindah lagi kalo gak betah, begitulah asumsi para siswa jika melihat ada orang baru di kelas mereka.





image

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda