Guruku Masih Belia (eps 2)

Setelah seharian menyamar menjadi siswa SMA Harapan Negeri, gadis yang memiliki darah campuran Jambi-Portugis itu mempersiapkan diri dan perlengkapannya untuk mengajar mata pelajaran Bahasa Inggris keesokan harinya. Hari yang dinanti Diva telah tiba. Dengan menggunakan blazer unik berwarna krem, dalaman putih tulang, celana kain berwarna hitam, serta wedges 7 cm, gadis tinggi dan berkulit kuning langsat itu memasuki ruang kelas diikuti oleh wali kelas.
“Selamat pagi, anak-anak.”wali kelas memberikan salam. Namun, seperti biasa, hanya sebagian siswa yang membalas salam itu, yang lain nampaknya bermalas-malasan. Nampaknya wali kelas sudah terbiasa dengan situasi seperti itu. Bu Ester, sang wali kelas, kemudian mengetuk-ngetukkan jarinya di papan tulis untuk mengalihkan perhatian.
“Anak-anak, tolong perhatikan Ibu sebentar. Hari ini kita kedatangan guru magang baru. Dia akan mengajar bahasa Inggris di kelas kita selama dua minggu. Walaupun dia guru magang, kalian tetap harus menghormatinya. Paham?”
“Paham, Bu.”para siswa itu serempak menjawab.
“Silakan dek, perkenalkan diri.”kata Bu Ester kepada Diva.
“Morning, class.”kata Diva.
“Mooooorrniiiiiingggg……”seru para siswa serempak, bersemangat melihat guru mereka. Dengan penampilan yang trendy, Diva bisa sedikit menarik perhatian. Pihak sekolah pun memperbolehkan Diva mengenakan apa saja, yang penting rapi.
“Okay, let me introduce my self. Nama saya Diva Damayanti Edward. Kalian bisa memanggil saya Kak Diva, Miss Diva, Bu Diva juga boleh.”kata Diva sambil tersenyum manis.
“Eh, Ric. Loe mau tantangan baru gak?”bisik Fadhil, teman geng Ricky di tengah-tengah perkenalan. Saat itu, semua mata tertuju pada Diva yang berada di depan kelas memperkenalkan diri.
“Apaan?”tanya Ricky penasaran.
“Kita taruhan. Kalo loe bisa dapetin kak Diva, gua traktir loe selama sebulan di tempat billiard langganan gua. Gua tau, loe hobby banget maen billiard. Gua gak mau tau gimana caranya, yang penting loe bisa dapetin dia. Gimana? Loe tertarik?”
“Hmm….”Ricky masih berpikir, sedikit tergiur dengan tawaran Fadhil. Lumayan, selama sebulan Ricky tidak perlu menyimpan sedikit uang jajannya untuk bermain billiard. Minta sama sang papa? Tidak mungkin. Sang papa tidak suka Ricky keluyuran malam-malam hanya untuk bermain billiard.
“Udah, loe gak usah banyak mikir, Ric. Bukannya loe itu banyak digemari sama cewek-cewek? Gua yakin, loe gak bakalan ditolak deh sama dia?”
“Hmm….tapi dia tuh guru, Bro.”kata Ricky ragu.
“Eh, kalo gua pikir-pikir dia itu masih semester enam. Gua punya kakak yang udah kelar kuliah. Katanya proyek kegiatan mahasiswa atau KKN atau apalah namanya, itu dilaksanakan semester enam. Kalo gitu, artinya baru dua tahun dia kuliah. Kalo emang dia selalu tepat waktu lulusnya, gak kayak kita nih yang gak lulus-lulus, berarti umurnya sekarang sekitar 19 atau 20 tahun. Dan itu artinya lagi, dia itu seumuran kita atau kita lebih tua setahun lah dari dia.”kata Fadhil lagi.
“Maksud loe apa sih ngungkit-ngungkit masalah kita yang gak lulus-lulus, pakai membanding-bandingkan segala sama tuh guru?”tanya Ricky tak sabar dengan maksud Fadhil.
“Dengerin dulu, gua belum selesai nih. Maksud gua, walaupun dia itu guru, paling dia itu seumuran kita. Jadi gak masalah kan bagi loe? Gimana? Masuk akal gak?”
“Hmm…oke deh. Gua coba. Tapi kalo gua berhasil jangan lupa janji loe.”
“Santai, Bro. Gua kan selalu tepat janji. Kalo loe berani, loe tembak dia di depan para siswa di sekolah. Kalo loe berani, gua tambah jadi dua bulan gua traktir loe.”
“Apa??? Depan umum maksud loe?”
“Yoi, depan guru-guru sekalian.”
“Wah, loe gila. Biar gua berandalan gini, gua masih punya tata krama, coy.”
“Woiii, loe gak usah mikirin tata krama deh. Loe terima nggak sih tantangan gua. Banyak alasan aja dari tadi. Berani gak?”
“Oke, deal.”
Ricky dan Fadhil asyik berbincang tentang taruhan mereka di tengah mata pelajaran Bahasa Inggris. Tiba-tiba saja Diva mendekati mereka dengan tersenyum.
“Apa yang kalian bicarakan?”tanya Diva. Ricky dan Fadhil memperbaiki posisi duduk mereka.
“Gak ada, Bu, eh Kak Diva, eh Miss…”jawab Fadhil kikuk. Dari dekat jika diperhatikan Diva memang lumayan cantik, kulitnya kuning langsat dan hidungnya yang mancung, pantas saja jika Fadhil sedikit salah tingkah ketika Diva mendekat ke arah mereka.
“Panggil saya dengan sebutan yang membuat kalian nyaman. Gak usah sungkan ya.”kata Diva masih tersenyum. “Apa yang kalian bicarakan tadi? Saya penasaran.”lanjutnya.
“Gak ada kok. Beneran deh.”kata Ricky sambil mengedikkan matanya. Diva mengerutkan keningnya, kemudian kembali ke depan kelas.
“Ya sudah, kalau ada yang ingin kalian tanyakan, jangan sungkan.”kata Diva kemudian kepada kedua pemuda itu. Kedua pemuda itu mengangguk kikuk. Kelas pun kembali berjalan seperti biasanya. Nampaknya Diva memiliki pesona yang dapat membuat semua orang tidak bisa membantah. Senyumannya yang tulus membuat para siswa itu mendengarkan apa yang dia katakan.
***
Sudah tiga hari Diva mengajar di SMA Harapan Negeri. Fadhil sudah berkali-kali menantang Ricky untuk melakukan ‘penembakan’ pada Diva di depan umum.
“Ayo, Ric. Berani gak sih loe?”
“Gua berani, cuma gua belum nemuin waktu yang tepat.”
“Halaah, alasan aja loe. Bilang aja loe gak berani. Cemen.”kata Fadhil memprovokasi Ricky. Biar bagaimana pun, mendengar dirinya diremehkan oleh sahabatnya sendiri, Ricky jadi tertantang.
“Oke, liat aja ntar. Gua bisa.”
“Nah, gitu dong. Itu baru namanya Ricky, penakluk wanita. Hahaha…”seru Fadhil. Tawanya membahana dalam kelas.
***
by Fakhriyah

0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda