Guruku Masih Belia (eps 4)

“Kenapa, Bro? Loe gagal ya? Hahaha….”celetuk Fadhil tertawa.
“Gua heran, kenapa dia nolak gua ya?”tanya Ricky, lebih bertanya kepada dirinya sendiri dibanding bertanya pada Fadhil.
“Sabar, Bro. Baru kali ini kan ada cewek yang nolak loe mentah-mentah. Makanya, loe jangan terlalu sombong, bisa dapetin cewek semau loe. Cinta itu ada, Bro. Yah, walaupun gua sebenernya gak terlalu percaya sih sama yang namanya cinta.” kata Fadhil sambil menepuk-nepuk bahu Ricky yang terdiam mematung, tak beranjak. “Wah, berarti duit gua buat nraktir loe bisa aman neh. Hahaha….” lanjut Fadhil.
Tiba-tiba seorang junior mereka berlari-lari ke arah Ricky dan Fadhil.
“Kak Ricky dipanggil ke ruangan guru sekarang. Pesan dari Bu Ester.”kata Nino, siswa kelas X.
“Mampus gua.”celetuk Ricky sambil menepuk jidatnya.
“Kenapa loe? Pake dipanggil Bu Ester segala? Loe bolos lagi? Perasaan, akhir-akhir ne loe rajin masuk.”tanya Fadhil dengan wajah bingung.
“Pasti gara-gara tadi.”kata Ricky.
“Waduh, bener juga, Bro. Dia kan tetep guru.”
“Dulu gua bilang juga apa. Dia tuh tetep guru, jadi pasti selalu berhubungan dengan pihak sekolah. Gua gak kepikiran kalo masalahnya akan rumit begini. Wah, Pasti bakalan diomelin lagi neh sama Bu Ester.”
“Waduh, sorry ya Bro. Gara-gara gua, loe jadi kena masalah lagi. Gua bakalan bantu loe semampu gua agar loe bisa keluar dari masalah ini.”kata Fadhil sedikit merasa bersalah. “Tapi loe tetep setuju kan nerima tantangan gua.”tambahnya menenangkan diri.
“Hehe, iya sih.”Ricky nyengir, sambil memukul bahu Fadhil pelan. “Nggak apa-apa. Santai aja. Gua udah biasa kali kena masalah kayak gini. Udah kebal. Hahaha….”
***
Suara ketukan pintu membuat Bu Ester sedikit terkejut. Matanya yang dari tadi tertuju pada kertas-kertas ujian para siswa kini beralih ke arah pintu ruangannya.
“Masuk.”seru Bu Ester.
Seorang pemuda dengan postur tubuh tinggi dan wajah khas blasteran Cina-Arab memasuki ruangannya. Si biang kerok masalah akhirnya datang juga, batinnya. Pemuda itu hanya terdiam cuek tanpa merasa bersalah sedikit pun menghadapkan wajahnya kepada Bu Ester, sudah bosan bolak-balik ruang wali kelas, ruang BP, sampai pada ruang kepala sekolah karena masalah yang dibuatnya.
“Kau lagi, kau lagi. Kapan sih, Nak, kau bisa sadar? Sudah berapa banyak masalah yang kau timbulkan dan sudah berapa banyak hukuman yang kau terima, kau tetap tidak jera. Ibu bosan berhadapan denganmu terus. Sekarang kau malah membuat masalah lain, kau berani memeluk seorang guru di depan umum? Kali ini kau sangat keterlaluan, Nak. ”celetuk Bu Ester panjang lebar.
“Pikir Ibu, saya tidak bosan? Bosan banget, Bu.”kata Ricky kesal.
“Apa sih yang harus Ibu lakukan supaya kau sadar dan tidak membuat masalah lagi?”Bu Ester berkata sambil mendesah pelan. Mungkin sangat lelah menghadapi siswanya yang satu itu.
“Keluarkan saja saya dari sekolah ini, maka saya tidak akan membuat masalah lagi.”kata Ricky mantap. “Lebih cepat lebih baik.”tambahnya.
Bu Ester menepuk jidatnya, “Kalau saja ayahmu bukan teman baik Ibu, sudah Ibu usulkan kepada kepala sekolah untuk mengeluarkanmu, Nak. Tapi Ibu tidak akan melakukan itu. Ibu sudah berjanji pada ayahmu untuk mendidikmu dengan baik. Kau hanya di skorsing selama seminggu. Semoga kau bisa merenungi kesalahanmu. Sekarang keluarlah dari ruangan ibu, sebelum kepala Ibu pecah karena kelakuanmu itu.”
***
“Gimana, Bro? Hukuman apalagi yang loe terima dari Bu Ester?”tanya Fadhil penasaran saat Ricky keluar dari ruangan guru.
“Cuma skrosing seminggu.”kata Ricky.
“Hah? Masa hanya karena loe meluk cewek, loe mesti di skorsing seminggu? Bukankah itu keterlaluan?”tanya Fadhil.
“Jangan lupa, dia itu guru, bukan cewek biasa. Menurut gua, malah bagus gua di skorsing. Loe tau sendiri kan, gua males sekolah. Gua malah minta ke Bu Ester supaya gua di drop out dari sekolah.”Ricky nyengir kuda.
“Astaga, loe gila ya? Trus selama di skors, loe mau ngapain aja? Kalo loe butuh bantuan gua, gua bakalan langsung meluncur ke rumah loe. Itung-itung, gua juga terlibat.”
“Gak usah loe pikirin. Gua cuma mau males-malesan di rumah, tidur sepuasnya. Maen billiard nyampe malem juga boleh tuh. Gua juga mau….”Ricky berhenti di tengah percakapannya.
“Mau apa?”tanya Fadhil penasaran.
Gua kasih tau gak ya?, batin Ricky. “Ah, nggak jadi.”
“Woiii, loe mau apa? Jangan-jangan loe mau bersenang-senang sendirian, dugem sama cewek-cewek di Hugo. Sadar, Bro….”
“Nggak.”kata Ricky tegas. “Oke, gua kasih tau. Sebenernya gua penasaran sama tuh guru. Kenapa dia nolak gua? Gua mau cari tau aja.”
“Ati-ati, Mas Bro. Awalnya penasaran. Lama-lama loe suka, bahkan cinta beneran loh sama kak Diva.”goda Fadhil.
“Nggak mungkin, bukan tipe gua.”
“Ntar kualat loh. Kalo menurut gua, kak Diva itu lumayan. Masuk kriteria gua.”
“Apa? Jadi loe yang suka sama tuh guru? Terus loe manfaatin gua buat deketin dia, gitu maksud loe?”
“Tuh guru punya nama, Bro. Diva Damayanti Edward. Selama ini, gua nggak pernah denger loe nyebut nama dia. Tapi, gua nggak manfaatin loe. Serius. Gua cuma iseng bikin taruhan, dan loe nerima taruhan gua. Gitu aja.”
“Ya udah, gua pulang dulu.”kata Ricky sambil berlalu meninggalkan Fadhil.
“Bukannya ini belum jam pulang?”tanya Fadhil sementara Ricky sudah berbalik melangkah cepat. Ricky tidak menggubris Fadhil lagi. Dia segera meninggalkan Fadhil menuju pelataran parkir sekolah untuk menunggangi Thuder-nya.
“Woiiiiii…..loe mau kemana? Belum waktunya pulang….oooooiiiiiiiii….”teriak Fadhil dari kejauhan. Ricky sudah menaiki Thunder-nya, mesinnya juga sudah menyala, helm sudah terpasang, Ricky tancap gas meninggalkan pelataran parkir.
***
Setelah kejadian di kantin itu, Ricky di skors selama seminggu, sedangkan Diva memutuskan untuk break dulu dari aktivitas mengajarnya di sekolah itu. Untungnya pihak sekolah mengizinkan, mengingat kejadian yang baru dialami oleh Diva yang disebabkan oleh salah seorang siswa dari sekolah itu.
“Saya minta izin untuk tidak mengajar selama seminggu, Pak.”kata Diva dengan enggan kepada kepala sekolah.
“Hmm..iya. Saya bisa memberikan izin, berhubung masalah yang Anda hadapi di sekolah ini. Saya atas nama sekolah, saya meminta maaf yang sebesar-besarnya.”
“Iya, Pak. Tidak apa-apa. Saya hanya ingin menenangkan diri sejenak. Permisi, Pak.”kata Diva sambil meninggalkan ruangan kepala sekolah.
Diva adalah cewek yang mandiri. Dia tidak ingin menjadi beban orang tuanya. Sambil kuliah, dia bekerja part time sebagai kasir di sebuah supermarket dekat kosnya. Gajinya lumayan untuk uang jajan dan biaya tambahan kuliah, sehingga Diva tidak harus meminta kepada orang tuanya jika dia membutuhkan uang.
Sudah sejak beberapa hari semenjak Diva mengajar di sekolah itu, Diva tidak bekerja seperti biasanya. Bosnya memberikan izin kepada Diva untuk tidak bekerja selama itu berkaitan dengan kegiatan kuliahnya. Untuk mengisi waktu kosongnya karena break mengajar selama seminggu, Diva memutuskan untuk kembali bekerja. Bosnya pun bisa menerima alasan Diva dan memperbolehkannya bekerja.
***

0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda