Jumat, 19 Desember 2014

Guruku Masih Belia (eps terakhir)

By Fakhriyah

“Bro, gua mau nembak Diva.”kata Ricky saat pesta kelulusan berlangsung. Diva telah menyelesaikan kegiatan PKM nya beberapa minggu sebelumnya. Setelah beristirahat selama seminggu Diva kembali mengajar di sekolah itu. Dia sudah melupakan peristiwa yang telah menimpanya seminggu sebelumnya. Sementara Ricky yang juga telah menjalani masa skorsing juga telah kembali belajar. Ricky lebih menjaga perasaan Diva dan mulai menghargainya. Ricky pun sempat meminta maaf secara pribadi kepada Diva usai masa skorsingnya dilaksanakan. Dan tentu saja Diva memaafkannya.
“Apa? Yang bener? Bukannya loe nggak percaya sama yang namanya cinta?”tanya Fadhil tidak percaya.
“Bukan nembak lagi, gua mau lamar dia sekalian. Gua udah sadar sekarang.”kata Ricky mantap. Dia benar-benar sudah yakin dengan kata hatinya.
“Apaaaaa???”tanya Fadhil terkejut. “Gua nggak salah denger neh? Maksud loe, loe mau lamar kak Diva? Jadikan istri?”
“Yoi.”
“Apaaaaa??? Kenapa tiba-tiba? Bukannya kak Diva bukan tipe loe?”
“Gua jatuh cinta sama Diva, Bro. Gua tau loe gak akan percaya. Gua nggak tau, tapi perasaan itu udah ada sejak gua ditolak sama dia. Setelah itu gua mencari tau segala hal tentang dia, dan itu yang semakin membuat gua suka sama Diva. Gua mutusin ngelamar Diva secepatnya.”
“Gua bilang juga apa. Loe bakalan suka beneran sama kak Diva. Dia beda sama cewek-cewek loe sebelumnya. Gua udah tau dari awal kejadiannya akan begini. Tapi gua nggak nyangka loe bakalan ngelamar kak Diva secepat ini.”
“Gua mau belajar yang bener. Setelah itu gua bakalan nerusin perusahaan bokap gua. Tapi, gua harus ngelamar dia secepatnya sebelum loe ngerebut dia dari gua. Hahaha.”
“Wah, gua bukan tipe temen yang makan temen. Gua tau loe tulus sama kak Diva. Gua nggak bakalan ngerebut dia dari loe. Gua mesti berterima kasih pada kak Diva. Dia udah ngerubah loe ke arah yang lebih baek.”Fadhil tersenyum tulus ke arah Ricky.
***
Diva baru saja pulang kerja ketika Ricky menghampirinya di depan kosnya. Ditemani oleh Fadhil, Ricky bermaksud untuk melamar Diva sore itu. Diva tersenyum saat kedua pemuda itu menghampirinya.
“Ada apa? Kalian ada perlu dengan saya? Tumben.’kata Diva sambil tersenyum.
“Hmm..gini kak…”kata Fadhil sambil melirik Ricky.
“Hmm…Va, loe gak nyuruh gua sama Fadhil masuk ke ruang tamu dulu neh. Ada yang mau gua bicarakan.”kata Ricky. Diva heran, dari dulu Ricky tak pernah memanggilnya dengan sebutan ‘kak’ atau ‘bu’. Ricky memang lebih tua setahun dari Diva, tapi Ricky tetap siswanya.
“Ya udah, kalian masuk aja dulu.”
Mereka memasuki ruang tamu dan duduk di sebuah kursi kayu klasik di depan sebuah meja bundar klasik yang terbuat dari kayu.
“Va, kali ini gua serius. Gua mau ngelamar loe.”kata Ricky terus terang. Diva agak terkejut, tak pernah menyangka dengan apa yang akan dikatakan oleh Ricky.
“Apa maksud kamu?”
“Gua janji mau belajar yang bener, dan menjadi pengusaha sukses seperti papa. Gua mau loe percaya sama gua.” Kata Ricky. Wajah tampannya terlihat lebih serius.
“Tapi kenapa tiba-tiba? Kamu nggak kenal sama saya.”
“Gua kenal sama loe. Gua udah cari tau segala hal tentang loe.”
“Apa?”tanya Diva merasa privasinya dilanggar.
“Maafin gua, tapi gua nggak bisa nahan rasa penasaran gua.”
“Hmm…Tapi, tapi kita masih muda dan masih banyak impian-impian yang belum kita raih.”
“Gua nggak bilang kita harus nikah sekarang. Gua cuma mau tunangan. Biar loe gak kemana-mana. Kita masih bisa mengejar impian-impian kita kan? Gimana?”
“Hmm….tapi…tapi…”Diva masih sedikit ragu, perasaannya bercampur aduk. Kepalanya agak pening, terkejut, seakan-akan ada batu yang menghantamnya.
“Ya udah. Apa yang harus gua lakukan supaya loe percaya sama gua, Va?”akhirnya Ricky bertanya dengan nada lesu. Pasrah dengan apa pun keputusan Diva. Yang penting dia sudah berusaha.
“Beri saya waktu lima menit untuk berpikir.”kata Diva akhirnya.
Diva berpikir keras selama lima menit sebelum mengambil keputusan yang penting dalam hidupnya itu, sedangkan Ricky masih harap-harap cemas dengan keputusan yang akan diambil Diva. Dengan perasaan campur aduk dan masih sedikit terkejut, akhirnya Diva mantap dengan keputusannya.
“Oke, saya terima, tapi dengan tiga syarat.”kata Diva akhirnya.
“Apapun, Va.”kata Ricky. Perasaannya sedikit lega.
“Pertama, kamu harus melamar secara resmi, dengan keluargamu. Kedua, kamu harus rajin belajar dan membuktikan janjimu kalau kamu bisa jadi pengusaha sukses seperti ayahmu, dan ketiga, seperti yang kamu bilang tadi, kita hanya akan bertunangan dulu, belum menikah sekarang. Kita harus fokus dengan impian kita dan saling mendukung. Setelah itu, setelah beberapa impian kita tercapai, kita menikah.”
“Oke, gua setuju.”kata Ricky senang. Tak menyangka Diva akan menerimanya.
“Dan satu syarat lagi.”kata Diva tiba-tiba.
“Apalagi sih Va?”tanya Ricky gregetan.
“Jangan menggunakan kata ‘loe’ ‘gua’ lagi kalau kamu berbicara dengan saya.”kata Diva sambil tersenyum.
“Terus harus menggunakan kata apa? Dinda?”tanya Ricky. Diva mengangguk sambil tersenyum. “Baiklah, Dinda.”kata Ricky kemudian. Fadhil yang berada di tengah-tengah kedua orang itu merasa seperti orang ketiga.
“He’em… gua balik aja dah. Gua kagak mau ganggu kemesraan pasangan kekasih yang lagi berbunga-bunga. Kayak obat nyamuk aja gua.”kata Fadhil. Diva dan Ricky tertawa bersama-sama mendengar apa yang dikatakan Fadhil.
“Udah, loe disini aja. Banyak nyamuk neh, kan loe obatnya.”kata Ricky sambil tertawa.
“Semprul loe.”kata Fadhil sambil memukul bahu Ricky pelan.
Terima kasih Tuhan atas kebahagiaan ini, batin Ricky.
***
image

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda