Annyeong Haseyo Seoul (eps terakhir)

Park Jun Ki mengajakku ke sebuah kedai pinggir jalan yang berada tidak jauh dari flatnya. Sarapan pagi dengan bubur kacang merah yang hangat memang sangat cocok dilakukan saat musim dingin. Aku akui, bubur kacang merah itu lezat sekali. Aku sampai menghabiskan dua mangkuk. Park Jun Ki terlihat tersenyum melihatku. Aku tahu, saat itu aku seperti gadis lugu yang tidak pernah makan selama tiga hari. Ah, peduli amat apa tanggapannya.
“Ajusshi, apakah menurutmu kau tidak keterlaluan kepada wanita itu?”tanyaku kemudian.
“Biarkan saja, Flo. Itu satu-satunya cara untuk membuatnya berhenti.”
“Kau tidak kasian padanya?”
“Flo, jika kau berada di posisiku, apakah kau tidak terganggu jika seseorang terus saja menempel padamu?”
“Benar juga.”kataku. Aku terdiam.
“Lagi pula, aku lebih menyukai gadis Indonesia yang berwajah oval dan kekanak-kanakan sepertimu, Flo.”kata Park Jun Ki. Perkataannya lebih terdengar seperti gumaman. Hei, apa yang dia katakan tadi? Dia menyukai gadis seperti apa? Uhuk…uhuk… tiba-tiba aku tersedak bubur kacang merah. Sial. “Ya, neo gwaenchanha? (Hei, kau tidak apa-apa?)”tanya Park Jun Ki sambil mengelus-elus punggungku.
“Eo, nae gwaenchanha (Iya, aku tidak apa-apa).”
Park Jun Ki lalu mengacak-acak rambutku sambil berkata, “Sudahlah, jangan dipikirkan, Flo. Ayo, aku antar kau ke rumah pamanmu kalau kau sudah selesai.”
Aku melongo. Hah? Apa itu? Dia berkata seperti itu lalu menyuruhku tidak memikirkannya? Benar-benar…Oh, ya ampun, aku hampir lupa kalau aku harus segera menemukan tempat tinggal paman. Nampaknya aku memang harus melupakan apa yang dia katakan. It’s time to say goodbye.
***
Dengan menggunakan mobil temannya, Park Jun Ki mengantakanku ke tempat tinggal paman di daerah Busan. Ternyata memang cukup jauh, sekitar satu jam dari Seoul. Tidak terbayangkan olehku kalau aku harus berjalan kaki sampai kesana.
Dalam perjalanan, aku bercerita tentang tujuanku datang ke Korea kepada Park Jun Ki. Dia nampak begitu terkesima ketika aku mengatakan aku datang ke Korea hanya untuk menggali inspirasiku dalam menulis. Setelah itu, dia menyuruhku menceritakan segala hal tentang Indonesia. Dengan senang hati, aku menceritakan tentang tempat-tempat wisata di Indonesia yang tidak ada di Korea, seperti wisata gunung merapi, wisata candi Borobudur dan wisata-wisata lainnya. Park Jun Ki terlihat begitu antusias mendengarku bercerita. “Daebak (keren)”cetusnya riang.
“Kalau suatu saat kau ke Indonesia, aku akan menjadi tour guide mu, free of charge.”aku tersenyum kepadanya.
“Wah, kalau begitu, kau harus menungguku disana. Aku akan meluangkan waktuku mengunjungimu disana. Kau harus menepati janjimu menjadi tour guide ku.”
Aku mengangguk mengiyakan. Setelah itu, kami pun bertukar alamat e-mail agar bisa saling berkomunikasi dengan lebih mudah. Tidak berapa lama kemudian, sebuah rumah nan indah nampak tidak jauh dari jalanan yang kami lewati.
“Itu rumah pamanmu.”kata Park Jun Ki. Setelahnya, dia menurunkanku di depan rumah itu. Rumah itu benar-benar rumah paman. Aku tidak perlu khawatir lagi.
“Ajusshi, kamsahabnida (terima kasih). Sudah membantuku selama disini. Aku tidak tahu, apa yang terjadi jika kau tidak membantuku”ujarku saat Park Jun Ki.
“Iya, Flo. Sama-sama. Terima kasih juga sudah membantuku mengatasi masalahku dengan Cha Seoung Bi. Aku bisa sedikit tenang sekarang. Dan jangan lupa, tunggu aku di Indonesia.”
Aku mengangguk pasti. Setelahnya, mobil itu melesat dengan cepat meninggalkan daerah Busan menuju Seoul. Annyeong hakaseyo, Ajusshi… Tidak bisa kupungkiri, ada rasa kehilangan yang kurasakan ketika mobil yang ditumpangi Park Jun Ki melaju pergi dari hadapanku. Dia lelaki yang baik dan aku berterima kasih padanya. Tanpanya, aku mungkin sudah menjadi pengemis di jalanan Seoul. Aku harap, suatu saat dia memang datang ke Indonesia, entah itu untuk menemuiku, atau untuk berlibur. Ya, aku harap.
***
Setahun berlalu. Aku masih sibuk dengan proyek-proyekku. Saat aku membuka-buka e-mail dari penerbit mengenai perkembangan naskahku, aku mendapati sebuah e-mail. Dan tebak e-mail dari siapa? Yup, tepat sekali. Dari Park Jun Ki. Aku benar-benar senang dia mengirimiku e-mail. Seperti ini isinya.
Flo, neo gwaenchanha? Aku merindukanmu. Bulan depan, aku ke Indonesia. Kau masih ingat dengan janjimu kan? Apapun yang terjadi, kau harus menungguku. Harus!
Aku tersenyum, lalu membalas e-mail itu.
Nae gwaenchanha. Keurom. Aku akan menunggumu, Ajusshi …
The End...
By Fakhriyah

0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda