Annyeong Haseyo Seoul! (eps 2)
By Fakhriyah
“Ya (hei)…Park Jun Ki-ssi”suara teriakan seorang wanita dengan menggunakan bahasa Korea mengejutkanku. Wanita itu tidak jauh dariku, jaraknya hanya beberapa meter. Dan apa yang dia lakukan? Dia mengejar seseorang? Lelaki? Ah, apa peduliku.
“Mwo (apa)? Dasar wanita gila.”lelaki itu terdengar berkata dengan kasar sambil terus berjalan cepat menjauhi wanita itu. Wanita itu masih saja mengikutinya seperti permen karet yang terus menempel kepadanya. Ya ampun, dunia ini sepertinya dipenuhi masalah seperti ini. Pertengkaran antar pasangan memang biasa terjadi. Mau tidak mau, aku memperhatikan juga kedua orang itu. Bagaimana tidak, mereka berjalan menuju arahku.
“Ya, Park Jun Ki-sshi. Setidaknya dengarkan aku, sekali ini saja.”teriak wanita itu. Lelaki itu menghentikan langkahnya, tepat di depanku. Aku berusaha mengalihkan pandangan, berpura-pura tidak tahu apa yang sedang terjadi. Namun, lelaki itu terus saja menatapku, kemudian mendekat ke arahku. Ya ampun, apa yang akan dia lakukan?
“Mian (maaf), aku tidak bermaksud menguping pembicaraan kalian. Aku hanya….”aku berusaha meminta maaf, tiba-tiba saja lelaki itu menarik lenganku. Hei, berani sekali dia.
“Cha Seoung Bi-ssi, Mian.Tapi aku sudah menyukai seseorang. Aku menyukai gadis ini. Jadi berhentilah mengejarku dan berhentilah menyukaiku.”kata lelaki itu sambil terus menggandeng tanganku tepat di hadapan wanita yang dari tadi bersamanya. Wanita itu terdiam sejenak. Aku berusaha melepaskan tanganku, tapi genggaman lelaki itu semakin erat. Jujur, aku terkejut. Apa maksudnya ini?
Lelaki itu pun berusaha menarikku menjauh dari tempat itu. Aku sama sekali tidak mengerti apa yang sedang terjadi disini. Semua ini serba tiba-tiba.
“Hei, Park Jun Ki. Tak kusangka tipe wanita yang kau sukai seperti gadis kecil itu. Gadis ingusan yang masih dibawah umur. Jangan bermain-main dengan anak kecil, Jun Ki-ya.”teriak wanita itu kemudian. “Awalnya aku kira kau menyukai wanita dewasa sepertiku, ternyata aku salah. Seleramu benar-benar rendah.”lanjutnya.
“Hentikan, Cha Seoung Bi-sshi. Aku sudah sangat jelas mengatakannya. Aku lebih memilih gadis kecil seperti dia daripada wanita gila sepertimu.” Lelaki yang bernama Park Jun Ki balas berteriak, kemudian dia mengajakku beranjak dari sana. Aku tidak bisa berbuat apa-apa selain mengikutinya. Mungkin situasi ini bisa kumanfaatkan. Mungkin dia tahu dimana alamat paman. Aku harap begitu.
***
“Hei, Ajusshi (paman). Lepaskan tanganku.” bentakku. Park Jun Ki pun spontan melepaskan tanganku.
“Mian. Aku telah menghadapkanmu dalam situasi sulit seperti ini. Aku yakin kau pasti terkejut.”kata Park Jun Ki. Aku mengangguk pasti.
“Aku tahu situasi apa yang sedang kuhadapi, Ajusshi. Kau memanfaatkanku. Jebal (tolong), jangan libatkan aku lagi.”ujarku.
“Mian. Jinjja (sungguh). Aku tidak punya cara lain untuk menghindari wanita itu. Aku hanya memikirkan cara ini saat melihatmu.”
“Arasseo (aku mengerti), Ajusshi. Anggap saja kejadian ini tidak pernah terjadi.”
“Hmm…apakah kau orang Korea? Atau kau orang asing?”tanya Park Jun Ki.
“Bukan, aku orang Indonesia. Dan namaku Floweria Amanda.”
“Park Jun Ki.”pria itu menyalamiku. “Boleh aku tahu, apa yang kau lakukan di jalan seperti itu? Kau tau, Flo. Jarang sekali orang yang lewat di jalanan itu.”
“I’m lost… dan sekarang aku sama sekali tidak punya uang dan tempat tinggal. Ponselku pun dicopet. Parahnya, ini pertama kalinya aku ke Korea. Eotteokke? (aku harus bagaimana?)”
“Jinjja (benarkah)? Ini pertama kalinya kau ke Korea? Tapi nampaknya bahasa Korea mu bagus.”
“Keurom (tentu saja), aku memiliki paman yang tinggal di Korea. Dan dari kecil aku sudah belajar bahasa Korea. Oh ya, kau tahu alamat ini, Ajusshi?” aku mengeluarkan secarik kertas yang berisi alamat tempat tinggal paman di Korea.
Park Jun Ki melihat alamat itu kemudian bergumam, “Daerah ini agak jauh dari sini, di Busan.”
“Hmm…bisakah kau mengantarkanku kesana, Ajusshi? Aku tidak tahu harus kemana lagi. Satu-satunya tempat yang kutuju adalah tempat itu, rumah pamanku. Aku berjanji aku akan membalas kebaikanmu itu.”
“Arasseo. Aku akan mengantarkanmu kesana besok. Ini sudah larut. Kau bisa menginap di flatku malam ini. Kau hanya perlu melakukan satu hal untukku untuk membalasnya.”
“Apa?”
“Pura-pura menjadi pacarku jika besok pagi wanita gila itu datang mencariku. Dengan begitu, wanita itu tidak akan mengejarku lagi. Aku yakin sekali, besok pagi sebelum kau bangun, dia sudah berada di depan flatku. Bagaimana? Kau setuju?”
“Oke, aku setuju. Tapi, aku punya satu syarat lagi, Ajusshi. Kau harus tidur di tempat lain jika kau ingin aku menginap di flatmu. Kalau tidak, carikan aku tempat tinggal lain.”
“Kenapa? Kau takut aku berbuat sesuatu padamu? Hahaha…jangan takut gadis kecil. Kau masih terlalu kecil untukku.”
Mendengar itu, aku sedikit tersinggung. “Ajusshi, asal tahu saja. Umurku 22 tahun.”
“Jinjja?”tanya Park Jun Ki. Dia kelihatan terkejut. Oke, aku akan membuktikannya. Aku memperlihatkan passport dan kartu identitasku kepadanya.“Baiklah. Aku percaya. Aku setuju dengan syaratmu. Tapi aku juga punya syarat. Panggil aku Oppa (abang/kakak). Umurku baru 25 tahun.”
“Aku akan memanggilmu Oppa di hadapan orang lain, namun jika kita hanya berdua saja aku tetap akan memanggilmu Ajusshi. Setuju?”
Park Jun Ki terlihat berpikir. “Kau banyak sekali maunya. Oke, deal.”akhirnya dia memutuskan.
***
Akhirnya malam itu, aku menginap di flat Park Jun Ki, sedangkan dia menginap di flat temannya yang berada persis di depan flatnya. Shubuh-shubuh sekali aku terbangun. Udara di Seoul benar-benar dingin sekali. Aku harus membungkus diriku dengan kantung tidur agar tetap terasa hangat. Setelahnya, aku kembali tertidur.
Satu jam kemudian, bel berbunyi berkali-kali. Aku terkejut dan terbangun dari tidurku. Menyebalkan. Apakah Park Jun Ki tidak tahu kalau aku masih ingin meringkuk di bawah selimut?
“Hei, Park Jun Ki-sshi. Keluar. Ada yang perlu aku bicarakan denganmu.”teriak seorang wanita. Ternyata dugaanku salah. Itu bukan Park Jun Ki, tapi wanita yang bersama Park Jun Ki tadi malam. Benar-benar wanita itu, psikopat.
Aku membuka pintu dan mendapati wanita itu terkejut melihatku. “Annyeong, Ahjumma (Halo, Bibi).”aku memberi salam kepada wanita itu.
“Mwo??? Ahjumma?”teriak wanita itu. Dia nampak kesal sekali. “Dasar gadis centil. Apa yang kau lakukan di flat ini? Kau tidur disini? Dimana Park Jun Ki?”
Park Jun Ki keluar dari flat yang ada di depan flatnya. Wanita yang bernama Cha Seoung Bi itu semakin terkejut. “Ige mwo ya? (apa-apaan ini?). Kenapa gadis kecil itu tidur di flatmu, Jun Ki-ya?”
“Bukan urusanmu.”kata Park Jun Ki dingin.
“Oppa, bisa temani aku mencari sarapan”kataku kepada Park Jun Ki. Aku harus segera menghindar dari wanita psikopat ini. Dia bisa melakukan apa saja, termasuk menjambak rambutku.
Park Jun Ki yang masih setengah sadar berpikir sejenak, “Keurae (baiklah). Ayo.”
“Jun Ki-ya, kau mau kemana?”kata Cha Seoung Bi tiba-tiba sambil menarik lengan Park Jun Ki. Namun Park Jun Ki menepisnya kasar.
“Kau tidak dengar? Aku ingin menemani kekasihku sarapan di luar. Sebaiknya tinggalkan tempat ini.”teriak Park Jun Ki kasar.
Cha Seoung Bi terkejut dan mulai meneteskan air mata, “Jadi benar, semuanya sudah berakhir diantara kita?”
“Dengar, Seoung Bi-ya. Kita tidak pernah memulainya dan tidak ada juga yang perlu diakhiri. Aku hanya memintamu melupakanku. Kau sama sekali bukan tipeku. Carilah pria yang pantas untukmu. Aku yakin kau akan bahagia bersamanya. Carilah kehidupanmu sendiri. Jebal.”
Cha Seoung Bi berdiam diri sambil menundukkan kepalanya. Air mata mengalir deras di pipinya. Park Jun Ki kemudian menarikku dan beranjak meninggalkan Cha Seoung Bi sendirian. “Ayo, Flo. Kita pergi.”
“Ne (Iya), Oppa.”
***

0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda