Jumat, 19 Desember 2014

Annyeong Haseyo Seoul! (eps 1)

By Fakhriyah

Namaku Floweria Amanda, 22 tahun, pekerjaanku penulis freelance. It’s my story in Seoul. Waktu itu musim dingin. Aku memberanikan diri datang ke Seoul sendirian hanya untuk menyelesaikan proyek tulisanku. ‘Supaya tulisan lebih nyata, bukankah penulis perlu mengalami apa yang ditulisnya?’, itulah yang selalu menjadi prinsipku dalam menulis. Dan kali ini, aku ingin sekali menulis tentang negeri ginseng ini.
Tepat pukul 14.00, aku tiba di Bandara Incheon. Tapi sialnya, tasku dirampas oleh orang tidak dikenal sesaat setelah aku menyetop taksi di bandara. Petugas bandara yang berada disana berusaha mengejar orang itu. Namun, sayangnya seseorang membantu orang itu melarikan diri. Benar-benar sial. Dan yang paling sial adalah, semua tabunganku dan ponselku ada di tas itu. Di ranselku hanya ada dompet yang berisi uang 3,000 won. Bahkan uang sejumlah itu tidak cukup untuk membayar ongkos taksi. Oh, Tuhan…tolong aku.
***

Aku terpaksa berjalan kaki untuk mencari alamat pamanku yang tinggal di Seoul. Untung saja, alamat paman masih terselip rapi di dalam dompetku. Aku tidak bisa membayangkan kalau saja alamat itu pun hilang. Aku benar-benar hilang arah jika begitu.
Entah sudah berapa lama aku berjalan. Kakiku sudah sangat pegal dan perutku lapar. Namun, aku harus tetap menahan ini semua. Akhirnya, aku terus berjalan hingga memasuki kawasan yang begitu ramai, kawasan Myeongdong. Di sepanjang jalan di kawasan itu, terdapat banyak toko yang menjual produk-produk fashion lokal dan internasional, mulai dari baju, sepatu, tas, dan juga tentu saja kosmetik. Benar-benar surga belanja. Dan yang paling menyenangkan, tentu saja ada banyak jajanan jalanan yang membuat perutku semakin berkeriuk. Melihat itu semua, aku sangat tergelitik untuk memasuki salah satu toko itu dan menghabiskan waktu memilih-milih salah satu barang-barang itu. Setelahnya, aku berencana mencicipi jajanan jalanan di sepanjang jalanan itu untuk memuaskan rasa laparku. Tokkebi hotdog itu nampaknya lezat sekali. But, shit…uangku tidak akan cukup untuk membeli itu semua.
Malam telah tiba. Aku melanjutkan perjalanan untuk mencari alamat paman. Sesekali aku bertanya kepada masyarakat setempat tentang alamat rumah paman. Namun, tidak ada yang mengetahui dimana tepatnya alamat rumah itu. Nampaknya ada yang aneh. Hei, sepertinya aku sudah berjalan terlalu jauh. Entah di daerah mana aku sekarang. Aku membuka peta dan tidak menemukan nama jalan yang kulewati saat ini. Aku mulai khawatir. Bagaimana jika aku tersesat dan tidak bisa pulang. Tuhan, tolong aku. Kirimkan orang yang bisa membantuku. Berkali-kali aku berusaha menenangkan perasaanku. I’ll be okay… yes, I will.
***


0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda