Minggu, 21 Desember 2014

Pangeran Tikus dan Cinderella Sendal Jepit (eps 1)

Hari minggu yang cerah, langit biru terlihat sangat indah dengan goresan awan putih yang melintang, serta matahari yang bersinar tidak terlalu terik. Semua penghuni rumah terlihat masih mendengkur di tempat tidur. Mereka hanya terbangun saat adzan shubuh, kemudian sholat dan jatuh tertidur lagi.
Anis, cewek dengan kulit hitam manis, cewek satu-satunya yang ada dalam keluarga Hartanto. Anak sulung dari tiga bersaudara itu kini kuliah jurusan desain grafis semester tiga. Shubuh-shubuh sekali, Anis terbangun untuk sholat shubuh. Dia melangkahkan kaki ke kamar mandi untuk berwudhu, kemudian sholat shubuh. Masih dengan wajah yang basah karena air wudhu, Anis melaksanakan sholat shubuh. Setelah itu, dia tertidur pulas di atas sajadahnya tanpa melepaskan mukena yang digunakannya.
Alarm ponselnya berbunyi setengah jam kemudian. Pukul enam tepat. Dengan bermalas-malasan Anis mematikan alarm itu dan kembali mendengkur di atas sajadahnya. Namun, sepuluh menit kemudian alarm ponselnya pun berbunyi lagi.
“Berisik banget sih. Perasaan tadi alarmnya udah gue matikan deh”gumamnya. Ternyata tadi dia tidak menekan tombol mati di alarm ponselnya, tapi menekan tombol tunda. Sehingga sepuluh menit kemudian alarm itu akan berbunyi lagi. Anis bangun dan memperbaiki sajadah serta mukenanya. Lalu berbaring di tempat tidurnya lagi. “Hari minggu gini, jadi males ngapa-ngapain. Huh.”
Terdengar suara ketukan pintu dari luar kamarnya. Suara adiknya yang paling bungsu, Rio.
“Kak Anis….bangun….udah pagi….”teriak Rio.
“Hmm…bentar lagi.”kata Anis dari dalam kamar.
“Haduh, kak. Udah pagi nih. Jogging yuk kak.”
“Ajak Miko aja. Kakak masih ngantuk.”
“Kak Miko udah pergi dari tadi sama temen-temennya kak.”
“Ya udah, jogging sendiri aja sana.”kata Anis masih dengan bermalas-malasan.
“Kakak nggak asik.”teriak Rio sambil berlari meninggalkan kamar Anis.
Setengah jam kemudian, Anis baru bangkit dari tempat tidurnya, memperbaiki selimut dan kasurnya, kemudian mencuci mukanya. Dia masih belum berniat untuk mandi pagi, apalagi hari itu hari libur.
“Nis, tolong ibu…”teriak ibunya dari dapur. Anis bergegas ke dapur.
“Iya Bu. Ada apa?”
“Ada tikus got yang masuk ke dapur tadi.”kata ibunya.
Anis memang paling jijik dengan tikus got. Tikus yang berwarna cokelat dan ukurannya agak besar. Ihh…menjijikkan. Apalagi sejak kecil dia suka membaca buku petualangan Goosebumps yang menceritakan tentang cerita misteri yang harus dipecahkan sendiri  oleh pembaca. Terkadang, dalam memecahkan masalah itu Anis harus bertemu dengan sosok tikus yang sangat besar dan menakutkan, dan tentu saja Anis harus bersembunyi dari tikus itu. Dalam imajinasinya, tikus itu berwarna cokelat dan kotor dan sangat besar, dengan ekor panjang yang menjuntai, dengan dua gigi runcing yang tampak menonjol, serta mata hitam yang menakutkan, yang siap menyergap Anis. Untung saja itu hanya dalam imajinasi Anis saat dia berusaha memecahkan misteri Goosebumps.
“Nis, cepet…tikusnya lari ke halaman. Jangan biarkan tikus itu masuk kembali ke dalam rumah.”kata-kata ibunya membuyarkan lamunan Anis.
“Iya Bu.”kata Anis sambil berlari keluar rumah. Saat Anis akan mengenakan sendal kesayangannya, sebelah sendalnya hilang. Dia mencari-carinya di dekat keran air di halaman rumah, kemudian mencarinya di tempat sepatu, tapi tidak juga menemukannya.
“Bu, ibu liat sendal jepit Anis nggak?”
“Di rak sepatu nggak ada?”
“Nggak ada, Bu.”
Gimana nih, sendal kesayangan gue ilang… huaaahhh…..
***
“Vir, sendal kesayangan gue ilang nih. Cuma sebelah, sebelahnya lagi masih ada.”kata Anis kepada Vira di tengah-tengah jam istirahat. Vira adalah teman sekampus Anis yang juga sahabatnya.
“Udah loe cari?”ujar Vira.
“Udah, tapi nggak ketemu. Tapi gue heran, kenapa yang ilang cuma sebelah. Kalau dipake sama orang kan harusnya ilang dua-duanya.”
“Emangnya loe udah nanya seisi rumah? Siapa tahu mereka ada yang tahu.”
“Udah, si Miko sama Rio udah gue interogasi. Tapi mereka nggak ada yang ngaku. Gue sih cuma curiga sama dua cecunguk itu. Loe tau kan mereka jahil bin rese…”
“Hahaha…adek loe tuh Nis. Nggak boleh kayak gitu atuh.”
“Trus gimana lagi dong Vir. Gue yakin salah satu diantara mereka yang ngerjain gue. Awas aja kalo mereka ketahuan sama gue, gue libas dah kayak kecoak. Nggak ada ampun.”
“Wuidiiih…sampe segitunya. Sama adek ndiri juga.”
“Abisnya itu kan sendal kesayangan gue, Vir. Kaki gue tuh udah nyaman banget pake tuh sendal. Kalau beli yang baru sih, takutnya gue nggak nyaman pakenya, lecet lah ntar kaki gue. Susah nyari sendal yang pas sama gue.”
“Di ikhlasin aja, Nis. Sendal udah bulukan kayak begitu juga.”
“Enak aja. Loe tau kan ukuran kaki gue segede gajah gini. Susah nyari yang pas.”
“Jangan-jangan sendal jepit loe ketinggalan.”kata Vira kemudian.
“Ketinggalan dimana?”
“Hmm…di istana Pangeran kaliii….hahaha”ledek Vira.
“Wah…loe ada-ada aja, Vir. Bukannya loe bantuin mikirin cara nemuin tuh sendal keramat malah ngeledek.”kata Anis manyun.
“Iya, iya…gue bantuin. Tapi gue penasaran, kayaknya emang bener sendal jepit kesayangan loe tertinggal di istana pangeran. Haha…”
“Viraaaaaa…..”kata Anis sambil menjitak kepala Vira.
***

By Fakhriyah

0 Komentar:

Posting Komentar

Berlangganan Posting Komentar [Atom]

<< Beranda