Amnesia
Gadis
berambut cepak itu bernama Kiara. Perawakannya sedang, berwajah elips dan
wajahnya terkesan kekanak-kanakan. Seperti biasa, Kiara selalu menunggu bis
yang akan mengantarkannya ke tempat kuliahnya. Sambil mendengarkan musik
melalui hadphone berwarna putih dengan motif abstrak, gadis itu membaca novel
science fiction yang berjudul Area X.
Halte
tidak begitu ramai pagi itu. Masih pukul tujuh kurang sepuluh menit. Kiara
terlihat masih asyik menekuri novelnya ketika seorang pemuda Chinese duduk di sampingnya. Kiara sama
sekali tidak mengalihkan pandangannya dari novel yang dia baca.
“Suara
hentakan kaki mengagetkanku. Aku tak bisa berlari kemana-mana. Aku harus
bersembunyi, tapi dimana?”tiba-tiba saja sebuah suara cukup keras terdengar
disampingnya, dan suara itu ikut membaca barisan kata yang baru saja dibaca
oleh Kiara. Spontan Kiara agak terperanjat. Walaupun Kiara memakai hadphone, tapi suara itu tetap bisa
didengarnya. Dia kembali menekuri bacaannya sambil menutup sedikit novelnya dan
membenamkan wajahnya.
“Ehm...”pemuda
disamping Kiara berdehem. Namun, Kiara tetap tidak menoleh. Dan tidak disangka,
pemuda itu melepaskan hadphone yang
digunakan oleh Kiara. Gadis itu terlihat sangat terkejut.
“Loe
ngapain sih?” kata gadis itu dengan wajah merah padam. Dia paling tidak suka
diganggu saat sedang menekuri hobbi membacanya itu.
“Serius
banget.”kata pemuda itu sambil tersenyum. Kiara melihat ke arah pemuda itu
sekilas, pemuda Chinese dengan wajah
oriental dan kulit putih, mata sipit dan pandangannya tajam, mirip dengan mata
elang.
“Denger
ya, ini bukan urusan loe.”kata Kiara kemudian. Nada suaranya semakin meninggi.
“Ups...manis,
tapi galak. Hmmm....sangat berbahaya.”kata pemuda itu sambil tertawa. Kiara
kembali memasang headphone nya. Dia
menambah volume music playernya dan
kembali membaca novelnya.
Benar-benar
sial. Bisnya lama banget sih, gumamnya dalam hati.
“Kiara
Anindita, gadis jutek, cerdas dan juga manis. Loe tetep nggak berubah ya.”gumam
pemuda itu. Walaupun, suara music player
nya sudah full, akan tetapi mendengar seseorang menyebut namanya, Kiara sontak
kaget. Spontan dia langsung mematikan music
player nya.
“Apa?”tanyanya
pada pemuda Chinese itu.
“Nggak.
Nggak ada apa-apa.”kata pemuda itu kemudian. Sikap pemuda itu membuat Kiara
semakin penasaran. Dia yakin, tadi pemuda itu menyebut-nyebut namanya.
“Sepertinya
tadi loe ngomong sesuatu deh.”selidik Kiara. “Loe tau nama gue? Tadi loe
nyebut-nyebut nama gue kan?”tanyanya to
the point. Kiara adalah gadis yang tidak suka basa-basi.
“Kege-eran
banget.”jawab pemuda itu sambil tertawa. Sikap pemuda itu semakin membuat Kiara
penasaran.
“Eh,
walaupun gue nggak denger jelas, tapi tadi kayaknya loe nyebut-nyebut nama gue.
Gak mungkin gue salah. Apa kita pernah ketemu?”
“Hmm...kayaknya
loe udah mulai tertarik nih sama gue. Ya kan Miss Jutek?”
“Tunggu...Miss
Jutek? Gue bukan...Hei, siapa bilang gue tertarik sama loe? Tadi gue cuma
denger loe nyebut nama gue, makanya gue penasaran, apakah kita pernah ketemu.
Gue sama sekali nggak tertarik sama....”
“Bisnya
dateng. Kalo loe nggak mau telat, mending loe langsung tancap aja.”potong pemuda
itu sambil naik ke bis yang baru saja tiba di halte itu. Kiara lupa apa yang
akan diucapkannya pada pemuda itu. Dia melihat jam tangannya sekilas dan langsung
naik ke bis itu.
Semua
penumpang yang jumlahnya sekitar delapan orang termasuk Kiara dan pemuda itu
berdesakan di dalam bis. Bis kota itu sudah penuh dengan penumpang, sehingga sebagian
penumpang harus berdiri, termasuk Kiara dan pemuda itu. Seorang wanita paruh
baya juga ikut berdiri bersama mereka karena tidak mendapat tempat duduk, namun
anak SMP yang duduk di samping wanita itu mempersilakan wanita paruh baya itu
duduk di tempatnya. Wanita paruh baya itu pun mengucapkan terima kasih kepada
anak SMP itu. Kiara tersenyum sekilas melihat pemandangan yang hampir setiap
hari dilihatnya di bis kota itu. Sementara itu, pemuda Chinese itu terus saja memperhatikannya. Namun, Kiara tidak sadar
kalau pemuda itu sedari tadi memperhatikannya.
Loe bener-bener nggak
berubah Ra. Tetap manis dengan senyuman tulus itu. Walaupun jutek, tapi
senyummu bener-bener tulus, batin pemuda Chinese itu.
***
Dua
tahun sebelumnya.
“Eh,
Ra, loe diterima di jurusan Hubungan Internasional. Tadi gue udah ngeliat
pengumumannya di internet. Selamat yah...”kata David, teman sekelas Kiara waktu
SMA.
“Oh,
iya. Thanks.”jawab Kiara dengan cuek, terkesan jutek sih, bahkan terkesan tanpa
ekspresi. Normalnya, seseorang yang berhasil memasuki jurusan yang diinginkan
akan berteriak histeris ketika namanya terdaftar sebagai salah satu calon
mahasiswa. Namun, berbeda dengan Kiara, gadis itu sama sekali tidak
berekspresi. David yang sudah tau karakter Kiara hanya tersenyum. “Yoi...”
Tahun
pertama bagi seorang mahasiswa baru memang terkesan berat untuk dijalani,
begitu pula yang dirasakan oleh Kiara. Seabrek aktivitas kampus harus diikuti,
seperti ospek dan outbond. Ditambah
lagi, proses peralihan dari siswa menjadi mahasiswa juga harus dilalui, perlu
adaptasi.
Bulan
pertama menjadi mahasiswa, semua mahasiswa baru perlu mengikuti kegiatan yang
paling dibenci oleh sebagian maba, ospek. Kesannya, ospek adalah ajang balas
dendam yang dilakukan oleh para senior. Ospek identik dengan plonco-ploncoan
dan siksaan fisik, walaupun ada juga universitas yang tidak memberlakukan
sistem ospek yang seperti itu.
Ospek
hari pertama pun dimulai. Dengan menggunakan pakaian yang diinstruksikan
senior, Kiara berangkat ke kampus dengan diantar oleh kakak laki-lakinya, Kian
Ardhani. Kebetulan, Kian juga kuliah di universitas yang sama dengan Kiara,
hanya saja Kian mengambil jurusan teknik mesin.
Waktu
sudah menunjukkan pukul enam kurang lima menit, sedangkan pada hari pertama
ospek semua maba harus tepat waktu. Kiara belum juga sampai di kampus. Dia
sudah berpikir bahwa dia akan terlambat. Sialnya, sedari tadi mereka selalu
mendapat lampu merah di jalan.
“Kak,
masih jauh kagak?”tanya Kiara.
“Bentar
lagi. Loe tenang aja...”jawab Kian santai. Namun, yang benar saja, Kiara
benar-benar terlambat. Dia baru tiba di kampus pukul enam lewat sepuluh menit.
Terlihat banyak maba yang dihukum karena terlambat. Kiara bergegas ke tempat
para maba berkumpul. Namun, sayangnya Kiara tak lepas dari penglihatan seorang
anggota panitia ospek yang Kiara tau adalah salah satu anggota sesi
kedisiplinan.
Mampus dah gue,
batinnya. Dan yang benar saja, orang itu mendekati Kiara. “Eh,
loe...ke-ce-bong.”kata orang itu sambil membaca nametag yang Kiara kenakan. Setiap maba memang disuruh untuk
menggunakan nama pada nametag yang
aneh-aneh. Kebetulan Kiara mendapatkan kata ‘kecebong’ sebagai julukannya.
“Iya
kak.”jawab Kiara tegas. Tanpa rasa takut.
“Berani
juga kecebong satu nih.”orang itu tersenyum sinis. “Loe tau kan kalo loe
terlambat. Kenapa tadi gue liat loe nyelonong aja masuk ke barisan temen-temen
loe yang nggak terlambat?”
“Maaf,
kak. Gue nggak tau.”jawab Kiara lagi.
“Halaaah...pura-pura
loe. Jangan mentang-mentang loe cewek, gue nggak bisa kasar ya sama loe.
Nantang loe?”
“Nggak
kak. Gue bener-bener nggak tau.”
“Loe
udah salah, tapi tetep berani ya. Gue kasih hukuman yang paling berat baru tau
rasa loe.”
Orang
itu semakin kesal melihat tingkah Kiara yang sama sekali tidak takut. Bahkan
mungkin saja orang itu lupa kalau yang dihadapinya adalah seorang gadis, hingga
orang itu hampir melayangkan tangannya ke wajah Kiara. Untung saja seorang
anggota panitia yang lain mencegah orang itu memukul Kiara.
“Vin,
sadar. Dia ini cewek. Loe nggak boleh maen kasar. Walaupun kita diberi wewenang
untuk melatih mental mereka, tetep aja kita nggak boleh maen fisik, apalagi
sama cewek.”
“Sorry,
Li. Gue lepas kontrol. Gue bener-bener kesel sama tuh cewek. Udah salah, tetep
aja membantah.”
Dari
kejauhan, Kiara hanya tersenyum sekilas melihat orang yang memarahinya itu. Dia
sama sekali tidak peduli apa hukuman yang akan dia dapatkan. Dia sudah kebal
dengan hukuman apapun. Sejak kecil, Kiara terbiasa menerima hukuman fisik dari
sang ayah yang merupakan pelatih karate sekaligus seorang pengusaha. Ketika
Kiara melakukan kesalahan, sang ayah langsung memberinya hukuman fisik. Mungkin
itu juga yang membuat Kiara menjadi jutek dan tidak memiliki perasaan yang
sensitif.
“Ya
udah Vin. Biar gue yang ngurus tuh maba.”kata orang yang bernama Li itu.
“Sip,
thanks ya.”
“Oke.”kata
Li sembari berjalan menuju ke arah Kiara. “Sorry...gue minta maaf atas nama
temen gue.”kata Li kemudian.
“Yeah,
oke.”jawab Kiara singkat.
Bener kata
Malvin, nih cewek kayaknya ngeselin, batin Li.
“Nama
gue Li An. Salah satu anggota panitia ospek. Gue yang akan ngurus loe karena
kesalahan loe yaitu telat.”kata Li kemudian.
Kiara
menatap Li sekilas. Chinese,
batinnya.
“Oke,
terserah loe aja. Gue ngikut.”kata Kiara akhirnya.
Nih cewek nggak
manggil gue ‘kak’, padahal gue udah memperkenalkan diri gue sebagai panitia.
Aseeem...,batin Li.
“Sorry?
Loe nggak manggil gue ‘kak’?”kata Li kemudian.
“Hmm...gue
ngikut loe aja, Kak.”Kiara mengulang kembali perkataannya, dengan menekankan
kata ‘kak’ di akhir kalimat yang dia ucapkan.
“Oke,
kalau begitu loe ikut gue. Gue akan ngasih loe hukuman. Eh, asal loe tau aja,
gue lebih tua tiga tahun dari loe. Jadi loe harus sopan.”kata Li.
“Penting
nggak sih gue tau”, gumam Kiara. Walaupun demikian Li tetap mendengarnya, namun
dia mengabaikan saja. Akan tetapi, Li merasa semakin tertarik dengan sosok
Kiara yang jutek dan tidak pernah merasa takut.
***
Itulah
pertemuan pertama antara Kiara dan Li An, seorang pemuda Chinese yang mengambil jurusan yang sama dengan Kiara, hubungan
internasional. Nampaknya pemuda Chinese
itu sudah lama tinggal di Indonesia, atau bahkan dia terlahir di Indonesia.
Bahasa Indonesia yang dia gunakan sangat lancar.
Setelah
masa-masa ospek berlalu, Kiara kembali melakukan segala aktivitasnya, menjadi
seorang mahasiswa. Pagi kuliah, sorenya dia latihan karate dan setiap hari
sabtu dan minggu kerja part-time di
sebuah kafé yang tidak jauh dari kampusnya. Tak ada yang berubah, masih dengan
rutinitas yang biasanya dilakukan sebagian orang.
Kiara
sama sekali tidak menyadari bahwa seniornya yang berdarah Chinese itu ternyata selalu mengamatinya. Li An merasa tertarik
pada kepribadian Kiara yang jutek, tidak pernah merasa takut, dan pastinya
bukan tipe cewek manja. Pemuda itu merasa ada sesuatu yang berbeda dalam diri
gadis itu. Li sangat tertarik dengan gadis itu. Dan tanpa disadari Kiara juga,
diam-diam Li mencari segala informasi tentang kehidupan Kiara, mulai dari
keluarganya, sampai pekerjaannya.
“Neng
Kiara itu cuma hidup bertiga sama ayah dan kakak laki-lakinya, bang. Sejak kecil,
mereka ditinggal ibunya karena awalnya mereka orang yang tidak mampu secara
materi. Ibunya memilih untuk menikah lagi dengan pria yang lebih kaya,
bang.”kata seorang tetangga Kiara. “Dengan keadaan seperti itu, mereka berusaha
untuk bertahan hingga bisnis yang dijalankan oleh Pak Dito –nama ayah Kiara-
menjadi sukses seperti sekarang ini. Meskipun demikian, anak-anak Pak Dito
nggak ada yang manja, termasuk Neng Kiara. Mereka selalu diajarkan untuk hidup
mandiri. Ditambah lagi, Pak Dito adalah salah satu pelatih karate yang sudah
mendapatkan sabuk hitam. Sejak kecil, anak-anaknya dilatih karate dan jika
mereka melakukan kesalahan, maka hukuman yang mereka peroleh adalah hukuman
fisik.”
“Oh,
gitu ya mang. Makasih banyak ya infonya.”kata Li kepada pemuda yang ada di
depannya.
“Iye
bang, sama-sama.”
Pantesan aja tuh
cewek sikapnya kayak gitu, tapi gue nggak bakalan berhenti sebelum gue dapetin
dia, batin Li.
***
“Ra,
loe dicariin tuh.”kata Gina, temen sekelas Kiara.
“Siapa?”tanya
Kiara.
“Kak
Li An.”
“Hmm...yang
mana ya?”
“Itu
loh, senior kita. Ampun dah, Ra. Sikap pelupa loe agak parah. Jangan sampe deh
loe amnesia. Bisa-bisa nama loe pun, loe lupain lagi. Amit-amit....Eh, dia kan
yang dulu ngasih loe hukuman pas waktu kita ospek.”
“Oh,
oke. Thanks.”
“Sip,
sama-sama. Dia nunggu loe di kantin.”kata Gina kemudian.
Kiara
memang agak pelupa. Apalagi semenjak ibunya meninggalkan kehidupan keluarganya
demi pria lain, Kiara semakin tertekan. Semua masalah dipendamnya sendirian.
Dia tidak ingin membuat ayahnya dan kakaknya semakin sedih setelah ditinggal
ibunya. Dia tidak ingin menambah beban mereka dengan keluhan-keluhannya. Karena
itu, Kiara memilih memendam semua masalah yang dihadapinya sendirian. Dia ingin
melupakan masa lalu dan kenangan pahit yang ada dalam hidupnya. Jiwanya mulai
rapuh. Depresi melandanya. Dia ingin melupakan semua kesengsaraan yang
dialaminya. Perlahan dia belajar untuk melupakan. Namun, karena rasa sakit yang
dia rasakan seorang diri dan terlalu memaksakan diri untuk melupakan sesuatu, kepalanya
menjadi tidak beres. Otaknya tak mampu mencerna perintah yang diinstruksikan
tubuhnya. Kiara mulai menjadi pelupa.
Kiara
bergegas menuju kantin untuk menemui Li. Kiara penasaran ada hal apa yang akan
disampaikan Li kepadanya. Apakah itu ada hubungannya dengan ospek. Seingat
Kiara, Li hanya pernah bertemu dengannya saat ospek.
“Hai..”sapa
Li agak canggung saat Kiara mendekat ke arahnya.
“Ada
apa Kak?”tanpa basa-basi Kiara bertanya kepada Li.
“Gue
boleh nggak sekali-kali maen ke rumah loe, Ra?”tanya Li kemudian.
Kiara
terkejut. Dia sudah mengira bahwa apa yang akan disampaikan Li kepadanya
berkaitan dengan kegiatan ospek atau kegiatan kuliah, ternyata dia salah. Kiara
terdiam sejenak.
“Yah
silakan aja. Nggak ada yang ngelarang kok. Tapi gue jarang di rumah.”
“Gue
tau, loe kerja kan?”
“Darimana
loe tau?”
“Ada
deh.”Li tersenyum jahil ke arah Kiara.
***
Hampir
setiap hari, Li An ke rumah Kiara. Pemuda itu tak hanya bertemu dengan Kiara,
tetapi juga bertemu ayah dan kakaknya. Pak Dito sangat senang dengan Li karena
pemuda itu sering sekali mengajak Pak Dito bermain catur. Bagi Pak Dito, sangat
sulit menemukan pemuda yang suka bermain catur pada zaman sekarang ini. Li
tidak segan-segan menghabiskan lima jam hanya untuk bermain catur dengan Pak
Dito pada hari libur. Selain Pak Dito, kakak kandung Kiara, Kian juga senang
sekali dengan kehadiran Li. Alasannya hanya satu, Li selalu mengajak Kian untuk
menonton lomba balap moto GP secara langsung. Li An adalah salah satu pembalap
moto GP junior yang baru akan direkomendasikan mengikuti pertandingan
pertamanya di kancah internasional, yaitu di sirkuit Jepang.
“Itung-itung
bisa nonton moto GP gratis, gue ngijinin loe deket sama adek gue.”kata Kian pada
Li saat mereka akan berangkat ke sirkuit moto GP suatu hari.
“Dasar.
Loe cuma mikirin segala hal yang gratisan aja.”
“Nggak
pa pa donk, gue manfaatin adek gue. Haha...”
“Sadis
loe.”
“Tapi
loe beneran suka kan sama adek gue?”
“Iyaaaa....”
“Syaratnya,
loe nggak boleh nyentuh plus nyakitin dia. Deal?”
“Deal.”
Begitulah
cara Li mendekati anggota keluarga Kiara. Li memperlakukan keluarga Kiara
dengan sangat baik. Terkadang Kiara memperhatikan ayahnya kembali tertawa lepas
saat Li sedang berada di rumahnya. Sepertinya kesedihan sang ayah lenyap begitu
saja ketika Li berada di antara mereka. Dan sejak saat itu pula, ayahnya
berhenti menjadi seorang workaholic, dan
lebih memilih bermain catur di rumah bersama Li.
Kiara
merasa Li telah mengembalikan kebahagiaan keluarganya seperti dulu, sebelum
ibunya meninggalkan mereka. Kiara merasa sangat bahagia. Kiara tersenyum dari
kejauhan melihat pemandangan yang sudah beberapa tahun tidak dilihatnya itu. Li
mengamati Kiara yang sedang tersenyum untuk pertama kalinya, senyum yang
benar-benar tulus. Hati pemuda itu berdesir, kebahagiaan terpancar dari
wajahnya. Gue pasti akan mendapatkan
hatimu, Miss Jutek, batin pemuda itu.
Walaupun
jarang ketemu di rumah, Li selalu nyamperin Kiara di tempat latihan karate dan
di tempat kerjanya. Pada awalnya Kiara merasa sangat terganggu dengan kehadiran
Li. Tetapi, pada akhirnya Kiara merasa ada yang hilang jika Li tidak ada di
dekatnya. Dan pada saat itulah Kiara sadar bahwa dia menyukai pemuda Chinese itu. Dia sama sekali tidak tahu
alasan kenapa dia menyukainya, apakah karena kedekatannya dengan keluarganya
ataukah karena hal lain, yang pastinya dia mulai menyukai pemuda itu.
***
Banyak
cara yang ditempuh oleh Li untuk mendekati Kiara termasuk berbaur dengan
keluarganya, dan seperti yang Li harapkan, dia berhasil mendapatkan hati gadis
itu. Dia berhasil mendapatkan Kiara. Dan dia memutuskan untuk memperkenalkan
Kiara kepada keluarga besarnya, dan sangat berharap keluarganya akan menyetujui
hubungan mereka.
“Ma,
Pa, Li mau ngenalin seseorang kepada Mama dan Papa.”kata Li kepada kedua orang
tuanya saat Li mengajak Kiara bertemu dengan mereka. Kiara sedang duduk di
teras depan rumah Li saat itu.
“Siapa?”tanya
mamanya kemudian saat melihat Kiara dari dalam rumah.
“Namanya
Kiara Anindhita, Ma.”
“Asal
usul gadis itu?”tanya papanya tajam.
“Dia
bukan orang Chinese asli, Pa. Tapi
orang Indonesia.”
“Asli
Indonesia?”tanya papanya sekali lagi. Masih dengan nada tajam.
“Ngg...Li
kurang tau Pa. Wajahnya agak oriental, dan kulitnya juga kuning langsat. Tapi
dia bilang dia tidak memiliki darah keturunan Cina. Jadi Li berpendapat kalau
dia orang asli Indonesia.”jawab Li ragu-ragu.
“Kamu
tau kan Li, kebudayaan Tionghoa, kebudayaan leluhur kita. Kalau kamu berani
menikah dengan orang bukan Cina asli, maka kamu akan dianggap orang buangan.
Kamu akan merusak marga dan keturunan nantinya. Kamu paham kan maksud Papa.”
“Tapi
Pa. Itu kan paham lama. Di zaman seperti ini seharusnya paham seperti itu tidak
diterapkan lagi. Pikiran kuno, Pa. Lagian Kiara orangnya baik dan gadis yang
mandiri. Li sama sekali nggak peduli dengan latar belakangnya, Pa.”
“Sampai
kapan pun Papa tidak akan setuju dengan gadis itu.”kata papanya sambil menutup
pintu ruang kerjanya dengan sangat keras. Bunyi debuman pintu itu pun
mengagetkan Kiara.
“Maafkan
Papa ya Li. Papa hanya ingin yang terbaik buatmu, apalagi ini menyangkut masa
depanmu.”kata mamanya sembari mengusap wajah Li yang sudah mulai memerah. Li
hanya terdiam, tanpa mengatakan apa-apa.
Dari
luar, samar-samar Kiara mendengar pertengkaran Li dan orang tuanya. Walaupun
tidak ingin menguping pembicaraan mereka, tapi suara mereka cukup keras. Gadis itu
mengintip sekilas dan merasakan suasana tegang di ruangan itu belum juga reda.
Kiara merasa sangat bersalah dengan apa yang sedang terjadi pada Li. Dia merasa
gara-gara dirinya, Li bertengkar dengan kedua orang tuanya. Dia merasa, dia
akan menjadi penyebab retaknya hubungan Li dengan orang tuanya. Sedangkan apa
yang telah dilakukan Li untuknya dan untuk keluarganya, Li berusaha
mengembalikan kebahagiaan keluarganya. Semua perasaan dan pikiran itu
berkecamuk dalam dirinya. Dia tidak ingin pemuda yang disayanginya itu
merasakan apa yang pernah dia rasakan, kehilangan kasih sayang dan kehangatan
keluarga. Dia tidak ingin menjadi egois, hanya karena Li adalah orang yang
berharga dalam hidupnya, dia harus selalu berada di sampingnya. Sementara Li
harus kehilangan keluarga yang dari dulu bersamanya. Kiara memutuskan untuk
meninggalkan rumah itu tanpa sepengetahuan Li.
Air
mata mengalir di pipi gadis itu. Dia sudah memutuskan untuk meninggalkan Li.
Gadis itu berlari sekencang-kencangnya sebelum Li menyadari ketidakberadaannya.
Tuhan, kenapa setiap orang yang gue
sayangi harus berada jauh dari gue? Ini tidak adil, Tuhan. Baru saja gue
ngerasain kebahagiaan setelah bertahun-tahun, tapi dalam sekejap gue harus
berpisah dari sumber kebahagiaan itu. Apa yang harus gue lakukan sekarang?,
rintihnya dalam hati. Dia ingin melupakan segala hal yang telah terjadi. Dia
ingin melupakan semuanya, tapi bagaimana bisa dia melupakan pemuda itu.
Kiara
berlari semakin kencang, tanpa arah dan tujuan. Dan tanpa menoleh ke kiri dan
ke kanan, gadis itu menyeberangi jalan setapak yang agak sepi. Namun, karena
jalanan itu agak sepi, biasanya pengendara motor atau mobil yang melewati jalan
itu mengendarai kendaran mereka dengan ngebut. Saat Kiara melintas, sebuah
mobil Grand Livina melintas secepat
kilat, dan menabrak Kiara yang sedang menyeberang. Tubuh Kiara ambruk,
penglihatannya hitam dan akhirnya tidak sadarkan diri. Darah mulai bercucuran
di kepala dan kakinya. Pengendara tak bertanggungjawab itu melarikan diri dan
meninggalkan Kiara yang sedang terkapar.
Deg,
deg...perasaan Li tidak enak. Pemuda itu menyingkirkan tangan mamanya dari
wajahnya. “Maafkan Li, Ma.”katanya kemudian. Li keluar dari dalam rumah dan
tidak mendapati Kiara. Perasaan pemuda itu semakin tak karuan. Dia merasa
sesuatu yang buruk telah terjadi. Tuhan,
lindungi dia, gue mohon, batinnya. Li An berlari sekencang-kencangnya untuk
mengejar gadis itu. Dia berusaha menghubungi ponsel Kiara, tapi tak ada
jawaban. Sms pun berkali-kali dikirim, namun tetap tidak ada balasan. Hatinya
semakin resah.
“Ra....loe
dimana?”teriaknya. Namun, tak ada jawaban. Dia mulai putus asa. Dia kehilangan
jejak.
Dia
berlari melewati jalan besar dan jalan setapak yang tadi dilewati Kiara. Pemuda
itu tetap berteriak memanggil nama Kiara, tapi tetap saja tidak ada jawaban.
Tiba-tiba, dari kejauhan terlihat sosok manusia sedang tergeletak tak berdaya
menarik perhatiannya. Li mendekat dan
menemukan Kiara sudah tak sadarkan diri. Peluh mulai membasahi tubuh Li melihat
Kiara dalam keadaan seperti itu.
“Ra,
bangun... Ra...tolong, bangunlah....”teriaknya. Dia memeriksa denyut nadi Kiara
dengan tangan kanannya yang gemetar. Denyut nadinya lemah. Hatinya berdebar
kencang.
“Siapa
pun...tolong.... toloooooonggg....”teriaknya sambil memeluk Kiara. Tapi, tak
ada orang yang lewat di jalan itu. Senja mulai menyapa. Langit yang terlihat
biru mulai nampak gelap. Li memutuskan untuk menelepon ambulans. Beberapa saat
kemudian ambulans datang dan membawa Kiara dan Li An ke rumah sakit.
***
Kiara
terbaring lemah di ruangan serba putih itu. Sebuah selang infus menempel
ditangan kirinya. Dia pun harus menggunakan oksigen dan selang pernapasan. Kepalanya
terbalut dengan kain putih. Sudah tiga hari berlalu sejak kejadian itu, tapi
gadis itu belum juga tersadar. Li An menatap gadis itu dengan tatapan sedih.
Gadis yang begitu disayanginya kini berada diambang pintu antara hidup dan
mati.
Tuhan,
selamatkan dia. Gue mohon. Walaupun gue harus pergi dari hidupnya, gue rela.
Yang terpenting, dia bisa selamat, batin Li. Dan
hari itulah hari terakhir Li melihat Kiara. Pemuda itu memutuskan untuk
meninggalkan Indonesia dan kembali ke negara leluhurnya.
“Maafin
gue, Ra. Gue tau loe akan bangun dan kembali sehat lagi. Maafin gue juga Ra.
Gue harus ninggalin loe. Ini demi kebaikan kita. Kalo loe tetep deket sama gue,
loe bakalan ngerasa sakit. Begitu juga dengan gue. Tapi gue janji, gue bakalan
balik sama loe. Loe nggak boleh kemana-kemana. Dan loe harus sembuh. Oke...”kata
pemuda itu sebelum meninggalkan ruangan Kiara. “Dan satu lagi Ra, gue bakalan
membuat orang tua gue setuju. Loe tunggu aja. Gue janji.” Setelah itu, Li An
meninggalkan ruangan itu. Kiara masih belum sadar, tapi air mata mengalir di
pipinya.
***
“Amnesia,
pak.”kata dokter yang menangani Kiara. “Dia mengalami amnesia sebagian. Dia
lupa dengan hal-hal dua tahun sebelumnya. Jika sekarang umurnya baru sembilan
belas tahun, maka dia hanya akan mengingat kalau dia masih berumur tujuh belas
tahun.”
“A...apa
dok?”
“Tapi
masih ada harapan untuk mengembalikannya seperti semula, Pak. Biarkan dia
bertemu dengan orang-orang yang dia temui selama dua tahun itu, termasuk jika
dia memiliki orang yang dia sayangi selain keluarganya. Itu bisa saja
mengembalikan semua ingatannya. Dan satu lagi, Pak. Otak Kiara agak bermasalah.
Itu disebabkan karena dia berusaha keras untuk melupakan sesuatu, sesuatu yang
sangat berharga dalam hidupnya, yang tak akan bisa dilupakannya. Akibatnya,
otaknya tidak kuat.”begitulah penjelasan dokrter yang menangani Kiara.
***
“Bang,
kiri bang.” Teriak Kiara kepada kernet bis kota itu. Bis kota itu pun berhenti
beberapa meter dari arah kampus Kiara. Gadis itu dengan tergesa turun dari bis.
Pemuda Chinese itu juga mengikutinya
turun. Kiara berjalan agak cepat menuju ke etalase kampus yang masih agak sepi.
Sekilas Kiara melihat ke arah jam tangannya, lalu menoleh sekilas ke arah
pemuda Chinese itu. Kiara merasa
pemuda itu masih terus mengikutinya, dia merasa sangat risih.
“Please...jangan
ngikutin gue lagi. Gue nggak kenal sama loe, dan gue sama sekali nggak tertarik
sama loe.”kata Kiara kepada pemuda itu. Li hanya tersenyum dan kemudian
mendekati Kiara.
“Apa?
Loe sama sekali nggak tertarik sama gue? Yang bener nih, Miss Jutek?”goda
pemuda itu semakin mendekat.
“I..iya...”kata
Kiara.
“Taruhan?”
“Gue
berani.”kata Kiara. Pemuda itu semakin mendekati Kiara. Etalase kampus masih
sepi. Masih pukul tujuh lewat tiga puluh. Jarak Kiara dan pemuda itu hanya
sekitar tiga puluh senti, dan pemuda itu menatap Kiara dengan mata elangnya
tanpa berkedip. Kiara kelihatan gugup.
“See?, gue bakalan menang taruhan, Miss
Jutek. Loe bakalan tertarik sama gue.”
Kiara
menarik napas dalam-dalam, dia menutup matanya dan menunduk. Sebutir air mata
kemudian mengalir di pipinya. Kemudian isak tangisnya memecah keheningan
etalase kampus pagi itu. Li An tersentak. Pemuda itu kelihatan merasa bersalah.
“Maafin
gue, Ra. Gue nggak bermaksud nyakitin loe.”kata Li An pada akhirnya.
“Loe
kenal sama gue kan kak. Kenapa loe dateng lagi di kehidupan gue? Loe tau nggak
sih, seberapa besar usaha gue untuk melupakan segala sesuatu yang bernama
‘kebahagiaan’ yang bersumber dari loe.”kata Kiara disela tangisnya.
Pemuda
itu benar-benar terkejut. Kiara mengingat semua hal tentang dirinya. Pemuda itu
kemudian tersenyum.
“Thanks
Ra. Loe nggak pernah ngelupain gue.”kata Li An pada Kiara. “Dan gue bakalan
memenuhi janji gue. Gue udah balik, dan gue udah berhasil membujuk orang tua
gue, Ra.”
“Benarkah?”tanya
Kiara berbinar.
“Yeah,
of course Miss Jutek.”kata Li
kemudian.
“Owh, please don’t call me Miss Jutek. I’m
not Jutek at all.”
“Okay, never again, karena gue tahu
walaupun loe jutek, tapi sebenernya itu cuma topeng untuk menutupi kesedihan
loe.”
Kiara
tersenyum untuk ke sekian kalinya. Li An melihat senyum itu, senyum yang
benar-benar tulus. Betapa indah makhluk pemilik senyum itu. Thanks, God, batinnya.
“Ready?”kata Li kemudian.
“Untuk?”
“Tinggal
bersama gue di Cina.”
“Oh,
kak... gue masih kuliah.”
“No problem. Gue nggak akan pernah lelah
nungguin.”kata Li pada gadis itu.
“Eh,
ngomong-ngomong loe siapa? Gue lupa nama loe.”kata Kiara sambil tertawa.
“Hmm...okay
Miss...hmm...Miss whatever. Kita mulai dari awal. Nama gue Li An. Dan nama
loe?”
“Kiara
Aninditha.”
Mereka
berdua tertawa bersama. Kebahagiaan terpancar jelas di wajah mereka. Tiba-tiba
Kiara tersentak.
“Kayaknya
ada yang lupa.”kata Kiara. Dia diam sejenak. “Oh My God, gue lupa kalo gue ada kelas sekarang.”kata Kiara sambil
menepuk jidatnya. Li tertawa lepas. “Loe kok ketawa sih kak. Bukannya ngingetin.
Bisa dihukum lagi neh sama Pak Tio.”lanjutnya.
“Loe
bener-bener nggak berubah ya Ra. Tetep pelupa. Haha...”
“Udah
ah. Gue pergi, kak.” Kata Kiara kemudian sambil meninggalkan Li. Dari kejauhan,
Li An hanya tertawa kecil melihat Kiara. Li memperhatikan punggung Kiara
menghilang dibalik korridor kampus.
Thanks, God.
Engkau telah membuatnya nggak lupa sama gue,
batinnya.
by Fakhriyah HS
note : cerpen ini telah direvisi kembali kemudian diterbitkan dalam bentuk novel bertema romance yang berjudul "I'm Coming After You"
