Jumat, 05 Juni 2015

Amnesia


Gadis berambut cepak itu bernama Kiara. Perawakannya sedang, berwajah elips dan wajahnya terkesan kekanak-kanakan. Seperti biasa, Kiara selalu menunggu bis yang akan mengantarkannya ke tempat kuliahnya. Sambil mendengarkan musik melalui hadphone berwarna putih  dengan motif abstrak, gadis itu membaca novel science fiction yang berjudul Area X.
Halte tidak begitu ramai pagi itu. Masih pukul tujuh kurang sepuluh menit. Kiara terlihat masih asyik menekuri novelnya ketika seorang pemuda Chinese duduk di sampingnya. Kiara sama sekali tidak mengalihkan pandangannya dari novel yang dia baca.
“Suara hentakan kaki mengagetkanku. Aku tak bisa berlari kemana-mana. Aku harus bersembunyi, tapi dimana?”tiba-tiba saja sebuah suara cukup keras terdengar disampingnya, dan suara itu ikut membaca barisan kata yang baru saja dibaca oleh Kiara. Spontan Kiara agak terperanjat. Walaupun Kiara memakai hadphone, tapi suara itu tetap bisa didengarnya. Dia kembali menekuri bacaannya sambil menutup sedikit novelnya dan membenamkan wajahnya.
“Ehm...”pemuda disamping Kiara berdehem. Namun, Kiara tetap tidak menoleh. Dan tidak disangka, pemuda itu melepaskan hadphone yang digunakan oleh Kiara. Gadis itu terlihat sangat terkejut.
“Loe ngapain sih?” kata gadis itu dengan wajah merah padam. Dia paling tidak suka diganggu saat sedang menekuri hobbi membacanya itu.
“Serius banget.”kata pemuda itu sambil tersenyum. Kiara melihat ke arah pemuda itu sekilas, pemuda Chinese dengan wajah oriental dan kulit putih, mata sipit dan pandangannya tajam, mirip dengan mata elang.
“Denger ya, ini bukan urusan loe.”kata Kiara kemudian. Nada suaranya semakin meninggi.
“Ups...manis, tapi galak. Hmmm....sangat berbahaya.”kata pemuda itu sambil tertawa. Kiara kembali memasang headphone nya. Dia menambah volume music playernya dan kembali membaca novelnya.
Benar-benar sial. Bisnya lama banget sih, gumamnya dalam hati.
“Kiara Anindita, gadis jutek, cerdas dan juga manis. Loe tetep nggak berubah ya.”gumam pemuda itu. Walaupun, suara music player nya sudah full, akan tetapi mendengar seseorang menyebut namanya, Kiara sontak kaget. Spontan dia langsung mematikan music player nya.
“Apa?”tanyanya pada pemuda Chinese itu.
“Nggak. Nggak ada apa-apa.”kata pemuda itu kemudian. Sikap pemuda itu membuat Kiara semakin penasaran. Dia yakin, tadi pemuda itu menyebut-nyebut namanya.
“Sepertinya tadi loe ngomong sesuatu deh.”selidik Kiara. “Loe tau nama gue? Tadi loe nyebut-nyebut nama gue kan?”tanyanya to the point. Kiara adalah gadis yang tidak suka basa-basi.
“Kege-eran banget.”jawab pemuda itu sambil tertawa. Sikap pemuda itu semakin membuat Kiara penasaran.
“Eh, walaupun gue nggak denger jelas, tapi tadi kayaknya loe nyebut-nyebut nama gue. Gak mungkin gue salah. Apa kita pernah ketemu?”
“Hmm...kayaknya loe udah mulai tertarik nih sama gue. Ya kan Miss Jutek?”
“Tunggu...Miss Jutek? Gue bukan...Hei, siapa bilang gue tertarik sama loe? Tadi gue cuma denger loe nyebut nama gue, makanya gue penasaran, apakah kita pernah ketemu. Gue sama sekali nggak tertarik sama....”
“Bisnya dateng. Kalo loe nggak mau telat, mending loe langsung tancap aja.”potong pemuda itu sambil naik ke bis yang baru saja tiba di halte itu. Kiara lupa apa yang akan diucapkannya pada pemuda itu. Dia melihat jam tangannya sekilas dan langsung naik ke bis itu.
Semua penumpang yang jumlahnya sekitar delapan orang termasuk Kiara dan pemuda itu berdesakan di dalam bis. Bis kota itu sudah penuh dengan penumpang, sehingga sebagian penumpang harus berdiri, termasuk Kiara dan pemuda itu. Seorang wanita paruh baya juga ikut berdiri bersama mereka karena tidak mendapat tempat duduk, namun anak SMP yang duduk di samping wanita itu mempersilakan wanita paruh baya itu duduk di tempatnya. Wanita paruh baya itu pun mengucapkan terima kasih kepada anak SMP itu. Kiara tersenyum sekilas melihat pemandangan yang hampir setiap hari dilihatnya di bis kota itu. Sementara itu, pemuda Chinese itu terus saja memperhatikannya. Namun, Kiara tidak sadar kalau pemuda itu sedari tadi memperhatikannya.
Loe bener-bener nggak berubah Ra. Tetap manis dengan senyuman tulus itu. Walaupun jutek, tapi senyummu bener-bener tulus, batin pemuda Chinese itu.
***
Dua tahun sebelumnya.
“Eh, Ra, loe diterima di jurusan Hubungan Internasional. Tadi gue udah ngeliat pengumumannya di internet. Selamat yah...”kata David, teman sekelas Kiara waktu SMA.
“Oh, iya. Thanks.”jawab Kiara dengan cuek, terkesan jutek sih, bahkan terkesan tanpa ekspresi. Normalnya, seseorang yang berhasil memasuki jurusan yang diinginkan akan berteriak histeris ketika namanya terdaftar sebagai salah satu calon mahasiswa. Namun, berbeda dengan Kiara, gadis itu sama sekali tidak berekspresi. David yang sudah tau karakter Kiara hanya tersenyum. “Yoi...”
Tahun pertama bagi seorang mahasiswa baru memang terkesan berat untuk dijalani, begitu pula yang dirasakan oleh Kiara. Seabrek aktivitas kampus harus diikuti, seperti ospek dan outbond. Ditambah lagi, proses peralihan dari siswa menjadi mahasiswa juga harus dilalui, perlu adaptasi.
Bulan pertama menjadi mahasiswa, semua mahasiswa baru perlu mengikuti kegiatan yang paling dibenci oleh sebagian maba, ospek. Kesannya, ospek adalah ajang balas dendam yang dilakukan oleh para senior. Ospek identik dengan plonco-ploncoan dan siksaan fisik, walaupun ada juga universitas yang tidak memberlakukan sistem ospek yang seperti itu.
Ospek hari pertama pun dimulai. Dengan menggunakan pakaian yang diinstruksikan senior, Kiara berangkat ke kampus dengan diantar oleh kakak laki-lakinya, Kian Ardhani. Kebetulan, Kian juga kuliah di universitas yang sama dengan Kiara, hanya saja Kian mengambil jurusan teknik mesin.
Waktu sudah menunjukkan pukul enam kurang lima menit, sedangkan pada hari pertama ospek semua maba harus tepat waktu. Kiara belum juga sampai di kampus. Dia sudah berpikir bahwa dia akan terlambat. Sialnya, sedari tadi mereka selalu mendapat lampu merah di jalan.
“Kak, masih jauh kagak?”tanya Kiara.
“Bentar lagi. Loe tenang aja...”jawab Kian santai. Namun, yang benar saja, Kiara benar-benar terlambat. Dia baru tiba di kampus pukul enam lewat sepuluh menit. Terlihat banyak maba yang dihukum karena terlambat. Kiara bergegas ke tempat para maba berkumpul. Namun, sayangnya Kiara tak lepas dari penglihatan seorang anggota panitia ospek yang Kiara tau adalah salah satu anggota sesi kedisiplinan.
Mampus dah gue, batinnya. Dan yang benar saja, orang itu mendekati Kiara. “Eh, loe...ke-ce-bong.”kata orang itu sambil membaca nametag yang Kiara kenakan. Setiap maba memang disuruh untuk menggunakan nama pada nametag yang aneh-aneh. Kebetulan Kiara mendapatkan kata ‘kecebong’ sebagai julukannya.
“Iya kak.”jawab Kiara tegas. Tanpa rasa takut.
“Berani juga kecebong satu nih.”orang itu tersenyum sinis. “Loe tau kan kalo loe terlambat. Kenapa tadi gue liat loe nyelonong aja masuk ke barisan temen-temen loe yang nggak terlambat?”
“Maaf, kak. Gue nggak tau.”jawab Kiara lagi.
“Halaaah...pura-pura loe. Jangan mentang-mentang loe cewek, gue nggak bisa kasar ya sama loe. Nantang loe?”
“Nggak kak. Gue bener-bener nggak tau.”
“Loe udah salah, tapi tetep berani ya. Gue kasih hukuman yang paling berat baru tau rasa loe.”
Orang itu semakin kesal melihat tingkah Kiara yang sama sekali tidak takut. Bahkan mungkin saja orang itu lupa kalau yang dihadapinya adalah seorang gadis, hingga orang itu hampir melayangkan tangannya ke wajah Kiara. Untung saja seorang anggota panitia yang lain mencegah orang itu memukul Kiara.
“Vin, sadar. Dia ini cewek. Loe nggak boleh maen kasar. Walaupun kita diberi wewenang untuk melatih mental mereka, tetep aja kita nggak boleh maen fisik, apalagi sama cewek.”
“Sorry, Li. Gue lepas kontrol. Gue bener-bener kesel sama tuh cewek. Udah salah, tetep aja membantah.”
Dari kejauhan, Kiara hanya tersenyum sekilas melihat orang yang memarahinya itu. Dia sama sekali tidak peduli apa hukuman yang akan dia dapatkan. Dia sudah kebal dengan hukuman apapun. Sejak kecil, Kiara terbiasa menerima hukuman fisik dari sang ayah yang merupakan pelatih karate sekaligus seorang pengusaha. Ketika Kiara melakukan kesalahan, sang ayah langsung memberinya hukuman fisik. Mungkin itu juga yang membuat Kiara menjadi jutek dan tidak memiliki perasaan yang sensitif.
“Ya udah Vin. Biar gue yang ngurus tuh maba.”kata orang yang bernama Li itu.
“Sip, thanks ya.”
“Oke.”kata Li sembari berjalan menuju ke arah Kiara. “Sorry...gue minta maaf atas nama temen gue.”kata Li kemudian.
“Yeah, oke.”jawab Kiara singkat.
Bener kata Malvin, nih cewek kayaknya ngeselin, batin Li.
“Nama gue Li An. Salah satu anggota panitia ospek. Gue yang akan ngurus loe karena kesalahan loe yaitu telat.”kata Li kemudian.
Kiara menatap Li sekilas. Chinese, batinnya.
“Oke, terserah loe aja. Gue ngikut.”kata Kiara akhirnya.
Nih cewek nggak manggil gue ‘kak’, padahal gue udah memperkenalkan diri gue sebagai panitia. Aseeem...,batin Li.
“Sorry? Loe nggak manggil gue ‘kak’?”kata Li kemudian.
“Hmm...gue ngikut loe aja, Kak.”Kiara mengulang kembali perkataannya, dengan menekankan kata ‘kak’ di akhir kalimat yang dia ucapkan.
“Oke, kalau begitu loe ikut gue. Gue akan ngasih loe hukuman. Eh, asal loe tau aja, gue lebih tua tiga tahun dari loe. Jadi loe harus sopan.”kata Li.
“Penting nggak sih gue tau”, gumam Kiara. Walaupun demikian Li tetap mendengarnya, namun dia mengabaikan saja. Akan tetapi, Li merasa semakin tertarik dengan sosok Kiara yang jutek dan tidak pernah merasa takut.
***
Itulah pertemuan pertama antara Kiara dan Li An, seorang pemuda Chinese yang mengambil jurusan yang sama dengan Kiara, hubungan internasional. Nampaknya pemuda Chinese itu sudah lama tinggal di Indonesia, atau bahkan dia terlahir di Indonesia. Bahasa Indonesia yang dia gunakan sangat lancar.
Setelah masa-masa ospek berlalu, Kiara kembali melakukan segala aktivitasnya, menjadi seorang mahasiswa. Pagi kuliah, sorenya dia latihan karate dan setiap hari sabtu dan minggu kerja part-time di sebuah kafé yang tidak jauh dari kampusnya. Tak ada yang berubah, masih dengan rutinitas yang biasanya dilakukan sebagian orang.
Kiara sama sekali tidak menyadari bahwa seniornya yang berdarah Chinese itu ternyata selalu mengamatinya. Li An merasa tertarik pada kepribadian Kiara yang jutek, tidak pernah merasa takut, dan pastinya bukan tipe cewek manja. Pemuda itu merasa ada sesuatu yang berbeda dalam diri gadis itu. Li sangat tertarik dengan gadis itu. Dan tanpa disadari Kiara juga, diam-diam Li mencari segala informasi tentang kehidupan Kiara, mulai dari keluarganya, sampai pekerjaannya.
“Neng Kiara itu cuma hidup bertiga sama ayah dan kakak laki-lakinya, bang. Sejak kecil, mereka ditinggal ibunya karena awalnya mereka orang yang tidak mampu secara materi. Ibunya memilih untuk menikah lagi dengan pria yang lebih kaya, bang.”kata seorang tetangga Kiara. “Dengan keadaan seperti itu, mereka berusaha untuk bertahan hingga bisnis yang dijalankan oleh Pak Dito –nama ayah Kiara- menjadi sukses seperti sekarang ini. Meskipun demikian, anak-anak Pak Dito nggak ada yang manja, termasuk Neng Kiara. Mereka selalu diajarkan untuk hidup mandiri. Ditambah lagi, Pak Dito adalah salah satu pelatih karate yang sudah mendapatkan sabuk hitam. Sejak kecil, anak-anaknya dilatih karate dan jika mereka melakukan kesalahan, maka hukuman yang mereka peroleh adalah hukuman fisik.”
“Oh, gitu ya mang. Makasih banyak ya infonya.”kata Li kepada pemuda yang ada di depannya.
“Iye bang, sama-sama.”
Pantesan aja tuh cewek sikapnya kayak gitu, tapi gue nggak bakalan berhenti sebelum gue dapetin dia, batin Li.
***
“Ra, loe dicariin tuh.”kata Gina, temen sekelas Kiara.
“Siapa?”tanya Kiara.
“Kak Li An.”
“Hmm...yang mana ya?”
“Itu loh, senior kita. Ampun dah, Ra. Sikap pelupa loe agak parah. Jangan sampe deh loe amnesia. Bisa-bisa nama loe pun, loe lupain lagi. Amit-amit....Eh, dia kan yang dulu ngasih loe hukuman pas waktu kita ospek.”
“Oh, oke. Thanks.”
“Sip, sama-sama. Dia nunggu loe di kantin.”kata Gina kemudian.
Kiara memang agak pelupa. Apalagi semenjak ibunya meninggalkan kehidupan keluarganya demi pria lain, Kiara semakin tertekan. Semua masalah dipendamnya sendirian. Dia tidak ingin membuat ayahnya dan kakaknya semakin sedih setelah ditinggal ibunya. Dia tidak ingin menambah beban mereka dengan keluhan-keluhannya. Karena itu, Kiara memilih memendam semua masalah yang dihadapinya sendirian. Dia ingin melupakan masa lalu dan kenangan pahit yang ada dalam hidupnya. Jiwanya mulai rapuh. Depresi melandanya. Dia ingin melupakan semua kesengsaraan yang dialaminya. Perlahan dia belajar untuk melupakan. Namun, karena rasa sakit yang dia rasakan seorang diri dan terlalu memaksakan diri untuk melupakan sesuatu, kepalanya menjadi tidak beres. Otaknya tak mampu mencerna perintah yang diinstruksikan tubuhnya. Kiara mulai menjadi pelupa.
Kiara bergegas menuju kantin untuk menemui Li. Kiara penasaran ada hal apa yang akan disampaikan Li kepadanya. Apakah itu ada hubungannya dengan ospek. Seingat Kiara, Li hanya pernah bertemu dengannya saat ospek.
“Hai..”sapa Li agak canggung saat Kiara mendekat ke arahnya.
“Ada apa Kak?”tanpa basa-basi Kiara bertanya kepada Li.
“Gue boleh nggak sekali-kali maen ke rumah loe, Ra?”tanya Li kemudian.
Kiara terkejut. Dia sudah mengira bahwa apa yang akan disampaikan Li kepadanya berkaitan dengan kegiatan ospek atau kegiatan kuliah, ternyata dia salah. Kiara terdiam sejenak.
“Yah silakan aja. Nggak ada yang ngelarang kok. Tapi gue jarang di rumah.”
“Gue tau, loe kerja kan?”
“Darimana loe tau?”
“Ada deh.”Li tersenyum jahil ke arah Kiara.
***
Hampir setiap hari, Li An ke rumah Kiara. Pemuda itu tak hanya bertemu dengan Kiara, tetapi juga bertemu ayah dan kakaknya. Pak Dito sangat senang dengan Li karena pemuda itu sering sekali mengajak Pak Dito bermain catur. Bagi Pak Dito, sangat sulit menemukan pemuda yang suka bermain catur pada zaman sekarang ini. Li tidak segan-segan menghabiskan lima jam hanya untuk bermain catur dengan Pak Dito pada hari libur. Selain Pak Dito, kakak kandung Kiara, Kian juga senang sekali dengan kehadiran Li. Alasannya hanya satu, Li selalu mengajak Kian untuk menonton lomba balap moto GP secara langsung. Li An adalah salah satu pembalap moto GP junior yang baru akan direkomendasikan mengikuti pertandingan pertamanya di kancah internasional, yaitu di sirkuit Jepang.
“Itung-itung bisa nonton moto GP gratis, gue ngijinin loe deket sama adek gue.”kata Kian pada Li saat mereka akan berangkat ke sirkuit moto GP suatu hari.
“Dasar. Loe cuma mikirin segala hal yang gratisan aja.”
“Nggak pa pa donk, gue manfaatin adek gue. Haha...”
“Sadis loe.”
“Tapi loe beneran suka kan sama adek gue?”
“Iyaaaa....”
“Syaratnya, loe nggak boleh nyentuh plus nyakitin dia. Deal?”
“Deal.”
Begitulah cara Li mendekati anggota keluarga Kiara. Li memperlakukan keluarga Kiara dengan sangat baik. Terkadang Kiara memperhatikan ayahnya kembali tertawa lepas saat Li sedang berada di rumahnya. Sepertinya kesedihan sang ayah lenyap begitu saja ketika Li berada di antara mereka. Dan sejak saat itu pula, ayahnya berhenti menjadi seorang workaholic, dan lebih memilih bermain catur di rumah bersama Li.
Kiara merasa Li telah mengembalikan kebahagiaan keluarganya seperti dulu, sebelum ibunya meninggalkan mereka. Kiara merasa sangat bahagia. Kiara tersenyum dari kejauhan melihat pemandangan yang sudah beberapa tahun tidak dilihatnya itu. Li mengamati Kiara yang sedang tersenyum untuk pertama kalinya, senyum yang benar-benar tulus. Hati pemuda itu berdesir, kebahagiaan terpancar dari wajahnya. Gue pasti akan mendapatkan hatimu, Miss Jutek, batin pemuda itu.
Walaupun jarang ketemu di rumah, Li selalu nyamperin Kiara di tempat latihan karate dan di tempat kerjanya. Pada awalnya Kiara merasa sangat terganggu dengan kehadiran Li. Tetapi, pada akhirnya Kiara merasa ada yang hilang jika Li tidak ada di dekatnya. Dan pada saat itulah Kiara sadar bahwa dia menyukai pemuda Chinese itu. Dia sama sekali tidak tahu alasan kenapa dia menyukainya, apakah karena kedekatannya dengan keluarganya ataukah karena hal lain, yang pastinya dia mulai menyukai pemuda itu.
***
Banyak cara yang ditempuh oleh Li untuk mendekati Kiara termasuk berbaur dengan keluarganya, dan seperti yang Li harapkan, dia berhasil mendapatkan hati gadis itu. Dia berhasil mendapatkan Kiara. Dan dia memutuskan untuk memperkenalkan Kiara kepada keluarga besarnya, dan sangat berharap keluarganya akan menyetujui hubungan mereka.
“Ma, Pa, Li mau ngenalin seseorang kepada Mama dan Papa.”kata Li kepada kedua orang tuanya saat Li mengajak Kiara bertemu dengan mereka. Kiara sedang duduk di teras depan rumah Li saat itu.
“Siapa?”tanya mamanya kemudian saat melihat Kiara dari dalam rumah.
“Namanya Kiara Anindhita, Ma.”
“Asal usul gadis itu?”tanya papanya tajam.
“Dia bukan orang Chinese asli, Pa. Tapi orang Indonesia.”
“Asli Indonesia?”tanya papanya sekali lagi. Masih dengan nada tajam.
“Ngg...Li kurang tau Pa. Wajahnya agak oriental, dan kulitnya juga kuning langsat. Tapi dia bilang dia tidak memiliki darah keturunan Cina. Jadi Li berpendapat kalau dia orang asli Indonesia.”jawab Li ragu-ragu.
“Kamu tau kan Li, kebudayaan Tionghoa, kebudayaan leluhur kita. Kalau kamu berani menikah dengan orang bukan Cina asli, maka kamu akan dianggap orang buangan. Kamu akan merusak marga dan keturunan nantinya. Kamu paham kan maksud Papa.”
“Tapi Pa. Itu kan paham lama. Di zaman seperti ini seharusnya paham seperti itu tidak diterapkan lagi. Pikiran kuno, Pa. Lagian Kiara orangnya baik dan gadis yang mandiri. Li sama sekali nggak peduli dengan latar belakangnya, Pa.”
“Sampai kapan pun Papa tidak akan setuju dengan gadis itu.”kata papanya sambil menutup pintu ruang kerjanya dengan sangat keras. Bunyi debuman pintu itu pun mengagetkan Kiara.
“Maafkan Papa ya Li. Papa hanya ingin yang terbaik buatmu, apalagi ini menyangkut masa depanmu.”kata mamanya sembari mengusap wajah Li yang sudah mulai memerah. Li hanya terdiam, tanpa mengatakan apa-apa.
Dari luar, samar-samar Kiara mendengar pertengkaran Li dan orang tuanya. Walaupun tidak ingin menguping pembicaraan mereka, tapi suara mereka cukup keras. Gadis itu mengintip sekilas dan merasakan suasana tegang di ruangan itu belum juga reda. Kiara merasa sangat bersalah dengan apa yang sedang terjadi pada Li. Dia merasa gara-gara dirinya, Li bertengkar dengan kedua orang tuanya. Dia merasa, dia akan menjadi penyebab retaknya hubungan Li dengan orang tuanya. Sedangkan apa yang telah dilakukan Li untuknya dan untuk keluarganya, Li berusaha mengembalikan kebahagiaan keluarganya. Semua perasaan dan pikiran itu berkecamuk dalam dirinya. Dia tidak ingin pemuda yang disayanginya itu merasakan apa yang pernah dia rasakan, kehilangan kasih sayang dan kehangatan keluarga. Dia tidak ingin menjadi egois, hanya karena Li adalah orang yang berharga dalam hidupnya, dia harus selalu berada di sampingnya. Sementara Li harus kehilangan keluarga yang dari dulu bersamanya. Kiara memutuskan untuk meninggalkan rumah itu tanpa sepengetahuan Li.  
Air mata mengalir di pipi gadis itu. Dia sudah memutuskan untuk meninggalkan Li. Gadis itu berlari sekencang-kencangnya sebelum Li menyadari ketidakberadaannya. Tuhan, kenapa setiap orang yang gue sayangi harus berada jauh dari gue? Ini tidak adil, Tuhan. Baru saja gue ngerasain kebahagiaan setelah bertahun-tahun, tapi dalam sekejap gue harus berpisah dari sumber kebahagiaan itu. Apa yang harus gue lakukan sekarang?, rintihnya dalam hati. Dia ingin melupakan segala hal yang telah terjadi. Dia ingin melupakan semuanya, tapi bagaimana bisa dia melupakan pemuda itu.
Kiara berlari semakin kencang, tanpa arah dan tujuan. Dan tanpa menoleh ke kiri dan ke kanan, gadis itu menyeberangi jalan setapak yang agak sepi. Namun, karena jalanan itu agak sepi, biasanya pengendara motor atau mobil yang melewati jalan itu mengendarai kendaran mereka dengan ngebut. Saat Kiara melintas, sebuah mobil Grand Livina melintas secepat kilat, dan menabrak Kiara yang sedang menyeberang. Tubuh Kiara ambruk, penglihatannya hitam dan akhirnya tidak sadarkan diri. Darah mulai bercucuran di kepala dan kakinya. Pengendara tak bertanggungjawab itu melarikan diri dan meninggalkan Kiara yang sedang terkapar.
Deg, deg...perasaan Li tidak enak. Pemuda itu menyingkirkan tangan mamanya dari wajahnya. “Maafkan Li, Ma.”katanya kemudian. Li keluar dari dalam rumah dan tidak mendapati Kiara. Perasaan pemuda itu semakin tak karuan. Dia merasa sesuatu yang buruk telah terjadi. Tuhan, lindungi dia, gue mohon, batinnya. Li An berlari sekencang-kencangnya untuk mengejar gadis itu. Dia berusaha menghubungi ponsel Kiara, tapi tak ada jawaban. Sms pun berkali-kali dikirim, namun tetap tidak ada balasan. Hatinya semakin resah.
“Ra....loe dimana?”teriaknya. Namun, tak ada jawaban. Dia mulai putus asa. Dia kehilangan jejak.
Dia berlari melewati jalan besar dan jalan setapak yang tadi dilewati Kiara. Pemuda itu tetap berteriak memanggil nama Kiara, tapi tetap saja tidak ada jawaban. Tiba-tiba, dari kejauhan terlihat sosok manusia sedang tergeletak tak berdaya menarik perhatiannya.  Li mendekat dan menemukan Kiara sudah tak sadarkan diri. Peluh mulai membasahi tubuh Li melihat Kiara dalam keadaan seperti itu.
“Ra, bangun... Ra...tolong, bangunlah....”teriaknya. Dia memeriksa denyut nadi Kiara dengan tangan kanannya yang gemetar. Denyut nadinya lemah. Hatinya berdebar kencang.
“Siapa pun...tolong.... toloooooonggg....”teriaknya sambil memeluk Kiara. Tapi, tak ada orang yang lewat di jalan itu. Senja mulai menyapa. Langit yang terlihat biru mulai nampak gelap. Li memutuskan untuk menelepon ambulans. Beberapa saat kemudian ambulans datang dan membawa Kiara dan Li An ke rumah sakit.
***
Kiara terbaring lemah di ruangan serba putih itu. Sebuah selang infus menempel ditangan kirinya. Dia pun harus menggunakan oksigen dan selang pernapasan. Kepalanya terbalut dengan kain putih. Sudah tiga hari berlalu sejak kejadian itu, tapi gadis itu belum juga tersadar. Li An menatap gadis itu dengan tatapan sedih. Gadis yang begitu disayanginya kini berada diambang pintu antara hidup dan mati.
Tuhan, selamatkan dia. Gue mohon. Walaupun gue harus pergi dari hidupnya, gue rela. Yang terpenting, dia bisa selamat, batin Li. Dan hari itulah hari terakhir Li melihat Kiara. Pemuda itu memutuskan untuk meninggalkan Indonesia dan kembali ke negara leluhurnya.
“Maafin gue, Ra. Gue tau loe akan bangun dan kembali sehat lagi. Maafin gue juga Ra. Gue harus ninggalin loe. Ini demi kebaikan kita. Kalo loe tetep deket sama gue, loe bakalan ngerasa sakit. Begitu juga dengan gue. Tapi gue janji, gue bakalan balik sama loe. Loe nggak boleh kemana-kemana. Dan loe harus sembuh. Oke...”kata pemuda itu sebelum meninggalkan ruangan Kiara. “Dan satu lagi Ra, gue bakalan membuat orang tua gue setuju. Loe tunggu aja. Gue janji.” Setelah itu, Li An meninggalkan ruangan itu. Kiara masih belum sadar, tapi air mata mengalir di pipinya.
***
“Amnesia, pak.”kata dokter yang menangani Kiara. “Dia mengalami amnesia sebagian. Dia lupa dengan hal-hal dua tahun sebelumnya. Jika sekarang umurnya baru sembilan belas tahun, maka dia hanya akan mengingat kalau dia masih berumur tujuh belas tahun.”
“A...apa dok?”
“Tapi masih ada harapan untuk mengembalikannya seperti semula, Pak. Biarkan dia bertemu dengan orang-orang yang dia temui selama dua tahun itu, termasuk jika dia memiliki orang yang dia sayangi selain keluarganya. Itu bisa saja mengembalikan semua ingatannya. Dan satu lagi, Pak. Otak Kiara agak bermasalah. Itu disebabkan karena dia berusaha keras untuk melupakan sesuatu, sesuatu yang sangat berharga dalam hidupnya, yang tak akan bisa dilupakannya. Akibatnya, otaknya tidak kuat.”begitulah penjelasan dokrter yang menangani Kiara.
***
“Bang, kiri bang.” Teriak Kiara kepada kernet bis kota itu. Bis kota itu pun berhenti beberapa meter dari arah kampus Kiara. Gadis itu dengan tergesa turun dari bis. Pemuda Chinese itu juga mengikutinya turun. Kiara berjalan agak cepat menuju ke etalase kampus yang masih agak sepi. Sekilas Kiara melihat ke arah jam tangannya, lalu menoleh sekilas ke arah pemuda Chinese itu. Kiara merasa pemuda itu masih terus mengikutinya, dia merasa sangat risih.
“Please...jangan ngikutin gue lagi. Gue nggak kenal sama loe, dan gue sama sekali nggak tertarik sama loe.”kata Kiara kepada pemuda itu. Li hanya tersenyum dan kemudian mendekati Kiara.
“Apa? Loe sama sekali nggak tertarik sama gue? Yang bener nih, Miss Jutek?”goda pemuda itu semakin mendekat.
“I..iya...”kata Kiara.
“Taruhan?”
“Gue berani.”kata Kiara. Pemuda itu semakin mendekati Kiara. Etalase kampus masih sepi. Masih pukul tujuh lewat tiga puluh. Jarak Kiara dan pemuda itu hanya sekitar tiga puluh senti, dan pemuda itu menatap Kiara dengan mata elangnya tanpa berkedip. Kiara kelihatan gugup.
See?, gue bakalan menang taruhan, Miss Jutek. Loe bakalan tertarik sama gue.”
Kiara menarik napas dalam-dalam, dia menutup matanya dan menunduk. Sebutir air mata kemudian mengalir di pipinya. Kemudian isak tangisnya memecah keheningan etalase kampus pagi itu. Li An tersentak. Pemuda itu kelihatan merasa bersalah.
“Maafin gue, Ra. Gue nggak bermaksud nyakitin loe.”kata Li An pada akhirnya.
“Loe kenal sama gue kan kak. Kenapa loe dateng lagi di kehidupan gue? Loe tau nggak sih, seberapa besar usaha gue untuk melupakan segala sesuatu yang bernama ‘kebahagiaan’ yang bersumber dari loe.”kata Kiara disela tangisnya.
Pemuda itu benar-benar terkejut. Kiara mengingat semua hal tentang dirinya. Pemuda itu kemudian tersenyum.
“Thanks Ra. Loe nggak pernah ngelupain gue.”kata Li An pada Kiara. “Dan gue bakalan memenuhi janji gue. Gue udah balik, dan gue udah berhasil membujuk orang tua gue, Ra.”
“Benarkah?”tanya Kiara berbinar.
“Yeah, of course Miss Jutek.”kata Li kemudian.
Owh, please don’t call me Miss Jutek. I’m not Jutek at all.”
Okay, never again, karena gue tahu walaupun loe jutek, tapi sebenernya itu cuma topeng untuk menutupi kesedihan loe.”
Kiara tersenyum untuk ke sekian kalinya. Li An melihat senyum itu, senyum yang benar-benar tulus. Betapa indah makhluk pemilik senyum itu. Thanks, God, batinnya.
Ready?”kata Li kemudian.
“Untuk?”
“Tinggal bersama gue di Cina.”
“Oh, kak... gue masih kuliah.”
No problem. Gue nggak akan pernah lelah nungguin.”kata Li pada gadis itu.
“Eh, ngomong-ngomong loe siapa? Gue lupa nama loe.”kata Kiara sambil tertawa.
“Hmm...okay Miss...hmm...Miss whatever. Kita mulai dari awal. Nama gue Li An. Dan nama loe?”
“Kiara Aninditha.”
Mereka berdua tertawa bersama. Kebahagiaan terpancar jelas di wajah mereka. Tiba-tiba Kiara tersentak.
“Kayaknya ada yang lupa.”kata Kiara. Dia diam sejenak. “Oh My God, gue lupa kalo gue ada kelas sekarang.”kata Kiara sambil menepuk jidatnya. Li tertawa lepas. “Loe kok ketawa sih kak. Bukannya ngingetin. Bisa dihukum lagi neh sama Pak Tio.”lanjutnya.
“Loe bener-bener nggak berubah ya Ra. Tetep pelupa. Haha...”
“Udah ah. Gue pergi, kak.” Kata Kiara kemudian sambil meninggalkan Li. Dari kejauhan, Li An hanya tertawa kecil melihat Kiara. Li memperhatikan punggung Kiara menghilang dibalik korridor kampus.
Thanks, God. Engkau telah membuatnya nggak lupa sama gue, batinnya.

by Fakhriyah HS

note : cerpen ini telah direvisi kembali kemudian diterbitkan dalam bentuk novel bertema romance yang berjudul "I'm Coming After You"

XENA


Waktu terasa terhenti ketika dia berjalan menuju ke arahku kemudian tersenyum padaku dan berlalu begitu saja dari hadapanku. Aku hanya dapat berdiri terpaku, lebih tepatnya terpesona ketika dia melambaikan tanga padaku.
Gadis itu namanya Xena. Dia adalah tetanggaku sekitar dua minggu ini. Dia seorang keturunan Cina asli. Matanya supit, kulitnya putih bersih seperti kulit bayi, hidungnya mancung, bibirnya tipis, dan rambutnya panjang tergerai sampai punggungnya. Umurnya kira-kira masih 17 tahun.
Oh ya, aku hampir lupa memperkenalkan diriku. Namaku Andre Setyawan. Orang-orang biasa memanggilku dengan sapaan Andre. Aku masih berumur 19 tahun dan sekarang aku kuliah di sebuah universitas negeri di Surabaya. Hanya itu saja bocoran tentangku, karena kali ini aku tidak ingin berbicara tentang diriku. Tapi aku ingin menceritakan kepada kalian tentang seorang gadis bernama Xena.
Xena, begitu indah nama itu terdengar di telingaku. Aku tak tahu mengapa aku begitu suka dengan nama itu. Aku sendiri bingung. Aku suka nama itu dan juga...aku menyukai pemilik nama itu.
***
Tiga minggu lalu, tetanggaku yang lama pindah ke Bandung. Rumahnya tepat bersampingan dengan rumahku. Seminggu kemudian rumah itu ditempati oleh Xena dan keluarganya. Katanya mereka baru saja datang dari Cina dan berencana menetap di Indonesia. Sebenarnya orang tua Xena sudah lama tinggal di Indonesia kemudian mereka kembali ke Cina dan kembali ke Indonesia lagi bersama Xena.
Pertama kali aku melihatnya, ketika Xena sedang membuka jendela kamarnya di lantai dua. Kebetulan kamarku juga berada di lantai dua. Jadi posisi jendela kamarku berhadapan dengan jendela kamarnya. Aku begitu terpesona melihat kecantikannya yang alami, tanpa kosmetik yang menutupinya. Kalau aku membandingkannya dengan artis-artis Asia, dia mirip dengan Rainie Yang. Selain cantik dia juga imut dan murah senyum. Saat aku menatapnya, dia tersenyum padaku. Aku pun membalas senyumannya. Hatiku berdesir. Entah kenapa. Tapi aku rasa aku menyukai gadis itu.
“Hei...”teriakku padanya sambil melambaikan tangan. Dia hanya tersenyum tanpa membalas teriakanku.
Hari demi hari berlalu, tapi aku belum pernah berkunjung ke rumahnya walau hanya untuk bertegur sapa. Namanya pun aku tahu dari ayah danibuku yang sering ke rumah Xena. Dan pada hari ini aku memutuskan untuk mampir ke rumahnya.
“Selamat sore.”teriakku seraya membunyikan bel rumahnya.
Seorang wanita muda membukakan pintu untukku sambil tersenyum ramah. Wanita itu kira-kira seumuran ibuku.
“Silakan masuk. Kamu pasti Andre. Anaknya Pak Donny, tetangga sebelah, iya kan?”
“Iya, bener tante. Oh ya, tante. Boleh nggak aku ketemu sama putri tante?”
“Tente aja boleh. Silakan duduk Nak Andre.”
“Makasih tante.”
Aku mendengar sekilas wanita itu memanggil putrinya dan menyuruhnya menemuiku. Hatiku kembali berdebar kencang. Baru kali ini aku bertatap muka langsung dengannya. Beberapa saat kemudian, dia datang menghampiriku dan duduk tepat di kursi yang ada di depanku.
“Hei Xena. Apa kabar?”aku memulai pembicaraan hanya untuk sekedar berbasa basi dengannya. Namun dia hanya diam dan tersenyum. Mungkin dia malu padaku.
“Kamu sekolah dimana sekarang?”tanyaku lagi. Lagi-lagi dia hanya tersenyum padaku. Aku menjadi kikuk sendiri. Aku pun kembali bertanya padanya dengan topik lain.
“Oh ya, minggu depan ayah dan ibu akan mengadakan pesta kebun. Kamu ikut ya?”
Dia mengangguk dan tersenyum. Tapi ada yang aneh dengannya. Mengapa dia tidak mau berbicara padaku. Apakah karena suaranya jelek hingga dia takut aku meledeknya. Kalian tahu, aku tidak akan berbuat begitu kan. Lalu aku kembali berbicara padanya.
“Oh ya. Namaku Andre.” Seperti biasa dia hanya tersenyum dan mengangguk. Kesal juga aku dibuatnya. Mengapa dia hanya mengangguk dan tersenyum? Mengapa dia tidak mau berbicara? Apakah dia takut padaku? Atau aku memang nggak pantas berbicara dengan gadis secantiknya? Semua pertanyaan itu muncul dalam benakku dan kesadaranku pun habis. Aku berteriak dan marah, tapi seharusnya aku tidak berteriak sekeras itu. Tapi mau gimana lagi, semua udah terlanjur.
“Heh, Xena. Kenapa kau tidak mau berbicara denganku? Kau takut padaku? Atau kau tidak paham ucapanku sama sekali?”
Kulihat dia terkejut, tapi dia tetap saja terdiam tanpa menngeluarkan sepatah kata pun dari mulutnya.
“Kenapa kau diam? Atau aku nggak pantas bicara denganmu? Apakah suaramu begitu mahal kau berikan untukk berbicara dengan orang sepertiku?”
Dia menggeleng dan tetap tak berbicara. “Oh begitu? Aku tahu sekarang. Makasih.”kurasa nada suaraku naik satu oktaf. Sekilas aku memandangnya. Dia semakin terkejut dengan perbuatanku dan mulai meneteskan air mata. Aku pun panik. Aku sama sekali nggak tahu bagaimana menenangkan hati wanita.
“Xena, maafkan aku. Aku nggak bermaksud menyakiti hatimu dengan perkataanku. Kumohon, diamlah. Berhentilah menangis.”
Mendengar keributan itu, ibu Xena keluar menemui kami.
“Ada apa Nak Andre? Kenapa...”kata-katanya terputus ketika dia melihat putrinya menangis tanpa suara.
“Nak, kenapa kau menangis?”katanya merangkul putrinya.
“Kau apakan dia, Nak Andre? Kenapa dia sampai menangis seperti ini?” Ibu Xena menatapku tajam. Aku pun gugup.
“Nggak tante. Nggak aku apa-apain. Aku hanya membentaknya, soalnya aku kesal tante. Dia nggak mau bicara padaku.”
“Kau membentaknya?”
“Ya tante. Maaf.”
“Dia...dia bisu Nak.”kata Ibu Xena sambil menangis.
“Apa???”aku terkejut. Jantungku kembali berdetak kencang.
Xena bisu. Jadi...dia nggak berbicata padaku karena dia bisu, bukan karena dia nggak mau. Aku...aku merasa sangat bersalah padanya. Aku menyesal telah membentaknya sekeras itu.
“Maafkan aku. Aku nggak tahu kalau kau.... aku menyesal.”
“Udahlah, sebaiknya Nak Andre pulang.”
Aku pun beranjak pergi. Sekilas aku memperhatikan wajah Xena yang sudah memerah karena menangis. Xena maafkan aku. Aku sama sekali nggak tahu tentangmu aku telah menyakitimu. Aku pulang ke rumah dengan perasaan tak karuan. Aku berjanji aku akan meminta maf kepadanya.
Keesokan harinya, aku pergi ke toko bunga. Aku ingin membeli bunga untuk Xena. Kata ibunya, dia suka sekali dengan mawar kuning. Aku baru pertama kali membeli bunga untuk seorang gadis. Aku sama sekali belum tahu bagaimana cara memberi bunga kepada gadis itu. Jadi aku meminya kepada pelayan toko bunga itu untuk mengajarku. Kata pelayan toko itu juga, wanita menyukai cokelat. Aku memutuskan untuk memberi bunga dan cokelat kepada Xena sebagai permintaan maafku kepadanya. Aku harap dia senang dan mau memaafkanku.
Setelah mampir ke toko bunga, aku langsung ke rumah Xena. Kusembunyikan bunga di belakangku dan aku menekan bel rumahnya. Hatiku kembali berdegup kencang. Apakah Xena mau memaafkanku? Tuhan, tolong aku.
Sesaat kemudian seorang wanita cantik nan jelita dengan tahi lalat kecil di pipinya membukakan pintu untukku. Itu Xena.
“Hei Xena.”kataku saat di membuka pintu. Dia pun tersenyum ramah padaku. Aku sedikit lega melihat senyumannya yang manis. Setelah itu aku memberinya bung dan cokelat yang baru saja aku beli untuknya. Dia pun tersenyum dan tampak senang. Aku masuk dan duduk di ruang tamu rumahnya. Seperti biasa dia duduk di kursi di depanku.
“Xena, aku minta maaf soal kemarin. Aku menyadari kesalahanku. Aku...”ucapanku terhenti ketika dia beranjak pergi dari hadapanku. Aku rasa dia tidak mau memaafkanku. Jadi aku putuskan untuk beranjak pergi. Apa lagi yang aku lakukan disini. Aku memang sudah keterlaluan kepadanya.
Saat aku melangkahkan kakiku keluar dari rumahnya, seseorang memegang lenganku erat. Erat sekali. Aku berbalik dan ternyata itu Xena. Dia menggunakan isyarat dengan mengerlingkan matanya seakan menyuruhku untuk duduk kembali. Aku pun mengikutinya. Aku melirik. Ditangannya sudah ada kertas kosong dan pulpen. Ternyata dia pergi mengambil kertas dan pulpen agar dia bisa berkomunikasi denganku. Bukan karena dia tidak mau memaafkanku.
“Xena, sekali lagi maafkan aku. Aku nggak bermaksud membentakmu. Aku hanya...”ucapanku terhenti ketika dia menempelkan telunjuknya di bibirnya seakan menyuruhku untuk tidak melanjutkan perkatakaanku. Setelah itu dia menulis di kertas kosong itu dan memberikannya padaku.
Aku sudah memaafkanmu. Aku juga minta maaf karena telah membuatmu nggak enak hati. Jadi, kau akan tetap menjadi temanku?
“Ya, Xena. Kau akan tetap menjadi temanku. Bukan hanya sekedar teman, tapi teman baik.”kataku. Senyum pun merekah di wajah cantiknya.
***
Tiga hari berlalu. Aku tidak pernah lagi ke rumah Xena. Kesibukanku dalam menjalani masa pendidikanku di universitas membuatku jarang bertemu dengannya. Lagi pula rumahnya kosong. Katanya ada yang sakit. Sekarang mereka ada di rumah sakit. Aku tidak tahu juga pastinya siapa yang sakit. Kabar itu pun aku dengar dari seorang tetanggaku. Jadi aku memutuskan untuk menjenguk mereka di rumah sakit.
Sesampainya aku di rumah sakit, aku langsunng menuju ke kamar rumah sakit yang dimaksud. Saat aku tiba di depan kamar itu, kulihat ayah Xena sedang memeluk ibu Xena yang sedang menangis. Kalau bukan orang tua Xena yang sakit, berarti dia yang sakit. Lagi pula Xena juga tidak pernah kelihatan batang hidungnya. Berarti benar, dia yang sakit. Aku pun berjalan ke arah mereka.
“Om, Tante, ada apa? Apakah Xena baik-baik saja?”
Ibu Xena tak bisa berkata apa-apa. Dia hanya menangis di pelukan suaminya. Jantungku pun berdebar lebih kencang. Ada apa dengan Xena? Apakah dia...
“Xena baik-baik aja, Nak Andre.”jawab ayah Xena.
“Syukurlah. Tapi kenapa tante menangis, Om?”
“Xena memang baik-baik aja, tapi kembarannya, Ruu, baru aja meninggal, Nak.”
Apa? Xena punya kembaran? Tapi setahuku Xena anak tunggal. Lagi pula aku tidak pernah melihat kembarannya itu.
“Sebenarnya Xena sakit keras. Dia divonis oleh dokter bahwa dia mengidap penyakit gagal ginjal. Dia nggak pernah keluar kamar. Setiap hari dia hanya menangis dan mengurung dirinya di kamar. Dia sangat putus asa sekali. Untung saja ada Ruu, kembarannya yang selali menjadi tempat keluh kesahnya. Ruu membuat Xena ceria kembali. Yah walaupun Ruu bisu, tapi dia pandai membuat Xena tertawa.
Apa??? Ruu bisu. Jadi,..mungkinkah. Tunggu dulu.
“Om, apakah Xena bisu?”
“Nggak Nak. Xena nggak bisu. Xena normal. Tapi Ruu yang bisu. Dan Xena nggak pernah keluar kamar kecuali dia ingin makan.”
Jadi gadis yang selama ini aku temui bukan Xena tapi Ruu. Ya dia Ruu yang bisu. Dan artinya Ruu yang kukenal sebagai Xena telah...meninggal. Jantungku berdebar kencang. Aku sangat terkejut.
“Tapi kenapa Ruu bisa meninggal, Om?”
“Dia sesak nafas. Kami langsung membawanya ke rumah sakit. Sebelum dia meninggal dia berwasiat agar setelah dia meninggal dia ingin mendonorkan kedua ginjalnya kepada Xena. Sekarang Xena sedang menjalani operasi.”
***
 Beberapa saat kemudian, ruang operasi terbuka. Seorang dokter berjalan terburu-buru mendekati orang tua Xena.
“Bagaimana, dokter? Apakah operasinya berjalan lancar?”
“Ya, syukurlah Pak. Operasinya berjalan lancar. Xena sudah mendapatkan ginjal dari saudaranya dan kedua ginjalnya sudah berfungsi dengan baik.”
“Syukurlah. Apakah kami boleh melihatnya sekarang Dok?”
“Silakan, Pak. Kalau begitu saya permisi dulu.”
“Terima kasih, Dokter.”
“Sama-sama, Pak.”
Aku berjalan mengikuti kedua orang tua Xena memasuki sebuah ruangan. Aku melihat wajah Xena yang sangat mirip dengan Ruu. Yang membedakannya hanya tahi lalat kecil di pipinya. Ruu memilikinya, sedangkan Xena tidak. Dia belum sadar. Aku berada di samping kirinya sedangkan orang tuanya berada di samping kanannya. Akhirnya, dia sadar setelah obat biusnya habis. Xena membuka matanya perlahan dan melihat orang tuanya, kemudian melihatku.
Aku pikir dia akan terkejut melihatku, melihat orang yang tidak dia kenal. Tapi aku salah. Dia malah tersenyum. Senyum itu mengingatkanku pada Ruu, mirip sekali.
“Kamu pasti Andre. Ruu bercerita banyak tentangmu. Kamu orang yang sangat baik. Aku Xena, saudara kembarnya Ruu.”katanya menjabat tanganku.
Ternyata dia memang Xena. Tapi bukan Xena yang aku kenal. Dia orang yang berbeda. Dia normal. Dia tidak seperti Ruu. Aku tersenyum padanya. Ternyata orang yang aki kira Xena selama ini adalah Ruu, orang yang yang aku sapa Xena adalah Ruu. Inilah Xena yang sebenarnya. Tapi aku tidak akan melupakan Xena... eh maksudku Ruu. Senyumnya, sorotan matanya yang bening. Aku... aku tidak akan bisa melupakannya. Aku menyayanginya.
Sekarang aku berhadapan dengan orang yang berbeda tetapi wajah yang sama. Aku tidak bisa membohongi hatiku bahwa aku pun menyayangi Xena. Mungkin aku masih menganggapnya sebagai Ruu, tapi dia bukan Ruu, sama sekali bukan Ruu.
Hari itu juga hari pemakaman Ruu. Aku datang kesana dan melihat Ruu untuk yang terakhir kalinya. Ditengah kesedihanku aku merasa sangat beruntung dipertemukan dengan orang seperti Ruu, dan sekarang aku bertemu dengan orang yang mirip dengan Ruu, Xena yang aslli. Mungkin Ruu juga menginginkan aku menyayangi saudaranya. Kini aku hanya dapat berdo’a mudah-mudahnan dia diterima di sisi Tuhan. Amiin.
Fakhriyah HS