Minggu, 11 Januari 2015

Jika Kau Bertanya Kepada Pembalap

"Apa yang membuatmu menyukai pertandingan menantang maut ini?"
"Yah walaupun aku tahu kematian bisa datang menjemput kapan saja, tapi bunyi desingan motor yang menderu membuatku terus bersemangat melajukan motorku sampai kecepatan maksimal, hingga aku melewati garis finish. Aku tidak peduli apakah aku juara atau tidak. Aku hanya ingin melewati semua orang. Tak ada yang menyamai perasaan seperti itu."

Jika Kau Bertanya Kepada Arsitek

"Inspirasi terbesarmu dalam membangun sebuah bangunan yang megah dan berkelas apa?"
"Keluargaku. Aku ingin membangunkan mereka istana yang begitu megah. Melebihi istana taj mahal yang diberikan oleh (lupa nama rajanya siapa) untuk istrinya."

how sweet...

Dunia Virtual

Terkadang, orang yang sudah terlalu nyaman berada di dunia virtualnya, sudah malas kembali ke kenyataan dan memilih menarik diri dari realita.
Orang ini terlalu sering merasa tersakiti dalam kehidupan nyatanya hingga memilih mengasingkan diri di dunia virtualnya. Alasannya, dia bisa hidup sesuai apa yang diinginkannya saat dia berada di dunia virtualnya.

Be Yourself!

Apa yang orang lain pikirkan tentang dirimu bukan urusanmu. Itu urusan mereka, dan kamu tidak perlu peduli.
Persetan dengan jaga image, orang-orang tidak akan peduli. Jadi diri sendiri saja, itu jauh lebih menyenangkan. Kalau kamu orangnya gokil dan suka melakukan hal-hal konyol, kamu tidak usah malu image mu dianggap jelek. Bahkan itu terlihat menarik. Be yourself.

Selasa, 06 Januari 2015

Majas Personifikasi

Sejak aku SMP, aku sudah belajar sesuatu yang namanya "majas". Nah, ada tuh majas yang bikin aku agak-agak geli karena seakan-akan benda mati pu bisa bersifat manusia. Yup, bener banget. "Majas Personifikasi" alias gaya bahasa yang menunjukkan seakan-akan benda mati berlagak seperti manusia. Nah in nih masalahnya.
Suatu hari, aku berkunjung ke rumah sobatku yang aku juluki sebagai partnerku. Mau tau kenapa aku menjulukinya sebagai partnerku? Karena sejak kelas 2 SMA sampai kelas 3 SMA, aku selalu duduk bersebelahan dengannya. Oke, baiklah. Bukan itu masalahnya.
Jadi, saat itu aku berunjung ke rumah partnerku karena ingin barteran film. Hihi...kayka jaman baheula aja pake barteran segala. Emang jaman sekarang kagak ada duit sebagai alat tukar? tapi kalau beli film kan, lumayan mahal, coy. Bisa buat nabung uang jajan bagi kite-kite yang anak kos. \Ya ampun, pembicaraanku kok kesana kemari sih. kayak layangan tertiup angin.
Saat aku mengcopy film melalui Toshiba-nya yang berwarna merah, tiba-tiba saja netbook-nya restart sendiri. Spontan dia berteriak, "Haduuuh....Humaerah. Ada apa lagi denganmu?"
Aku langsung mendongak dan bertanya padanya "Siapa tuh Humaerah?"
Dia menjawab, "Ntu netbook ku kan namanya Humaerah." Buseet, netbook pun dikasih nama segala. Setelah itu, aku melirik ke arah netbook HP hitamku. Kalau Toshiba merah milik partnerku namanya Humaerah, berarti HP hitamku namanya Blacky dong... Anjrit...kayak nama anjing...Sialan :D

Kamis, 01 Januari 2015

A Game Of Life


Someone asked me about it long time ago. I guess the question is so interesting. "What do you think about a game of life?"
A game of life terdengar begitu elegan, ironis, namun memiliki makna yang dalam. Siapa pula yang menganggap hidup ini hanya sebagai permainan. Bukankah hidup itu hanya sekali?
Tapi aku sangat suka dengan frase "a game of life'. Walaupun terdengar menggelikan, namun sebetulnya makna yang terkandung di dalamnya jauh lebih dalam.
Dengan frase sederhana itu, hidup yang kita jalani bisa dianggap sebagai sebuha permainan yang menyenangkan. Secara tidak langsung, frase itu bisa menstimulasi otak kita untuk tidak terlalu terlarut dalam problema hidup, karena hidup itu bagaikan sebuah game. Kita hanya perlu menikmatinya saja. Bukankah begitu?

by Fakhriyah